Susuri Lorong Rindu Menuju Kediaman Pater Ernst Wasser, Sang Guru, Pendiri dan Pendidik Almamater

oleh

KOEPANG.COM – Lama nian hasrat untuk mengunjungi sang guru dan inspirator Pater Ernst Wasser SVD. Pendiri dan pendidik Lembaga Pendidikan St. Klaus Kuwu. Tapi hasrat itu tak pernah kesampaian sejak saya tinggalkan almamater dua puluh tiga tahun silam.

Sejak diterima lembaga pendidikan yang didirikannya, saya telah diperlakukan secara istimewa olehnya. Betapa tidak! Saya diterima di SMP St. Klaus sebagai murid pindahan di kelas dua. Biasanya, lembaga pendidikan ini tidak terima siswa pindahan dari sekolahan manapun. Selain itu, meja makan saya bergabung dengan siswa SMA. Biasanya, meja makan dipisahkan berdasarkan jenjang pendidikan dan jenis kelamin.

Tak berhenti di situ. Saya ditempatkan pada kamar tidur yang tak jauh dari kamar makan. Kecuali, kamar mandi. Saya harus turun naik tangga. Semua pengalaman itu, terjawab beberapa tahun kemudian setelah pertualanganku ke Bali dan Australia. Manakala saya berinteraksi dengan orang barat. Alasannya, aksebilitas!

Pater Wasser memang sosok yang unik. Pekerja keras. Disiplin. Peduli. Saya pun pernah mendapat ujian darinya. Diijinkan meneruskan pendidikan SMA meskipun saya memiliki rapor merah dengan satu catatan khusus.

“Kraeng [Pater manyapa saya], saya beri kesempatan. Kalau kraeng berubah, kraeng bertahan di sini [St. Klaus], jika tidak, kraeng angkat kaki dari sini.”

Kata-kata itu terbawa terus. Terngiang di telinga hingga kini. Kata-kata berdaya lecutan hingga akhirnya saya berikrar pada diri untuk berubah agar diberi kesempatan melanjutkan pendidikan di St. Klaus.

Karena rapor merah itu, Pater sedikit ada jarak dengan saya. Tak seperti biasanya ia menyapa atau menanyakan perihal keseharian di asrama. Sejak itu, ia agak serius. Namun demikian, saya tidak pernah kehilangan hak-hak sebagai anak didikannya.

Sekali waktu, menjelang tamat SMA, ia memanggil kami satu per satu. Ia meminta kami menggambar sesuatu lalu ia mulai mewawancarai kami dengan satu pertanyaan; lanjut kemana setelah tamat nanti?

Beberapa teman-teman menjawab akan melanjutkan studi ke Seminari Tinggi, lainnya melanjutkan pendidikan di Pulau Jawa. Saya adalah salah satu di antaranya, yang bercita-cita  menjadi seorang arsitektur.

Pater memiliki karisma. Beberapa teman-teman yang menyatakan untuk melanjutkan pendidikan di Seminari Tinggi, ia malah sarankan untuk lanjutkan ke STKIP Ruteng atau perguruan tinggi lainnya. Pater tak banyak berbicara atau memberi alasan. Dia hanya mengarahkan. Dan, Pater tak pernah salah. Orangnya yang disarankan biasanya gagal melanjutkan hingga tahbisan imamat. Di tengah perjalanan, mereka memilih jalur awam.

Pater Wasser tak pernah memaksa teman-teman untuk memilih ordo ini atau ordo itu. Ia memberikan kebebasan penuh kepada anak didiknya. Bahkan ia menyarankan teman-teman untuk kuliah di perguruan tinggi umum kemudian baru memutuskan masuk biara atau tidak.

Kembali tentang kerinduanku pada sosok sang guru. November lalu, Pater Wasser terkapar karena sakit. Opname di Surabaya kemudian dirujuk ke Rumah Sakit St. Carolus. Di Facebook, juga di Whatsapp, saya menyaksikan rekan-rekan sesama alumninya mengunjunginya. Saya melihat begitu bahagia. Begitu pula Pater. Pada momentum perjumpaan itu terselip kebahagian, sukacita dan bangga. Saya yakin semua rekan-rekan hanya mau mengucapkan terimakasih kepada Pater atas jasa-jasanya. Karena titik pencapaian kami hari ini tak terpisahkan atau terlepas dari perannya.

Jasanya besar. Karena ia telah menulari kami spirit persaudaraan yang merupakan spiritualitas pelindung lembaga pendidikan, St. Klaus von Flue. Karena itu, tak ada sekat atau jarak, relasi kami dengan sesama alumni dan para pendidik. Keakraban terbina dan terawat hingga kini.

Menyaksikan suasana di Jakarta, memicu kecemburuan pula. Mengapa tidak? Bayangkan, ketika saya bersusah payah untuk mendapatkan kesempatan tugas ke Manggarai, dengan harapan dapat bertemu Pater Wasser, ternyata beliau sakit dan opname di Jakarta. Teman-teman di Jakarta dapat mengunjunginya, sementara saya bersusah payah untuk mendapatkan kesempatan itu.

Meskipun demikian, kerinduanku padanya tak pupus. Dalam bathin, saya terus berdoa agar kesempatan itu datang juga bagi saya. Kerinduanku bukan hanya persoalan pada perjumpaan dan nostalgia melainkan kerinduanku pada urapan tangan imamatnya di atas kepalaku. Doa itu terjawab. Kesempatan ke Ruteng datang lagi bertepatan dengan Pater telah kembali ke istana-­nya di Wangkung.

Sehari di Ruteng, saya menghubungi Bapak Maksi Mbanggur, guru agamaku, untuk menanyakan keberadaan Pater sekaligus memohon ijin darinya. Saya diberi jawaban, Pater lagi beristirahat di Wangkung. Bapak Maksi memberikan nomor kontak, salah satu anak angkat Pater. Saya segera menghubunginya. Tapi saya tak mendapatkan kabar yang pasti. Saya kemudian menyampaikan niat kepada dua sahabat saya, Ansy Pau dan Vitalis Mampul. Mereka menyarankan saya langsung ke Wangkung saja.

Keesokan harinya, saya ditemani Vitalis berangkat ke Wangkung. Setengah sembilan kami tiba di rumah Pater. Sopirnya lalu menyampaikan maksud dan tujuan kedatangan kami kepada asisten Pater. Tak kemudian kami mendengar langkah kaki seirama dengan hentakan tongkat ke keramik. Semakin lama, semakin jelas suara langkah itu.  Pater menampakan wajahnya. Perasaan haru. Air mata nyaris saja gugur bila saya tak memendamkan perasaan rindu sekuat tenaga. Pater menyunggingkan senyum. Kami satu per satu menyalami dan mencium tangannya. Pater pun duduk pada kursi yang telah tersedia dan disaksikan oleh asistennya.

“Kamu, dosen khan?” Tanyanya.

Saya agak terkejut. Artinya, selama ini Pater selalu mengikuti jejak langkah kami. Sesuatu yang tak dibayangkan oleh saya.

“Itu dulu Pater. Saya sudah pindah kerja sejak tahun 2009.”

Pater sangat bahagia dengan perjumpaan itu. Ia begitu bersemangat bercerita tentang rencana proyek air minum di Labuan Bajo.

Pater seolah tak merasa sedang sakit. Pikirannya terarah pada niat untuk membantu masyarakat di Labuan Bajo. Katanya, masyarakat Labuan Bajo susah air. Ia mau membantu masyarakat.

“Saya bukan pemimpin. Saya bukan orang bisnis. Saya hanya mau menolong orang yang membutuhkannya.”

“Pater istirahat dulu baru memikirkan proyek.” Sahut sahabat saya, Vitalis.

“Iya, tapi masyarakat membutuhkan air.” Jawabnya.

Dalam kondisi perawatan, Pater begitu bersemangat berbicara tentang pembangunan. Hal ini dapat dimaklumi. Jiwa dan pengorbannya total untuk pembangunan di Manggarai. Siapa yang tak mengenal sosoknya. Karena itu kita sulit untuk menghentikannya. Baginya, perjuangannya dan kerjanya hingga ajal menjemput.

Dalam dialog itu, Pater masih memiliki satu misi khusus, yakni perhatiannya pada guru-guru. Ia menginginkan guru-guru memiliki asosiasi atau organisasi. Pengamatanya, guru-guru saat ini mengalami degradasi.

“Bagaimana mereka menuntut siswa disiplin sementara mereka sendiri tidak disiplin.”

Pater risau dengan masa depan anak-anak Manggarai. Karena itu ia bercita-cita untuk “menata” para guru atau pendidik. Dan, ia memerlukan wadah yang mengayomi para guru.

Dari masalah pendidikan, percakapan kami berpindah topik. Tentang masa depan Gereja di Manggarai. Pater berkisah dikunjungi Mgr. Sipri Hormat sebelum pengumuman resmi dari tahta suci. Pater tampak bahagia dengan kehadiran uskup baru di rumah sakit. Ia berharap di bawah tongkat kegembalaan Mgr. Sipri Hormat, masa depan Gereka Katolik di Manggarai akan lebih baik. Ia sempat menyentil hubungan yang tak harmonis dengan kepemimpinan gereja lokal sebelumnya tanpa ia membeberkan alasan.

Di akhir perjumpaan itu, Pater mengungkapkan pujian, kebahagiaan dan kebanggaan akan alumni yang telah mengunjungi dan menghiburnya selama ia dirawat di Rumah Sakit St. Karolus Jakarta.  Pujian itu diucapkan berkali-kali. Ia menitipkan pesan untuk meninggalkan nomor telepon semua alumni. Ia mengumpulkan dan suatu waktu akan menghubunginya.

“Saya belum punya nomor telepon alumni di Kupang.” Tuturnya.

“Kami di Kupang tak banyak. Angkatan saya, kami berempat. Saya, Servas, Rocky dan Jimmy. Beberapa orang adik kelas. Ada Patris dan Mat Tampus. Saya berjanji akan memediasi teman-teman.” Saya menjawab.

Tak terasa kami telah duduk setengah jam di ruang tamu kediamannya. Pater mengucapkan terimakasih karena telah mengunjunginya. Padahal, kamilah yang harus berterima kasih. Dalam kondisi kurang sehat (belum sembuh total), Pater rela menemui kami. Sebelum kami berpisah, saya memohon berkat darinya. Ia menumpangi tangannya di kepalaku, berdoa dan memberkarti kami satu per satu. Berkat itu menyempurnakan pertemuan pagi itu.

Dalam perjalanan pulang, saya membathin dan merenungi ucapan Pater, “Saya bukan pemimpin. Saya bukan orang bisnis.” Pater memang benar. Ia memang pemimpin. Pendiri dan ketua yayasan. Pastor paroki pula. Posisi yang dicapai dalam karier imamatnya. Tetapi dalam praktek hidupnya, ia memerankan diri sebagai pelayan selaras dengan Sang Guru Sejati, Yesus Kristus. “Aku datang bukan untuk dilayani melainkan untuk melayani.” Pater memaknai kalimat itu dalam praktek hidupnya. Karena itu terus dan terus membangun Manggarai semata-mata untuk menolong orang-orang yang membutuhkannya – termasuk membangun mesjid untuk umat Muslim. Ia membangun tanpa menghitung untung dan rugi karena ia bukan seorang bussinessman. Yang pertama dan utama baginya adalah kualitas daripada setiap jejak karya meskipun ia harus menelan kerugian.

Terimakasih guruku, inspirator dan idolaku atas jasa-jasamu bagi diriku dan masyarakat Manggarai. ***

 

Tentang Penulis: Giorgio Babo Moggi

Gambar Gravatar
Menulis adalah cara untuk mengekspresikan pendapat atau pikiran tanpa terbelenggu.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *