Selamat Natal Mama, Selamat Natal Papa

oleh
Santa Perawan Maria

KOEPANG.COM – “De Mariam nunquam satis!” artinya tentang Maria tak pernah cukup. Ungkapan ini dikutip dari syair puisi Tentang Ibu Tak Pernah Cukup, karya Valens Daki Soo (Baca: Pahatan Syair: Tentang Ibu Tak Pernah Cukup).

Bicara tentang Bunda Maria tiada habis. Di tubuh Gereja Katolik terdapat disiplin ilmu Marialogi. Bidang yang membedah tentang Maria secara khusus. Itu saja tidak cukup. Bicara Maria memang tidak pernah tuntas. Tentang pelibatan dirinya oleh Tuhan dalam misteri karya keselamatan.

Karena kepasrahan dan keikhlasan hatinya maka misteri keselamatan dapat terjadi.

“Aku ini hamba Tuhan, terjadilah padaku menurut perkataan-Mu.”

Sebuah pernyataan yang tulus secara jiwa dan raga. Ia ikhlas apapun yang terjadi asalkan atas kehendak Tuhan. Imannya ini, Bunda Maria berkenaan menjadi bagian dari sejarah karya penyelamatan dosa manusia.

Devosi kepada Bunda Maria merupakan bentuk penghormatan kepadanya sebagai sosok Bunda Al Masih. Bukan menyembahnya. Sebab mengenal anaknya, mengenal pula ibunya. Memuliakan putranya, mengagungkan bunda-Nya. Behind the great man, there is a great mother. Per Mariam ad Jesum. Melalui Maria Menuju Yesus.

Dalam konteks kehidupan nyata kita, sosok Maria bisa dijumpai dalam wajah ibu kita. Ibu yang mengandung, melahirkan, dan membesarkan kita.

Bunda Maria mengikhlaskan rahimnya dibuahi Roh Kudus, mengandung dan melahirkan Yesus. Begitu pula ibu kita tulus dibuahi rahimnya oleh sang ayah, mengandung selama sembilan bulan, lalu melahirkan kita.

Peristiwa natal tidak akan terjadi jika tanpa Maria. Begitu pula dengan proses kehadiran kita. Tanpa sosok ibu kita tidak akan pernah di dunia ini. Karena itu peristiwa natal tidak sekedar mengenang kelahiran Kristus. Peristiwa natal menjadi momentum meng-flash back tentang kelahiran kita. Tentang ibu kita. Tentang kepolosan raga dan jiwa kita. Sembari kita meneladani bayi Yesus, Sang Emanuel.

Natal bukan soal seremonial. Kue dan pohon natal. Gemerisik petasan. Atau dentuman dan permainan corak warna kembang api. Bukan pula soal ucapan selamat Natal. Natal lebih kepada soal peristiwa intropeksi diri. Soal internal (bathiniah) daripada hal-hal eksternal (lahiriah) seperti ucapan Selamat Natal yang mungkin sekedar lip service.

Natal adalah kesempatan untuk ‘menelanjangi’ diri sehingga kita boleh merasakan kelahiran kembali (reborn) sebagai manusia baru. Manusia yang terus memperbaharui diri dari debu dosa.

Natal adalah kesempatan berahmat untuk mengenang dan menghormati orang tua kita. Ayah yang membuahi rahim ibu. Ibu yang mengandung dan melahirkan serta membesarkan kita.

Diiring oleh tembang Viktor Hutabarat, mari kita menyapa orang tua kita. Ayah dan ibu kita.

Mama, Selamat Natal…
Papa, Selamat Natal…

Selamat Hari Raya Natal. Merry Christmas.***

Tentang Penulis: Giorgio Babo Moggi

Gambar Gravatar
Menulis adalah cara untuk mengekspresikan pendapat atau pikiran tanpa terbelenggu.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *