SMAS Regina Pacis Bajawa: Literasi Sumber Edukasi

oleh
Majalah Dinding SMAS Regina Pacis Bajawa

SMAS Regina Pacis Bajawa: Literasi Sumber Edukasi |KOEPANG.COM| Hawa kota Bajawa menusuk sum-sum. Rasa-rasanya saya enggan beranjak dari tempat tidur. Membungkus raga dengan selimut hingga tengah hari. Tapi saya teringat dengan panggilan tugas, saya bergegas bangun dan seruput kopi hitam yang telah disiapkan petugas hotel sebelum beranjak ke kamar mandi.

Kopi panas belum mampu menghangatkan tubuh sepenuhnya. Saya pun memberanikan diri masuk kamar mandi. Mencipratkan air ke tubuh. Ternyata semakin disiram, tubuh semakin terasa hangat.  Ketakutan pada kedinginan pun ditaklukan, meski pertama kali saya merasakan seperti meceburkan diri ke dalam kolam es.

Mengingat tujuan kedatangan saya di kota ini, maka saya harus melawan kegelisahan. Empat sekolah yang harus saya kunjungi,  SMAS Regina Pacis menjadi salah satu titik tuju.

Bantuan tukang ojek, saya diantar ke Regina Pacis. Sesampai di sana, kegiatan belajar sedang berlangsung. Suasana tampak tenang. Beberapa guru keluar masuk kelas.  Satpam mengarahkan saya ke ruang guru dan menemui seorang wakil kepala sekolah. Saya melaporkan tujuan dan beberapa saat kemudian pindah ke ruang baca.

Menunggu mereka mempersiapkan berkas yang saya butuhkan, saya keluar dan berdiri di teras sambil mengamati  papan berkaca yang mana menjadi media memamerkan hasil karya cipta siswa. Ada beragam macam karya. Puisi, cerpen, karikatur dan sebagainya.

Penulis di antara pustakawan dan siswa Regina Pacis

Dari teras saya berpindah ke ruang perpustakaan. Saya penasaran dengan isinya.  Saya masuk dan menyapa petugas. Ibu Anike, salah seorang pustakawan di sekolah tersebut, menyambut kedatangan saya  dengan senyum ramah yang mencairkan kebekuaan suasana dan hawa dingin kota Bajawa.

“Berapa banyak koleksi buku, Bu?” Saya membuka percakapan.

“Dua puluh enam ribu eksemplar.”

“Bagaimana kiat sekolah membangkitkan minat baca siswa?”

“Siswa kelas tiga diwajibkan untuk membaca sepuluh buku per semester. Lima buku fiksi, lima buku non fiksi.”

“Apakah kewajiban itu berlaku untuk semua siswa?”

“Tidak. Kelas 3 saja. Ini merupakan bagian dari tugas Matapelajaran Bahasa Indonesia. Setelah membaca, mereka diwajibkan menulis. Karya mereka diperiksa dan nilai oleh guru.”

“Lalu bagaimana dengan minat baca siswa kelas 1 dan 2?”

“Minat baca mereka juga tinggi. Hampir setiap pelajaran berlangsung mereka selalu datang pinjam buku di perpustakaan.”

“Bagaimana dengan ketersediaan buku? Apakah memenuhi kebutuhan siswa?”

“Ketersediaan buku cukup untuk kebutuhan siswa.”

“Apakah sistem pengelolaan perpustakaan sudah terkomputerisasi?”

“Belum, Pak. Kami lakukan secara manual. Mencatat transaksi peminjaman di buku.”

Di penghujung percakapan, kami saling sharing bagaimana menumbuhkan minat baca di kalangan pelajar.

Penjelasan ibu Anike tidak sekedar lip service. Testimoni dapat dilihat pada hasil karya siswa yang ditempel di papan kaca. Kemajuan teknologi informasi tidak mengeliminir media publikasi yang namanya “majalah dinding”. Banyak penulis produktif asal NTT berangkat dari budaya menulis di “majalah dinding”. Saya sebut saja sekolah seperti seminari Kisol, seminari Mataloko, SMA Syuradikara, SMA St. Klaus dan lain-lain memiliki media “majalah dinding”. Media publikasi ini ada jauh sebelum keberadaan teknologi informasi seperti blog dan facebook.

Keberadaan teknologi internet memang sangat memanjakan generasi milenia. Untuk mengerjakan tugas, mereka hanya dengan mudah search di internet. Tak butuh menyadur, modalkan copy paste. Mereka dimudahkan dengan hanya menekan tuts komputer, laptop, dan handphone daripada menulis dengan tangan pada selembar kertas atau buku.

Di sini, Regina Pacis, majalah dinding masih eksis  – wadah menuangkan ide dan ekspresi siswa. Majalah dinding menjadi pilihan yang paling tepat selain di media sosial seperti blog dan facebook. Siswa dapat berlomba-lomba menulis. Ini menjadi budaya positif dan kompetitif.

Penulis bersama para guru SMAS Regina Pacis Bajawa

Dari pengamatan ini, saya menarik kesimpulan bahwa membaca saja tidak cukup. Kata Najwa Shihab, dengan membaca orang menjadi kritis. Menjadi tahu, bukan pula sok tahu. Maka langkah berikut adalah orang tidak berhenti pada aktivitas membaca, tapi mereka harus menulis.

Benar kata seorang penyair muda Indonesia asal NTT, Bara Pattiradja, pada kunjungan Najwa Shihab di di NTT (11/08/2017).

“Anda membaca, anda membangun pengetahuan. Anda menulis, anda memproduksi pengetahuan”.

Lantas, bagaimana sekolah lain membudayakan literasi?

Tentang Penulis: Giorgio Babo Moggi

Gambar Gravatar
Menulis adalah cara untuk mengekspresikan pendapat atau pikiran tanpa terbelenggu.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *