Siapa yang Tidak Puas Perse Ende Juara Turnamen ETMC 2017?

oleh
Piala ELTARI (Foto: Bolasport.Com)
Piala ELTARI (Foto: Bolasport.Com)

| KOEPANG.COM | Siapa yang Tidak Puas Perse Ende Juara Turnamen ETMC 2017?  Kericuhan partai pamungkas Turnamen El Tari Memorial Cup (ETMC) 2017 antara Perse Ende dengan PSN Ngada masih menjadi ‘litani’ panjang –  didengungkan, didiskusikan dan diperdebatkan. Sejuta tanya kepada pihak yang terlibat dan berkompeten dengan perhelatan sepak bola terakbar di NTT ini, tapi hingga kini jawabannya masih samar. Orang pun hanya menebak-nebak, menilai dan menarik kesimpulan berdasarkan persepsi masing-masing dari apa yang dilihat, ditonton, didengar baik langsung maupun tidak langsung (lewat layar live streaming).

Bupati Ende, Marsel Petu, pada upacara bendera Peringatan Hari Kemerdekaan RI ke-72 di Ende mensinyalir ada pihak-pihak yang tidak puas dengan pencapaian Perse Ende menjuarai Turnamen ETMC 2017 (Tribunnews.Com, 18/08/2017). Pernyataan Bupati Marsel membias dan menimbulkan pertanyaan baru. Siapakah gerangan yang dimaksudkan Bupati Ende?

Dalam pandangan penulis, pernyataan bupati sangat politis. Pertama, Bupati Ende sedang membangun opini publik sebagai pihak yang “dizolimi”. Pernyataan ini terkesan mencuci tangan dari persoalan kekisruhan yang terjadi. Ia hendak mengatakan kepada masyarakat “yang baik adalah saya” dan “yang buruk bukan saya tapi sebab mereka”. Kekisruhan laga final ada sebab dari pihak-pihak di bawah tanah yang tidak senang dengan pencapaian Perse Ende.

Kedua, pernyataan Bupati Ende dapat dilihat sebaliknya, ia hendak mempertegas bahwa ETMC 2017 sukses meskipun ada intimidasi pihak-pihak yang tidak suka Perse Ende juara. Sebagai penguasa daerah ia dapat menstabilkan suasana. Keberhasilannya membangun infrastruktur stadion, menjamu tamu, panitia dan sebagainya hingga Perse Ende meraih trofi ETMC 2017. Ini adalah prestasinya.

Penulis menilai pernyataan di atas bernuansa politis karena sangat dekat dengan perhelatan Pilkada 2018, yang mana ia dan   wakilnya sebagai incumben sedang membangun citra diri (Tribunnews.Com, 11/08/2017). Maka pihak yang ditujuhkan Bupati Ende biasa berasal dari kalangan internal Kabupaten Ende, masyarakat dan tokoh Ende yang berkepentingan dengan perhelatan pesta demokrasi tersebut. Pertanyaan, ukurannya apa sehingga bupati mengeluarkan pernyataan demikian?

Entahlah! Bupati Ende mungkin mempunyai “intelijen” yang terus memantau perkembangan sebelum dan sesudah perhelatan ETMC 2017 yang menangkap ada upaya sabotase keberhasilan Marsel-Jafar? Lantas, siapakah mereka? Lawan politik? Atau siapa? Bupati yang lebih tahu dan paham. Alangkah lebih bagus apabila ia beberkan secara terbuka agar pernyataan tersebut  tidak menimbulkan teka-teki bagi masyarakat Ende dan kontestan ETMC 2017.

Terlepas dari semua itu, penulis wajib mengapresiasi atas kesiapan pemerintah Kabupaten Ende, dalam hal ini Bupati Marsel dan Wakil Bupati Djafar, menyelenggarakan ETMC 2017.  Pertama, mereka menyiapkan infrastruktur pertandingan yang sangat memadai untuk ukuran NTT. Stadion Marilonga disulap menjadi stadion berkelas moderen. Dibangun tribun yang nyaman bagi penonton. Rumput yang hijau dan tertata rapih.

Kedua, panitia ETMC 2017 mengalihkan sepak bola siang hari ke sepak bola malam hari karena didukung oleh infrastruktur yang memadai seperti lampu stadion. Ini tercatat dalam sejarah sepak bola NTT. Pemerintah Ende dalam kepemimpinan Marsel-Djafar sebagai pencetus sejarah itu.

Ketiga, penyelenggara ETMC 2017 tidak gagap teknologi. Kreativitas mereka pun ditunjukkan dengan menyiarkan seara langsung pertandingan demi pertandingan melalui Youtube (live streaming). Hal ini memungkinkan kami di rantauan atau orang yang tidak kebagian tiket dapat menonton dari rumah.

Jika pun ada kekurangan, tetapi kelebihannya lebih banyak jika dibandingkan perhelatan turnamen serupa pada tahun-tahun sebelumnya. Maka dari sisi ini, penulis mengapresiasi dan mengucapkan terima kasih kepada Pemerintah Ende, panitia dan semua pihak yang telah menyukseskan penyelenggaraan ETMC 2017 sehingga sepak bola NTT perlahan-lahan merangkak ke sepak bola modern.

Meskipun kematangan persiapan infrasturktur dan kegemerlapan pembukaan ETMC 2017 tidak seirama dengan perhelatan finalnya, penulis mengganggapnya sebagai noktah hitam kecil dalam sepak bola NTT yang sedang beranjak modern. Yang saya sesalkan adalah pernyataan Bupati Ende pasca Turnamen ETMC 2017 pada saat orang nyaris lupa dengan situasi yang terjadi di laga pamungkas Final ETMC 2017. Pernyataan itulah yang ‘memanggil’ penulis untuk berbicara dalam deretan kata-kata bisu ini.

Bila Bupati Ende mengaitkan kekisruhan ini dengan ketidaksukaan pihak-pihak tertentu, bagi ini terlalu naif dan berlebihan.  Asumsi yang tidak berdasar. Tapi sebagai pembaca, sah-sah saja jika pikiran atau dugaan saya menyasar ke mana-mana. Itu hanya dugaan, jika pihak yang dimaksudkan Bupati adalah lawan politik.

Sebaliknya, jika pihak yang dimaksudkan Bupati Ende adalah tim sepak bola dari kabupaten lain, maka hal itu wajar. Semua tim yang datang ke Ende memandang tim lain adalah lawan. Ini namanya kompetisi. Tidak ada tim datang hanya untuk kalah dan sekedar berpartisipasi dalam event akbar ini apalagi hanya mau serahkan piala kepada tuan rumah. Semua tim menghendaki menjadi terbaik dengan mengalahkan tim yang lain. Adalah keliru jika pernyataan Bupati Ende jika dituduhkan kepada kontestan ETMC 2017. Lantas, siapakah pihak yang dimaksudkan Bupati Marsel?

Taruhlah, jika dugaan itu benar kepada kontestan ETMC 2017. Maka tim yang tidak menghendaki Perse Ende juara adalah PSN Ngada. Tim yang lain tidak mungkin berpikir untuk menggagalkan Perse Ende. Toh, kalau ada barangkali hanya 0,00099 persen. Pertanyaannya, mengapa PSN Ngada tidak menghendaki Perse Ende juara? Ya, tim yang bertanding dan berhadapan dengan Perse Ende di final adalah PSN Ngada. Tidak ada tim lain. Dua kekuatan itu saja; Perse Ende dan PSN Ngada beserta pendukungnya masing-masing.

Setelah mengumpulkan informasi dari berbagai sumber plus siaran live streaming terjadi fakta intimidasi dan provokasi dari penonton dan para pemain dari kedua tim. Sebagainya misalnya leparan botol ke lapangan yang dibalas pemain PSN Ngada, pemain Perse Ende menyikut pemain PSN Ngada dibalas pemain PSN Ngada dengan mendorong pemain Perse Ende yang lain. Hal-hal itu memacu siapa saja untuk membela timnya. Hanya, para pemain dan penonton lupa, dalam sepak bola adalah wasit adalah pengadil – apapun keputusannya.

Dengan memperhatikan pemandangan malam itu dan tambahan informasi dari TKP Stadion Marilonga, penulis tegaskan semua pihak yang terkait dengan event itu harus bertanggung jawab terkait dengan pembangunan infrastruktur yang tidak menjamin keamanan penonton, antisipasi terhadap segala kemungkinan kerusuhan (karena penonton overload), pengendalian situasi lapangan, ketegasan para pengadil baik wasit utama maupun wasit garis, dan mentalitas para ofisial dan pemain.

Kiranya ETMC 2017 menjadi bahan pelajaran pada pelaksanaan ETMC 2019 dan seterusnya. Belajar dari Korea Selatan dan Jepang sebagai tuan rumah World Cup 2002. Apa yang dapat dipelajari dari kedua negara ini? Mereka berlomba-lomba menjadi tuan rumah yang baik. Membangun infrastruktur sepak bola yang megah. Menjamin keamanan dan kenyamanan para pemain dan wisatawan olahraga di dalam dan luar lapangan. Selain itu, daya juang mereka di lapangan luar biasa. Korea Selatan yang tidak diperhitungkan dapat mencapai babak semi final dan akhirnya disisihkan oleh Turki pada perebutan juara tiga. Sementara Jepang berhenti di babak 16 besar, juga memberikan perlawanan yang luar biasa kepada lawan-lawannya.

Mungkin juara bukan menjadi target mereka? Masuk 16 besar atau semi final pun mungkin tidak. Karena dukungan penonton yang terus membakar semangat mereka di tengah lapangan dan kemampuan sepak bola yang berkelas pun membentuk mereka sebagai lawan yang cukup disegani saat itu.

Mereka tidak hanya mempersiapkan infrastruktur yang baik tetapi sungguh menghadirkan tim sepak bola yang tidak dipandang sebelah oleh lawan-lawan. Tidak berarti pula, kemenangan itu sebagai bonus sebagai tuan rumah. Kenyataan, tingkat kemampuan sepak Timnas Korea Selatan dan Jepang waktu itu berkelas dunia. Inilah yang patut dicontoh oleh peserta dan Turnamen ETMC ke depan.

Jadilah tuan rumah yang baik. Tunjukkan skill sepak bola yang mumpuni. Berdaya juang tinggi. Tidak mudah kalah aduh fisik dan suka memancing provokasi. Jangan berwajah sangar tapi tubuh layu – mudah jatuh (dramatisasi). Tunjukkan sporitivitas di lapangan. Berjuanglah hingga wasit meniup pluit panjang. Keberhasilan tim sepak bola adalah hasil akhir. Gol atau tidak. Akan tetapi proses awal hingga akhir sangat menentukan hasil akhir tersebut.

Tentu tariklah batas yang tegas antara politik dan sepak bola. Politik, ya politik. Olah raga, ya olahraga.  Biarkan publik yang menilai. Tidak usah pula mengklaim atas keberhasilan apalagi mengkambinghitamkan orang lain.

Salam olahraga. Viva sepak bola NTT.

Tentang Penulis: Giorgio Babo Moggi

Gambar Gravatar
Menulis adalah cara untuk mengekspresikan pendapat atau pikiran tanpa terbelenggu.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *