Sindiran dan Pesan Jokowi Saat Mengenakan Baju Motif Ende-Lio di TKP Bom Sarinah

oleh

KOEPANG.COM – Joko Widodo adalah sosok unik di balik trend fashion politik. Pilgub DKI Jakarta 2013, Jokowi memilih ‘baju kotak-kotak’ sebagai ‘jersey politik’ utama dirinya dan pasangan, Ahok.

Popularitas ‘baju kotak-kotak’ mewabah ke seluruh negeri dan dunia dimana orang Indonesia yang mengidolakan Jokowi berada. Menjadi model fashion pada waktu itu. Apapun motif atau warna ‘baju kotak-kotak’, orang lalu mengasosiasikan dengan sosok Jokowi.

Ketika ia dan JK dicalonkan sebagai presiden RI, Jokowi memilih baju kameja putih – meninggalkan ‘baju kotak-kotak’. Ia bahkan menanggalkan atribut partai sebagai ‘jersey politik’.

Setiap pilihan Jokowi selalu menarik simpati. Karena unik dan mengandung pesan falsafati yang kuat. Di sisi fashion, Jokowi tampil beda. Sebagai pemimpin yang memiliki caranya sendiri untuk menentunkan fashion politik.

Pada Pembukaan Rakernas PDIP yang lalu (10/1/16), Jokowi menanggalkan atribut PDIP, partai yang membesarkannya. Sementara kader PDIP seluruhnya mengenakan busana nuansa merah. Jokowi hadir dalam kapasitas sebagai publik figur. Presiden untuk semua orang. Bukan presiden untuk PDIP. Kira-kira demikian, alasan yang mungkin didengungkannya dalam hati kecilnya.

Soal fashion Jokowi punya selera unik jika dibandingkan dengan beberapa presiden terdahulu.  Ya, bukan namanya Jokowi kalau tidak ‘aneh-aneh’. Trend fashion Jokowi saat inilah mengenakan baju bermotif daerah antara lain baju tenun dari beberapa etnis di Nusa Tenggara Timur.

Pasca peristiwa bom Sarinah, Jokowi datang untuk kali kedua ke lokasi kejadian perkara. Hal yang unik adalah terkait dengan baju yang dikenakan oleh presiden. Baju safari berbahan dasar motif tenun ikat dari kampung Ngela, Kabupaten Ende, Nusa Tenggara Timur. Bukan baru kali ini saja Jokowi mengenakan baju tenun NTT. Dalam setiap rangkaian tugas atau acaranya Jokowi mengenakan motif dari daerah lain di Nusa Tenggara Timur.

[irp posts=”327″ name=”Jokowi, Kosa Kata Baru dalam Kepemimpinan Nasional”][irp posts=”319″ name=”Foto Jokowi di Raja Ampat, Cara Jokowi Membahasakan Dirinya”][irp posts=”524″ name=”Menteri Jokowi Sibuk Cari Pinggung Sendiri, Rindu Moerdiono Kembali”]Cara sederhana ala Jokowi ini tanpa disengaja ia telah menjadi bintang iklan tenun ikat NTT. Bintang iklan tanpa bayaran. Masyarakat NTT patut berbangga, karya ibu-ibu di kampung digunakan oleh Jokowi.

Jokowi tidak saja peduli pada kondisi alam lalu ia memperjuangkan pembangunan tujuh waduk di NTT, ia juga peduli peningkatan ekonomi kreatif masyarakat kecil. Salah satunya sektor industri rumah tangga seperti kerajinan tenun ikat.

Dengan ia mengenakan baju berbagai motif asal NTT, Jokowi telah mengangkat derajat tenun ikat ke level nasional. Bukan tidak mungkin, tenun ikat asal NTT akan merambah ke dunia fashion para pejabat di negeri ini.

Jokowi telah menempuh cara yang tepat dan sederhana. Mengenakan berbagai baju tenun NTT adalah promosi yang tepat. Caranya ini akan menginspirasi para petinggi lain di negeri ini. Meskipun di sisi lain ‘mencambuk’ putra daerah NTT yang berkiprah di level nasional untuk terus mempromosikan kekayanan motif tenun ikat NTT. Jika Jokowi, yang notabene bukan orang NTT, lantas bagaimana dengan tokoh-tokoh kebanggan NTT yang duduk di Senayan sana? Akankah mereka mengenakan jas motif NTT dalam berbagai rapat dewan? Ataukah mereka merasa lebih terhormat mengenakan jas partai? Entahlah, hanya mereka dan Tuhan yang tahu.

Melalui moment ini (baca: kunjungan ke Sarinah dengan mengenakan baju motif Ende Lio), Jokowi hendak berpesan; JANGAN TAKUT. Bukan saja jangan takut pada teroris(me). Pula jangan takut (apalagi malu) untuk mengenakan produk-produk lokal. Bukankah hasil tenun tradisonal NTT adalah bagian dari karya peradaban masa lalu yang masih lestari dan bercita rasa seni tinggi? *** (Foto Feature : Facebook.Com)

Tentang Penulis: Giorgio Babo Moggi

Gambar Gravatar
Menulis adalah cara untuk mengekspresikan pendapat atau pikiran tanpa terbelenggu.