Selaksa Rasa Merengkuh Nusa Kenari

oleh
Ilustrasi (Foto: Svananegeriku.blogspot.com)
Ilustrasi (Foto: Svananegeriku.blogspot.com)
Ilustrasi (Foto: Svananegeriku.blogspot.com)

| KOEPANG.COM |  Selaksa Rasa Merengkuh Nusa Kenari. Kamis, 4 Desember 2014, kaki saya baru saja melangkah di pintu ruang check in Bandara Eltari Kupang, suara dari information desk lewat pengeras suara, mengumumkan bahwa penumpang Transnusa segera menuju pesawat. Saya tiba-tiba panik. Melangkah menuju loket check in. Tanpa melihat papan nama maskapai, saya sodorkan KTP dan tiket.

“Transnusa di sebelah, Pak.”, suara petugas loket mengejutkanku.

Rasa panik dan malu berbaur menjadi satu. Saya menyampaikan maaf dan bergegas pindah ke loket Transnusa. Nasibku di ujung tanduk; antara bisa naik pesawat atau tidak bisa.

Setiba di loket Transnusa, salah seorang petugas langsung calling petugas lain di pesawat. Untungnya, petugas dari dalam menginformasikan bahwa saya dijinkan untuk naik pesawat.

“Puji Tuhan.”, saya membathin.

Setelah menerima boarding pass, saya menuju loket airport tax. Tetapi, saya teringat dengan titipan rekan kerja saya. Barang tersebut masih di tangan kerabatnya yang sedang berdiri di pintu masuk check in. Saya meminta petugas untuk mengambilnya.

Seorang petugas wanita sambil memegang Handy Talky berjalan bersama kami terus calling ke petugas di dalam pesawat.

“Pelan-pelan saja, Pak.”, kata wanita berparas ayu tersebut kepadaku.

Di ruang tunggu, mataku langsung kontak dengan salah satu rekan yang akan berangkat ke Labuanbajo. Saya beri signal bahwa saya terlambat. Ia tersenyum dan memukul testa (baca: dahi).

Panik belum juga sirna. Nafasku tersengal-sengal. Saya, orang terakhir yang naik pesawat. Saya belum sempat duduk, pintu pesawat langsung ditutup. Akupun duduk tidak sesuai kursi yang tertera di boarding pass lagi. Oleh petugas saya disuruh duduk di kursi deret kedua. Sedangkan ranselku diletakan di kursi sebelahku.  Sementara tongkatku disimpan di cabin sesuai prosedur penerbangan.

Insiden kecil ini menjadi catatan buruk sekaligus nostalgi pada perjalanan pertamaku di Nusa Kenari. Saya memang telah mendapatkan informasi keindahan alam dan pesona budayanya baik dari cerita orang maupun berbagai media informasi. Kali ini aku akan menyaksikan sendiri keindahan kampung halaman Yabes, punggawa Timnas U-22 ini.

Pesawat melintas di atas teluk Kupang. Terus bergerak ke arah Timur Laut. Bukit Fatuleu yang biasa perkasa dilihat dari Kota Kupang hanyalah seonggok batu kecil dari jendela si burung besi. Terlihat pula sebuah pulau kecil. Pasir putih membentang dan melingkar sepanjang pulau. Entah apa nama pulau itu, terlihat indah dari ketinggian ribuan kaki.

Lebih kurang 35 menit penerbangan, menjelang Selat Ombay, pulau Flores, Lembata, dan Pantar terlihat jelas. Ile Mandiri yang menjulang menjadi simbol keberadaan Kota Renha. Gunung Lewotobi di Lembata berhenti mengepul. Tidak ada aktivitas berbahaya. Pulau Sika, pemisah antara Alor dan Pantar tampak jelas dari udara.

Langit Nusa Kenari masih cerah. Trans mendarat tanpa rintangan di Bandara Mali, 20 kilometer dari jantung kota Kalabahi. Saya bergegas turun. Suasana di bandara sepi. Di luar ruang tunggu berdiri tukang ojek dan sopir travel serta para penjemput. Sikap mereka ramah sambil menawarkan jasa. Mereka tidak saling rebutan. Ketika seorang tukang ojek menawarkan jasa, saya menolak. Saya lebih memilih mobil karena nyaman. Ia malah mencarikan travel untuk saya. Kesan pertama yang positif semakin mantapkan tekadku untuk menjelajahi Alor – sebisa mungkin setiap lekak lekuk keindahannya. ***