Timnas Indonesia: Di Lapangan Mereka Kalah, Di Luar Lapangan Mereka Menang

oleh
Timnas Indonesia 2016 (Foto: Ongisnade.Co.Id)
Timnas Indonesia 2016 (Foto: Ongisnade.Co.Id)
Timnas Indonesia 2016 (Foto: Ongisnade.Co.Id)

KOEPANG.COM – Asean Football Confederation (AFC) 2016 adalah daya magnet nasionalisme. Meskipun Indonesia ‘didera’ oleh berbagai persoalan bangsa, nasionalisme tetap utuh. Rakyat bersatu mendukung Tim Garuda hingga tangga final.

Representasi Indonesia Mini

Memperhatikan materi pemain yang berasal dari berbagai suku, golongan dan agama, kita tidak dapat pungkiri tim nasional merepresentasikan Indonesia mini. It’s the real Indonesian.

Eforia menyongsong final Indonesia vs Thaliand luar biasa. Pencinta timnas harus rela antri beli tiket. Berdesak-desakan. Di luar itu, ratusan juta pasang mata tertuju pada layar kaca pada puncak final malam ini (17/12/2016).

Thailand Unggul

Mengamati pertandingan malam ini, Thailand unggul di atas lapangan – terlepas 2 gol yang bersarang ke gawang Timnas. Thailand unggul baik secara individu maupun kolektivitas tim.

Secara individu, pemain Thailand memiliki kemampuan tingkat tinggi. Dapat dilihat dari cara mereka mengontrol bola dengan kepala, dada dan kaki. Dapat dilihat pula cara mereka melindungi bola dari lawan. Beberapa kali, aksi one man to one man, bola sulit lepas dari kaki pemain Thailand. Tak kalah hebat juga, tendangan mereka terukur dan terarah.

Secara kolektif, Thailand adalah perpaduan individu-individu yang berteknik ini sehingga membentuk sebuah tim yang utuh. Pelatih mampu mengelaborasi keunggulan individu-individu menjadi keunggulan tim. Hampir praktis, pemandangan malam ini, kemenangan Thailand adalah kemenangan tim. Koletivitas tim memang sangat menonjol. Sehingga dapat kita lihat, bola di kaki pemain Indonesia mudah direbut. Penguasaan bola pun didominasi oleh pemain Thailand.

Beda Kelas, Kelas Beda

Sebaliknya, Indonesia tidak memiliki kelebihan yang dimiliki Thailand. Ya, kita boleh bilang bahwa pemain Indonesia adalah kumpulan pemain profesional yang memiliki skill yang tak kalah dari partisipan AFC. Buktinya, Indonesia menembus babak final.

Karena tujuan sepak bola adalah gol, kerap kita abaikan hal-hal teknis seperti seni sepak bola. Seni sepak bola dapat dilihat dari cara pemain memerankan teknik passing, kontrol bola dan sebagainya.

Gol itu melalui proses. Proses itu melalui rangkaian pergerakan yang indah baik dengan maupun tanpa bola. Memperlihat kerja sama yang dikombinasi dengan skill individu. Pemain Timnas kadang abaikan hal ini.

Garuda muda mengandalkan kecepatan, tetapi mereka mengabaikan teknik sepak bola yang menyajikan estetika. Hakekatnya, sepak bola adalah seniman lapangan hijau. Lapangan adalah kanvas bagi para pemain untuk melukis dengan kuas yang adalah tubuh mereka sendiri. Kita dapat dilihat betapa indahnya Messi men-drible bola. Ronaldo melakukan akselarasi dengan berbagai gerakan tipu. Itu sebagai contoh. Penonton pun terhibur.

Pemain Timnas tentu memiliki teknik pula. Tetapi secara individu maupun tim, pada partai puncak ini mereka tidak tampil secara maksimal. Passing tidak terukur. Sulit menyetop bola. Bola gampang lepas dari kaki. Serangan gampal dimentalkan lawan. Dan, masih banyak kelemahan Timnas Indonesia. Adalah benar apa yang dikatakan oleh  George Soge Soo, sahabat saya pada halaman facebooknya.

Ndoe harus diakui kita beda kelas. Thailand memang layak juara.”

Pernyataan sahabat saya cukup mewakili para penonton yang kecewa dengan permainan Timnas malam ini. Ya, pasti banyak penonton yang kecewa. Meskipun banyak suporter menghibur diri dengan status yang bertebaran di media sosial,.

“Kegagalan adalah keberhasilan yang tertunda.”

Memaknai Kegagalan

Kegagalan Timnas malam ini tentu menyebabkan para pencinta sepak setanah air tidur tidak nyenyak. Impian Timnas Nasional untuk memecahkan sejarah pada ajang AFC terganjal.  Thailand belum rela memberikan ruang bagi Timnas untuk menciptakan sejarah.

Namanya pertandingan, ada yang kalah dan menang. Tidak mustahil, kelak Indonesia akan menciptakn sejarah. Timnas butuh waktu untuk berbenah sehingga membentuk tim yang tangguh. Untuk pelatih dan para pemain mengambil momentum ini untuk mengintropeksi diri.

Pertama, kemenangan yang terbesar adalah mengakui keunggulan lawan. Dengan cara ini kita memiliki kesempatan untuk intropeksi diri dan tidak jumawa.

Kedua, penguasaan teknik sepak bola harus dimaksimalkan misalnya teknik passing yang terukur dan akurat, kontrol bola yang tepat, dan sejumlah teknik lain yang menjadi dasar-dasar sepak bola. Bila perlu cara jatuh pun harus berteknik. Untuk itu, para pemain harus mengasah kemampuan diri dengan banyak berlatih. Fasilitas latihan dengan berbagai perangkat yang dapat digunakan sebagai simulator merupakan hal yang sangat penting. Misalnya, bagaimana melatih pemain untuk menendang bola dengan sasaran dan jarak yang tepat.

Ketiga, jika pemain memiliki skill individu yang mumpuni tak dapat dipungkiri koletivitas tim dapat dibentuk. Bukankah kolektivitas tim merupakan perpaduan yang serasi antar individu dengan individu yang lain. Kolektivitas terbentuk setelah pemain skill individu yang dapat dipadukan dengan pemain lain.

Keempat, sepak bola tidak hanya mengandalkan otot, juga otak. Dengan kata lain, sepak bola tidak andalkan kemampuan fisik semata. Pemain harus dirangsang kemampuan intelegensianya. Hal ini penting dalam rangka membentuk karakter pemain. Pemain yang memiliki intelegensi dapat mengambil  sikap atau keputusan yang tepat pada setiap langkah kaki di lapangan hijau.

Apapun hasil pertandingan malam ini, penulis tetap mengapresiasi perjuangan garuda-garuda muda. Di lapangan mereka kalah, tetapi di luar lapangan mereka berhasil menyatukan anak bangsa dalam eforia yang luar biasa. Untuk melukiskan ini, penulis mengutip status Brian Dopo, pengurus PSN Fans Club, di halaman Group PSN Fans Club.

“Sepakbola itu universal, milik semua orang. Bagi orang Ngada sepakbola itu bukan sekadar olahraga permainan tetapi telah menjadi kultur, bahasa, hiburan, penyatu kelas, kebahagiaan, sebuah pelarian dari kenyataan hidup yang pahit, bahkan hampir menjadi seperti agama”.

Kata-kata Brian Dopo memang ditujukan untuk tim PSN Ngada yang baru menyudahi laga final Liga Nusantara 2016 di Stadion Manahan Solo. Kata-kata ini pula bisa ditujukan  untuk Tim Garuda dan sepak bola Indonesia. Malam ini menjadi ajang pembuktian pernyataan tersebut. Seluruh bangsa bersatu mendukung Timnas berlaga di Thailand tanpa memandang perbedaan. ***

Tentang Penulis: Giorgio Babo Moggi

Gambar Gravatar
Menulis adalah cara untuk mengekspresikan pendapat atau pikiran tanpa terbelenggu.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *