Senam Lidah: Tips Sehat ala Sr. Eufrasia CIJ

oleh
Sr. Leiticia CIJ (tengah) pose bersama penulis di halaman Biara CIJ Wolowaru, Ende (Foto: Dok. Pribadi)
Sr. Leiticia CIJ (tengah) pose bersama penulis di halaman Biara CIJ Wolowaru, Ende (Foto: Dok. Pribadi)
Sr. Leiticia CIJ (tengah) pose bersama penulis di halaman Biara CIJ Wolowaru, Ende (Foto: Dok. Pribadi)

| KOEPANG.COM | Senam Lidah: Tips Sehat ala Sr. Eufrasia CIJ.  Cuaca Kota Larantuka bersahabat. Cerah. Saatnya kami  berpisah dengan Kota Reinha. Saya dan sahabat seperjalanan tugas, Hesty, menempuh perjalanan darat ke Maumere. Kami berpisah di Maumere karena  Hesty harus melanjutkan perjalanan ke Ende.

Tujuan saya ke Maumere, mengunjungi paman saya di Keuskupan Maumere.  Sebelum ke Maumere, saya turun di rumah sahabat saya di Kota Uneng. Setiba di rumahnya, ia ajak jalan-jalan ke Waipare. Menonton anak-anak Pangkalan berlatih bola volley menjelang HIPMI Cup. Saya pun mengiyakan tanpa memikirkan rasa lelah yang mendera.

Sekembali dari Waipare, kami mampir di Keuskupan Maumere. Saat  kami tiba, paman sedang duduk di beranda kamarnya. Setelah ngobrol beberapa saat,  paman membeberkan ia akan pulang ke kampung esok harinya. Katanya, semua keluarga pada berkumpul di rumah karena saudarinya, akan pindah tugas di Kalimantan. Saya pun kontan berpikir bahwa inilah kesempatan emas untuk reuni dengan keluarga.

Saya pun sepakat dan ikut dengan paman pulang ke kampung. Sejatinya, saya harus pulang Kupang dengan Wings Air pada hari jumat, tapi karena agenda tak terencana ini saya memutuskan untuk resechedule. Atas saran Alfi, istri sahabat saya, Patris, saya segera menghubung call center untuk mengajukan pergeseran waktu keberangkatan. Saya pindah ke hari minggu dengan rute yang sama.

Paman berpesan saya untuk bangun lebih awal. Tepat jam 04.00 kami akan keluar dari kota Maumere. Karena capekh, alarm yang terpasang tidak bermanfaat. Saya dikejutkan oleh ketukan pintu kamar oleh paman saya. Saya bergegas ke kamar mandi dan membasuh muka sekedarnya. Menyisihkan tai mata yang masih melekat di mata.

Sesuai janjinya, kami keluar tepat pukul 04.00. Kami menjemput Sr. Ermelinda di biara. Kebetulan ia hendak menjemput para calon suster di Nangapanda di Ende. Kami meninggalkan Maumere tanpa mengisi perut sedikit pun. Tanpa makan dan minum. Sebelum tiba Wolowaru, saya mohon ijin kepada paman untuk mampir di rumah makan untuk mengisi perut yang mulai berbunyi.

Kami mampir di RM. Betania milik biara CIJ. Gerbang masih tertutup. Tampak seorang karyawati sedang menyapu halaman. Kami pun memintanya untuk membuka pintu. Saya dan sopir sengaja jual  nama paman yang adalah pastor dan suster Ermelinda yang duduk di samping saya. Karyawati itu pun membuka gerbang. Kemudian ia bergegas dan berbicara dengan salah seorang suster.

Rumah makan memang belum dibuka. Mungkin karena tamu adalah romo dan suster serta frater gadungan seperti saya cukup membuat para suster dan karyawatinya sibuk menyediakan menu pesanan kami. Kopi dan soto menjadi menu yang untuk mengisi ruang lambung yang kosong.

Setelah santap pagi, kami belum masih bercerita. Tiba-tiba seorang suster tua mendatangi kami. Ia memperkenalkan diri.

“Saya, Sr. Eufrasia.”

Suster mengaku baru datang dari Waerana dalam rangka pertemuan di Jopu. Usianya menjelang 80 tahun. Langkahnya tegap. Semangatnya berapi-api. Bicaranya pun tegas dan jelas.

Suster menceritakan pengalaman berkarya di Kalimantan lebih kurang 19 tahun. Di usia yang rentah, ia dipercayakan kembali ke Flores dan menjadi pimpinan biara di Waerana. Ia hendak menolak pimpinanya. Ia mantapkan dalam dirinya bahwa segala yang terjadi pada dirinya atas kehendak Tuhan sendiri.

Tak terasa setengah jam-jam kami berbincang dengan suster Eufrasia. Saatnya kami pamit. Perjalanan kami masih jauh – melewati satu kabupaten lagi.

Suster Eufrasia antar kami ke mobil. Sebelum turun tangga, ia memanggil saya dan memberitahukan tentang tips sehat. Suster menyebutnya dengan istilah “senam lidah”. Suster beberkan senam lidah dapat menyembuhkan berbagai jenis penyakit seperti stroke, asam urat dan lain sebagainya. Lalu ia memperagakan senam lidah terlebih dahulu melarang saya untuk merekamnya.

Ragam senam lidah ada tiga langkah, yakni menarik dan menjulur lidah ke depan, ke kiri dan ke kanan. Setiap gerakan lidah ini dilakukan sebanyak 10 kali. Lakukan senam ini setiap pagi hari. Usai senam lidah, minum air putih hangat sebanyak dua gelas.

Demikian tips suster yang pernah belajar keperawatan di Jerman ini. Melihat kondisi fisik dan semangat hidupnya menginspirasi kami. Tips senam lidahnya menjadi pengetahuan baru bagi kami dalam perjalanan Maumere-Mauponggo hari itu. Terimakasih Suster. ***

Tentang Penulis: Giorgio Babo Moggi

Gambar Gravatar
Menulis adalah cara untuk mengekspresikan pendapat atau pikiran tanpa terbelenggu.

One thought on “Senam Lidah: Tips Sehat ala Sr. Eufrasia CIJ

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *