Sesuatu yang Terjadi Demi Kebaikan Kelak

oleh
Andreas Lako

Oleh : Prof. Andreas Lako

(Guru Besar Universitas Katolik Soegiyopranoto Semarang)

(Tulisan ini disiapkan untuk penulisan autobiografi saya dan utk Hari Ibu 22 Desember)

Setelah ayahku meninggal pada November 1973, yaitu ketika saya masih berusia 7 tahun, saya sering berkeluh kesah kepada ibuku:

Mama, kenapa Tuhan memanggil bapakku begitu cepat ketika kami masih kecil? Apa salah ayah? Bukankah ayah itu begitu baik kepada banyak orang, mengajarkan agama dari kampung ke kampung, dan suka mendamaikan keluarga-keluarga yang bertengkar? Kenapa Tuhan itu tidak baik dan membuat hidup kita sengsara?

Mendengar pertanyaan dan keluhan saya yang sering muncul berulang kali, ibuku selalu mengatakan sebagai berikut:

Bapakmu itu adalah milik Tuhan, bukan milik kita. Tuhan memanggil duluan ayahmu pasti untuk tujuan yang lebih baik nanti. Itu rahasia Tuhan yang kita tidak tahu saat ini. Mungkin saja ayahmu itu ada dosa kepada Tuhan, tapi mungkin juga tidak. Tapi Tuhan memanggil duluan ayahmu itu pasti untuk kebaikan buat ayahmu, buat kita dan buat kalian kelak. Dengan meninggalnya ayahmu, kamu dan kakak-kakakmu harus semakin rukun, rajin bekerja, baik dengan sesama, dan rajin berdoa. Kalau kalian rukun, rajin bekerja dan terus berdoa, ayahmu dari surga akan bahagia. Tuhan pasti akan memberkati kalian.

Kata-kata ibuku itu terus terngiang-ngiang dibenakku hingga saat ini. Saya baru menyadari kebenaran dari kata-kata bijak ibuku itu setelah 40 tahun kemudian. “Everything happends for a good reasons”

Berjualan Permen

Pasca meninggalnya ayahku, keinginanku untuk sekolah hilang. Selama dua tahun, saya mendampingi ibuku tinggal di kebun (ladang) agar bisa membantu beliau mencari kayu bakar, mengambil air minum dari sungai, mengerjakan kebun, dan sekali-kali membantu menjual pisang atau buah-buahan di pasar kota Bajawa yang jauhnya sekitar 7 km dgn jalan kaki.

Di kota Bajawa, saya melihat anak-anak seusia saya sudah masuk SD dan mereka tampaknya bahagia. Maka pada tahun 1975, di usia menginjak 9 tahun, saya meminta ibuku agar saya masuk SD dan beliau mengijinkan. Betapa senangnya saya bisa sekolah, bisa mulai belajar menulis dan membaca. Karena senang bisa sekolah, maka sejak SD kelas 1 hingga kelas 4 saya selalu belajar tekun dan menjadi yang terbaik di kelas.

Ketika di kelas 4, saat sering jualan sayur dan buah-buahan di pasar Bajawa agar bisa membantu Ibuku membayar uang sekolahku dan kebutuhan lainnya, saya sering berpapasan dengan anak-anak SMP. Saya melihat mereka tampak seperti anak-anak pintar. Mereka tampak bercakap-cakap dalam bahasa Inggris. Saya mulai berkeinginan agar bisa melanjutkan sekolah ke SMP. Saya ingin bisa belajar bahasa Inggris dan lulus SMP.

Ketika keinginan itu saya sampaikan ke ibuku, ibuku hanya tertunduk lesu dan meneteskan air mata. Namun kemudian berkata:

Anakku, darimana biayanya? Kakak-kakakmu tak bisa sekolah karena kita tidak punya uang. Kita ini orang miskin. Saya juga tidak bisa jual tanah warian karena tanah yg kita garap ini adalah milik keluarga besar. Tanah-tanah ini juga untuk tiga kakak perempuanmu.

Kata-kata ibuku itu semakin menguatkaan saya untuk bisa sekolah hingga SMP. Sejak tahun 1978, saya mulai berjualan permen/gula-gula setiap hari di sekolah. Setiap hari minggu, sehabis ibadat/misa saya juga berjualan permen/manisan di depan halaman gereja.

Dengan modal awal Rp 500 hasil dari berjualan kayu bakar dan arang, ternyata dagangan saya laris manis. Pada minggu pertama, saya berhasil meraih keuntungan sebesar Rp 750. Hasil keuntungan itu lalu saya jadikan modal. Hanya dalam sebulan keuntungan berdagang permen telah mencapai Rp 5.000. Uang itu lalu ditabung di Bank BRI Bajawa. Begitu bangganya saya bisa memiliki tabungan.

Hingga kelas 6, saya semakin rajin berjualan permen. Setiap ada event olahraga atau lainnya di daerah saya, saya pasti selalu hadir berjualan tanpa rasa malu atau minder. Karena itu, hampir semua orang di daerah saya mengenal saya sebagai “penjual isi bombo” (red: permen) hingga kini. Apalagi ketika itu saya juga aktif di sekolah sebagai Ketua Osis dan aktif di gereja sebagai misdinar atau pelayan pastor saat perayaan misa. Setiap ada kuis saat pastor berkotbah, saya juga selalu menjawab dan benar. Tampaknya, semua aktivitas itu juga membuat dagangan saya tambah laris. Hingga lulus SD tahun 1981, tabungan hasil dagangan saya sudah mencapai sekitar Rp 134.500.

Dengan uang sebanyak itu, saya makin mantap melanjutkan ke SMP di Kota Bajawa, kota impian saya. Saya meyakinkan kepada ibuku dan beberapa kakakku bahwa dgn tabunganku, saya bisa sekolah ke SMP karena uang sekolah per tahunnya hanya Rp 13.500. Untuk menghemat biaya hidup, saya berjanji akan berangkat ke sekolah dan pulang ke kampung setiap hari dengan jalan kaki. Padahal, jaraknya 7 km sehingga tiap hari menempuh perjalanan 14 km.

Berkat kesungguhan dan ketekunan itu, beberapa kakakku mulai mendukung dan bahu membahu agar saya bisa sekolah dengan baik. Pada saat kelas III SMP, saya minta indekos di Kota Bajawa agar bisa belajar dengan fokus. Karena saya termasuk siswa berprestasi di kelas dan juara umum saat kelas 3, banyak guru juga mulai mendorong saya agar melanjutkan ke Seminari atau SMA favorit.
Tawaran itu saya terima. Kebetulan uang tabunganku di BRI masih utuh karena biaya selama SMP dan uang buku (saya royal dalam membeli buku) ditanggung oleh kakak dari hasil tenunan kain ikat dan hasil jualan kopi, serta hasil kebun lainnya.

Selain itu, saat masih SD dan SMP kelas 1 dan 2, setiap liburan saya selalu mengisinya dengan menanam pisang, kopi dan kayu putih di kebun. Tanaman-tanaman2 itu ternyata mulai membuahkan hasil dan digunakan oleh kakak-kakakku untuk mendukung sekolah saya ke jenjang yang lebih tinggi. Jadi, saya mulai menaikkan cita-cita saya dari yang semula hanya cukup bisa lulus SMP, menjadi bisa lulus SMA. Ini membuat saya menghayal jauh.

Merupakan Karya Allah

Dimana ada kemauan, di situ pasti ada jalan. Tuhan pasti menyertai dan memberkati hambaNya yang memiliki mimpi-mimpi besar dan harapan kuat, tekun dalam berdoa dan beriman, serta rajin bekerja keras.

Kata-kata bijak tersebut sangat saya rasakan. Tuhan selalu membukakan saya pintu kehidupan atau jalan menuju tangga-tangga kehidupan yang lebih tinggi. Tuhan menuntun, menolong dan berkarya untuk saya melalui saudara-saudaraku dan banyak orang agar saya bisa menaiki tangga-tangga kehidupan yang lebih tinggi.

Berkat ketekunan dalam bekerja, belajar, berdoa dan berbuat baik kepada orang lain, Tuhan melalui tangan dan karya banyak orang telah menghantarkan saya bisa menyelesaikan pendidikan SMA, S1 hingga S3 dan bahkan bisa meraih gelar profesor.
Bahkan, gelar profesor yang diberikan Tuhan kepada saya juga penuh misteri iman. Gelar itu adalah hadiah Allah setelah saya diberi ujian berat.

Setelah saya dan istri “dihajar habis-habisan” dengan dikaruniai anak yang difabel sehingga membuat saya tertekan secara ekonomi dan harus bisa menulis artikel apapun agar bisa mendapatkan penghasilan tambahan untuk biaya pengobatan anakku, ternyata hal itu juga merupakan cara unik Tuhan yang luar biasa untuk menghantarkan saya meraih gelar tertinggi akademik. Seandainya Tuhan tidak mengarunia saya anak yang punya “kelebihan khusus” sangat mungkin saya tak bisa mencapai level kehidupan seperti sekarang ini.

Setelah mencapai level tertinggi dalam pendidikan yang jauh melampaui cita-cita awal yaitu bisa lulus SMP, saya baru teringat kembali kata-kata bijak alm. Ibu saya 40 tahun lalu pasca meninggalnya ayahku:

Tuhan itu maha baik. Segala sesuatu yang terjadi saat ini adalah demi kebaikan kelak.

Saya baru paham kebenaran dari nasihat Ibuku itu saat ini. Tuhan itu memang maha baik. Seandainya Tuhan tidak memanggil ayahku duluan, saya sangat mungkin tak akan mencapai level kehidupan seperti sekarang ini.

Mama, terima kasih kasih atas kelemahlembutan dan didikanmu. Semoga engkau beristirahat dalam kedamaian abadi bersama Bapa di Surga.

Kepada para sahabatku, saya mengucapkan Selamat Hari Ibu 22 Desember 2014.

Semarang, 21 Desember 2014

Tentang Penulis: Giorgio Babo Moggi

Gambar Gravatar
Menulis adalah cara untuk mengekspresikan pendapat atau pikiran tanpa terbelenggu.