Wukur, Surga Karang di Tepian Bukit Batu

oleh
Pantai Wukur Sikka (Foto: Ooz Gobang)
Pantai Wukur  Sikka (Foto: Ooz Gobang)
Pantai Wukur Sikka (Foto: Ooz Gobang)

| KOEPANG.COM | Wukur, Surga Karang di Tepian Bukit Batu.  Batu karang dan keganasan ombak sudah menjadi ciri khas lautan di pesisir selatan Desa Sikka, Maumere. Sahutan ombak yang pecah di atas karang yang garang selalu menjadi nada yang indah di tempat ini. Tak terkecuali desa Wukur, yang berada di ujung desa Sikka.

Wukur adalah salah satu desa di ujung desa Sikka yang bisa dicapai dengan melewati sebuah bukit batu. Menurut cerita warga setempat bahwa bukit batu itu dibom untuk membuka jalur jalan menuju ke desa Wukur.

Dulunya jalanan ke desa Wukur melewati tepian pantai yang penuh dengan karang dan disela oleh ganasnya gelombang yang menuntut setiap pejalan kaki harus bertahan dan berhati-hati saat melewatinya.

Desa yang hanya bisa dilewati oleh sepeda motor bagi yang bernyali, karena harus melewati bukitan batu dengan jalan yang menantang adrenalin.

Empat puluh menit dari kota Maumere dengan menggunakan kuda besi “Delagoza” kesayanganku menuju ke Sikka. Tidak berhenti di desa Sikka, tapi saya harus melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki untuk melewati bukit batu menuju Wukur.

Sebenarnya bisa dilewati dengan sepeda motor, tapi walaupun sudah empat kali ke Wukur, saya tetap memutuskan untuk berjalan kaki saja, lebih mengasyikan. Waktu tempuh sekitar 20 menit dengan medan yang cukup terjal.

Di bagian bawah jurang dengan pijakan yang menurut saya tidak nyaman karena landasan yang bisa longsor dan bagian atasnya adalah batu-batuan rapuh yang sesekali bisa terguling dari atas.

Sampailah saya pada tempat yang saya sebut Batu Karang Bolong. Sebenarnya belum ada nama bagi tempat ini, tapi saya spontan menyebutnya dengan Batu Karang Bolong karena memang karangnya berbentuk bolong.

Keempat kalinya saya ke tempat ini. Pada tanggal 18 Oktober 2015, untuk pertama kalinya saya melakukan foto prewedding untuk teman kantor, Ka Nasty dan Ka Jhon (kantor penulis dulu di PBF Tri Sapta Jaya sebagai Apoteker Penanggung Jawab).

Niat saya kali ini hanyalah untuk hunting moment sunset dan ganasnya ombak. Tak lupa saya mengajak salah seorang teman saya yang kebetulan baru tiba dan bertugas di Maumere.

Teman saya terlihat sangat lelah karena dipaksa berjalan selama 20 menit, mengikuti kecepatan jalan kaki saya. Namun, semuanya akan dibayar lunas dengan pemandangan yang aduhai di tempat ini. Ya saya jamin itu.

Terlihat beberapa ibu ada di tempat ini sibuk mencari siput dan kepiting untuk santap makan. Saya mencoba menyapa mereka agar lebih akrab. Kehangatan tercipta antara kami kala seorang ibu mulai memegang rambut saya yang keriting, dan dia mengatakan bahwa rambut ini terlihat seperti mie goreng. Seketika ledak tawapun pecah di tengah hantaman gelombang. Hahaha,  kami begitu akrab karena rambut ini.

Saya pun mengutarakan maksud kedatangan saya, dan mereka mempersilahkan saya untuk memotret alam di sini. Bermodal kamera seadanya, sayapun  mulai mengabadikan moment-moment dengan angle dan spot yang seksi ini.

Bukan hanya batu bolong, namun juga ada kolam kecil yang terbentuk dari batuan yang melengkung. Air dalam kolam ini bisa dijadikan salah satu spot foto dengan tema “reflection”.

Saya mencoba merasakan keganasan ombak di sini. Dengan penuh kehati-hatian, saya turun untuk mencobanya. Sensasi yang luar biasa saat tubuh yang tingginya hanya 150 cm bisa dilewati oleh ombak yang tingginya bisa mencapai 4 m. debusshhhhh…hamtaman ombak keras seakan menyeret tubuh ini.

Tidak dianjurkan untuk melakukan hal ini, karena sangat berbahaya. Bagaimana tidak? Hantaman ombak ini bisa menyeret kita, dan pastinya bisa membentur batu-batu karang yang garang. Sekali lagi tidak dianjurkan untuk melakukan ini. Seandainya tidak ada batu karang saya pastikan tempat ini akan menjadi spot surfing  paling populer di kabupaten Sikka.

Batu karang di tempat ini sangat variatif. Selain batu karang yang bolong, ada juga batu karang yang bentuknya seperti stupa yang dipahat begitu rapi, ada yang menyerupai sebuah meja besar, dan ada juga yang bentuknya seperti bangku panjang. Batuan alam ini terlihat begitu unik hingga saya sempatkan diri untuk tiduran di atas batu-batuan yang bentuknya seperti meja yang membentang luas.

Kali ini saya mendapat bonus dari tempat ini. Ya, bonus yang sangat menarik. Bonus pelangi di langit yang sudah mulai gelap.  Bayangkan betapa bahagianya saya berada di situ. Saya mendapatkan moment sunset, boleh merasakan ganasnya ombak, dan Tuhan menyuguhi pelangi yang indah di atas sana. Sungguh moment langkah, rejeki anak petualangan, hehe. Tak menyia-nyiakan keadaan ini, sayapun mengabadikan moment ini dengan kamera seadanya.

Ada satu hal membuat saya semakin bahagia karena ternyata tempat ini masih bersih, tidak ada sampah. Di sini hanya terlihat beberapa cangkang siput, kepiting yang berganti kulit. Indah sekali tempat ini. Wukur, kau berhasil membuatku jatuh cinta, dan aku takkan pernah bosan untuk mengecup keindahan alammu yang seksi. *** (Ooz)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *