Terpesona Kota Ruteng, Bikin Hati Berat Bale Kupang

oleh
Persawahan Watu Alo (Foto: Dok. Pribadi)

KOEPANG.COM – Kota Ruteng memesona. Kesan ini menguak kala penulis memandang dari balik jendela burung besi dalam perjalanan pulang-pergi ke kota di bawah Mandasawu ini.

Ruteng memang kota dengan landscape unik. Kakak Linda Bolengmengomentari Ruteng sebagai kota yang indah selain Temanggung. Bagi kita yang sering berpergian, kita dihadapkan dengan pemandangan kota yang hampir serupa beberapa kota di Pulau Jawa.

Bukan saja landscape kota yang menjadikan Ruteng memesona. Barisan pegununungan di belakang menjadi benteng yang kokoh. Tumbuh suburnya tumbuhan tropis yang menjadi penyangga hujan. Sumber mata air yang menghidupkan warga kota. Menumbuhkan asa yang menggantungkan hidup pada sektor pertanian.

Ruteng dalam rekaman lensa (Foto: Dok. Pribadi)

Pesona Ruteng kak kenal musim. Musim panas atau musim hujan. Ruteng tetap menjadi Ruteng. Dingin. Senantiasa diguyur hujan. Bila kota Bogor dijuluki kota hujan, Ruteng bisa dijuluki serupa untuk kota di Pulau Flores ini.

Hamparan sawah, sisi lain wajah kota Ruteng. Penataan sawah yang sangat rapih dan berpola tertentu. Pertumbuhan kota menggerus kawasan persawahan. Namun kita masih menjumpai atau melihat dari udara persawahan di tengah kepungan rumah penduduk. Atau, sedikit bergerak ke luar kota, kita akan menemukan hamparan sawah yang memikat hati.

Ruteng dalam rekaman lensa (Foto: Dok. Pribadi)

Keindahan persawahan tercipta karena penataan sawah itu sendiri. Masyarakat Manggarai sangat kuat dengan budaya dan tradisi. Dalam hal pembagian sawah pun mengikuti pola-pola tertentu. Seperti yang kita lihat persawahan di Cancar mengikuti sistim “lodok” – seperti jaring laba-laba raksasa. Sistem “lodok” ini kita mudah jumpai di area persawahan di seluruh Manggarai. Menjadi keunikan dan daya tarik agro wisata. Persawahan Cancar misalnya telah menjadi salah satu destinasi wisata unggulan di Manggarai.

Terbius oleh pemandangan dari udara, usai melaksanakan tugas, saya meluangkan waktu melanglang buana ke persawahan di luar kota Ruteng. Epunk menyarankan saya ke Watu Alo yang terletak di ruas jalan Ruteng-Reo.

Kami meninggalkan kota Ruteng diiringi gerimis. Tak lorotkan niat dan semangat bertualang. Kami berhenti beberapa titik sekedar foto dan abadikan moment senja. Di sebuah tikungan, saya meminta Epunk membelokan motornya ke arah bukit sawah.

Tentang Penulis: Giorgio Babo Moggi

Gambar Gravatar
Menulis adalah cara untuk mengekspresikan pendapat atau pikiran tanpa terbelenggu.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *