Watu Gamba: Mitos Wanita Rupawan dan Titik Pusat Pulau Flores

oleh
Floresweg Geopleno, Titik Pusat Pulau Flores, Jalan Lintas Flores Km. 17 Ende

Watu Gamba: Mitos Wanita Rupawan dan Titik Pusat Pulau Flores|KOEPANG.COM| Kaki saya baru berpijak di Ende, Ansel menanyakan keberadaan saya via SMS. Saya menyampaikan baru saja tiba dari Bajawa. Semetara Max sedang olahraga sore. Saya pun harus menunggu kedatangannya.

Malam harinya, saya, Ansel dan Maxi bertemu dan memburu kuliner di kota Ende. Sebuah rumah makan yang menjajakan bebek goreng. Rumah makan ini tepat berada di pertigaan jalan garuda. Ah, saya lupa namanya.

Sekembali ke rumah, Max menyuguhkan minuman arak “bakar menyala”. Memang araknya menyala ketika disulut dengan korek api. Kata Max, setelah minum arak ini, badan akan lebih ringan.

Meskipun demikian, perasaan saya berat. Saya gelisah  terlambat bangun pagi harinya. Karena saya dan Ansel sudah mengagendakan ‘travelling’ ke Kelimutu sejak kami masih di Kupang.

Kegelisahan saya benar adanya. Saya bangun pukul 06.00. Saya melanjutkan tidur. Tiba-tiba bunyi SMS masuk, Ansel memastikan apakah saya sudah siap atau belum. Saya bergegas ke kamar mandi. Sesudahnya saya meminta Ansel menjemput saya. Tepat pukul 08.00 Wita kami meninggalkan  kota Ende.

Suasana jalan lapang. Tidak banyak kendaraan hilir mudik. Kami begerak ke arah timur dan bercerita sepanjang jalan.  Motor yang kami tumpangi melaju dalam kecepatan yang sedang.

Sebuah batu besar berdiri di bibir ruas jalan Lintas Flores – tepatnya di KM 17. Batu ini tak asing bagi pelintas di jalan ini. Termasuk penulis yang sejak kecil memang malang-melintang di jalan ini.

Apakah ada yang gerangan bertanya tentang batu ini? Barangkali tak semua pelintas yang bertanya. Lagi, termasuk penulis, sama sekali tidak terbersit sedikit pun bertanya tentang batu ini. Dalam benak penulis kala itu, ini hanyalah sebuah batu biasa yang kebetulan adanya di tempat ini.

Ka’e, ini titik pusat Pulau Flores?, “kata Ansel.

“Ah, masa? Saya tidak pernah tahu akan hal itu.”

“Yang saya heran Ka’e, darimana mereka tahu bahwa di sini titik pusat Pulau Flores.”

Di batu ini terdapat sebuah prasasti berukuran kecil. Tertulis  “Floresweg Geopeno  31 Agustus 1925”. Konon prasasti ini dibuat oleh pada masa Pemerintah Hindia Belanda.  Masyarakat setempat menyebut batu ini dengan sebutan “Watu Gamba”. Batu ini merupakan jelmaan dari seorang wanita cantik. Sementara batu yang besar yang lain (Romualdus Pius, 2015) disebutkan sebagai “Rewa Nganggo” sebagai jelmaan pria tampan. Sepasang pria dan wanita itu sering dijumpai pada malam hari (sebagaimana dimuat di hyferdy.blogspot.co.id, diakses 14/09/2015).

Selain cerita mistis di atas, yang pasti bahwa batu ini menjadi “prasasti” atau saksi sejarah yang bisu bagaimana leluhur kita bekerja di bawah paksaan penjajah untuk membuka jalan lintas Flores. Batu ini sebagaimana pada prasasti ini menjadi bukti sejarah penjajahan Belanda di tanah Flores.

Tidak hanya kisah mitologi masyarakat setempat, batu ini memang berdaya mistis.  Mengapa tidak? Batu ini tepat berada di ruas jalan yang kerap langganan longsor tetapi batu ini tetap berdiri kokoh dan tak tergoyahkan sekalipun gempa mengguncang Flores pada 1992.

Batu ini memang menyimpan 1001 cerita yang harus kita telusuri. Tidak cukup pula kita membaca pada sebuah prasasti yang tidak banyak bercerita ini. Tak salahnya, Anda dapat mampir dan foto di tempat ini. Buktikan kepada dunia bahwa Anda pernah berada di titik pusat Pulau Flores, Nusa Tenggara Timur.

Tentang Penulis: Giorgio Babo Moggi

Gambar Gravatar
Menulis adalah cara untuk mengekspresikan pendapat atau pikiran tanpa terbelenggu.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *