Taman Bunga Dapat Menjadi Salah Satu Daya Tarik Wisata Baru di NTT

oleh
Taman Bunga Kemah Tabor (Foto: Facebook.Com/Joeni Hartanto)
Taman Bunga Kemah Tabor (Foto: Facebook.Com/Joeni Hartanto)

| KOEPANG.COM | Taman Bunga Dapat Menjadi Salah Satu Daya Tarik Wisata Baru di NTT. Flores memiliki suhu atau temperatur yang bervariasi. Suhu di daerah pesisir pasti lebih tinggi, sebaliknya kawasan pegunungan suhu lebih rendah. Kondisi suhu rendah merupakan pilihan tepat bagi misionaris untuk beradaptasi dengan suhu yang tidak biasanya bagi mereka. Jaman itu belum ada AC (Air Conditioner)

Kehadiran mereka di tempat-tempat tersebut membawa dampak perubahan yang dapat dilihat secara kasat mata. Perubahan yang paling menonjol adalah gaya arsitektur bangunan biara dan gereja baik eksterior maupun interiornya. Pengaruh arsitektur Eropa sangat kental. Contoh rumah Kemah Tabor di Mataloko.

Perubahan lain adalah lingkungan dimana mereka tinggal memiliki taman yang indah. Dipenuhi pepohanan dan aneka tanaman bunga. Cobalah sesekali anda masuk ke kompleks STKIP Ruteng, Seminari Kisol, Seminari Mataloko atau Seminari Tinggi Ritapiret. Berbagai jenis bunga ada di dalamnya.

Dari pengalaman para misionaris ini, sebenarnya, kita dapat mengembangkan wisata baru di Flores atau di Pulau Timor, yakni wisata bunga. Tentu kita semua tahu negeri Belanda terkenal dengan berbagai varian bunga Tulip. Bunga ini menjadi salah satu daya tarik wisata.

Pertanyaan, mengapa kita tidak dapat melakukan hal yang sama seperti Belanda? Bukan alam kita sangat mendukung untuk tujuan itu. Melihat di foto ini, anda pasti akan terkesima. Anda pasti membayangkan sebuah taman di Eropa. Ternyata, oh ternyata, taman di Kemah Tabor, Seminari Yohanes Berchmans Mataloko, Kabupaten Ngada.

Kita mungkin terlalu jauh-jauh ke Eropa. Kita bisa tiru contoh taman bunga di Gunung Kidul yang pernah gempar lantaran dirusak pengunjung yang hanya mau selfi dan eksis di dunia maya.

Secara geografis dan klimatologis, wilayah kita tidak beda jauh dengan Gunung Kidul. Bahkan beberapa wilayah yang saya maksudkan lebih dingin daripada Gunung Kidul. Mungkin setara dengan alam di Puncak atau Mega Mendung Bogor. Mengapa kawasan itu tidak kita jadikan taman bunga? Bukankah para misionaris sudah membuka jalan? Sulit dibayangkan tatkala berada di taman dengan aneka bunga sementara rumbai kabut tampak di kejauhan. Rasanya seperti berada di dunia lain. Dunia benua biru. Orang akan mudah terkecoh, ternyata di Flores, Soe, atau di Mutis Timau. Itu pun jika kita mau melakukannya.

Melihat aneka tidak bunga tidak harus ke Eropa. Datanglah ke Mataloko. Seperti halnya warga Australia, jika hendak memandang wajah Eropa, maka datanglah ke Melbourne – tampak dari arsitektur bangunan di ibukota Negara Bagian Victoria ini. ***

 

Tentang Penulis: Giorgio Babo Moggi

Gambar Gravatar
Menulis adalah cara untuk mengekspresikan pendapat atau pikiran tanpa terbelenggu.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *