Selain Budaya, Bahari Menjadi Aset Wisata Primadona Sabu Raijua

oleh
Ilustrasi (Foto: Lintasntt.Com)
Ilustrasi (Foto: Lintasntt.Com)

| KOEPANG.COM | Selain Budaya, Bahari Menjadi Aset Wisata Primadona Sabu Raijua. Pengalaman tinggal di Yogyakarta, Denpasar, dan Townsville (Australia) memungkinkan penulis memiliki pembanding di sektor wisata bahari. Sebenarnya NTT memiliki pesona pantai yang lebih mengagumkan dari ketiga kota ini. Pasir berwarna putih. Pasir berwarna pink pun ada di Manggarai Barat – tidak dimiliki di daerah lain. Hal yang membedakan antara NTT dan ketiga kota ini ada cara mengelola dan mengemas wisata bahari. Sementara pantainya biasa-biasa saja.

Tentang pantai di Sabu tidak kalah menarik pantai di Flores, Sumba, Alor, Rote Ndao, dan atau Pulau Semau. Pasir berwarna putih bersih. Tekstur pasir halus dan lembut. Sehalus butiran gula atau garam.

Dari udara kira mudah melihat garis pantai yang putih melingkari pulau Sabu. Kita sudah bisa bayangkan Sabu memiliki pantai yang indah dan eksotik. Lingkaran garis pantai menimbulkan rasa kagum dan tekad untuk mencumbui sesaat tiba di sana.

Pesona pantai belum menyihir perhatian pemerintah Sabu Raijua. Menjadikannya sebagai salah satu primadona sektor pariwisata. Padahal pariwisata menjadi program ‘iconic’ pemerintahan provinsi dan beberapa kabupaten lain di Nusa Tenggara Timur.

Kita dapat maklumi pemerintah Sabu Raijua menganak-tirikan sektor pariwisata. Sikap pemerintah setempat bukan tanpa alasan. Sabu Raijua adalah kabupaten baru. Tentu saja fokus pembangunan masih terbagi. Aksentuasi perhatian pemerintah baru pada sektor pembangunan infrastruktur dasar seperti jalan raya, air bersih, transportasi, dan irigasi – untuk menunjang sektor pertanian.

Ketersediaan infrastruktur dasar seperti jalan raya dapat membuka akses ke daerah-daerah yang memiliki potensi wisata seperti Grand Canon-nya Sabu, Kebha Maja, di Mesara atau kampung-kampung adat yang masih terpelihara tradisinya.

Tidak jauh dari jantung kota Seba terdapat lokasi wisata Napae. Namun, lokasi itu baru mampu untuk memenuhi kebutuhan masyarakat lokal untuk mengisi waktu liburan atau hari minggu.

Hal lain, sektor pariwisata membutuhkan ketersediaan infrastruktur dasar seperti jalan raya, sarana transportasi, dan listrik. Mewujudkan Sabu menjadi salah satu destinasi pariwasata memerlukan proses yang panjang, sementara Sabu masih memiliki potensi laut yang langsung dapat dinikmati petani, yaitu garam dan rumput laut.

Butuh tekad pemerintah dan masyarakat untuk mewujudkan Sabu sebagai daerah tujuan wisata di tapal batas Samudera Indonesia. Alangkah bagusnya, pemerintah bisa memadukan keunggulan bahari selain sebagai sektor ekonomi sekaligus menjadi bagian dalam pengembangan kawasan wisata. Tak dipungkiri, wisata budaya dan wisata bahari menjadi sektor primadona atau unggulan Sabu Raijua. Kembali, ini soal strategi pemerintah setempat mengemasnya.***