Secarik Kertas dalam Tas Tangan Dokter Cintya

oleh
Ilustrasi (Sutterstock.com)

Handphone-ku yang tergeletak di meja kerja berdering berkali-kali. Panggilan dari sebuah nomor baru.  Aku membiarkan HP-ku berbunyi. Aku keluar kamar dan duduk di teras rumah.

Belakangan ini banyak peristiwa  usil dari orang yang sengaja miscall atau melakukan aksi tipuan.  Belajar dari pengalaman itu, aku jarang menerima telepon dari nomor baru. Kecuali orang yang bersangkutan mengirimkan SMS terlebih dahulu.

Karena aku tidak merespon panggilannya, dua hari kemudian, handphone-ku kembali berdering. Lagi, aku biarkan panggilan itu berlalu.

Handphone­-ku kembali bergetar. Kali ini bukan calling melainkan SMS. Sebuah pesan singkat berasal dari  nomor tersebut.

“Aku, dokter Cyntia.”

“Dokter Cintya?” Aku bergumam.

“Maaf, dokter Cintya yang mana ya? Aku reply SMS-nya.

“Pemilik tas yang kamu masukan nomor handphone kamu.”

Akh, masa?”

“Ya. Aku menemukan nomormu dari dalam tas saat itu.”

“Aku tidak pernah melakukan itu. Kamu menuduh ke orang salah?”

“Kamu coba ingat-ingat lagi, deh. Kamu lakukan itu dalam perjalanan ke Malaka lima tahun yang lalu. Kita dalam mobil travel yang sama.”

Cintya memaksa  otakku untuk bekerja keras. Memutar kembali memori lima tahun silam.

“Kamu duduk persis di sebelah kiriku, khan?” Ia mengirim  SMS  karena tak kunjung ada balasan dariku.

“Oh ya? Sabar ya. Beri aku waktu untuk merefresh memori. Lima tahun yang lalu, waktu yang terlalu lama. Banyak peristiwa yang telah terjadi dan mungkin sudah terhapus dari memoriku.”

“Kamu,  Marvel khan?

“Ya.”

“Nah, masa kamu lupa?”

“Iya neh, peristiwa itu sudah terlalu lama.”

“Marvel khan duduk sebelah aku. Sedangkan seorang ibu yang memangku balitanya duduk di  sebelah kirimu.”

Akh, dokter bikin aku tambah bingung.”

“Masa kamu bingung dan lupa?”

“Sudah terlalu lama, Dok. Mungkin otakku butuh piknik untuk menelusuri kembali jejak itu.”

“Haha….”Dokter Cintya tertawa.

“Iya neh. Aku merasa lucu aja. Mana mungkin aku meninggalkan nomor handphone-ku ke dalam tasmu.”

“Kamu lupa atau pura-pura lupa.”

“Aku memang lupa kok.”

“Kalau kamu lupa, coba kamu ingat-ingat lagi dong? Masih muda kok sudah pikun sih.” Candanya.

SMS dokter Cintya memaksa aku harus berpulang pada peristiwa yang telah berlalu. Memutarkan kembali pita memori pada track lima tahun yang lalu itu. Bagaikan sebuah teka-teki. Tapi, aku sangsi dengan SMS itu. Jangan-jangan itu SMS bohong, bukan dari seorang dokter yang mengaku bernama Cintya itu.

“Ini pasti kerjaan teman-temanku.” Gumamku.

Hayoo, kamu dah ingat ya?”

Sure. Belum, Dok.”

“Ok deh, aku bantuin tuntun kamu.”

“Maksud Cintya?”

“Ya, memulihkan memorimu?”

“Hehe…”

“Kita menumpang mobil kijang  berwarna hitam, khan? Sopir brewokan.

“Kijang hitam sih banyak. Sopir yang berparas brewokan juga banyak.”

“Seorang bapak memangku putra yang masih kecil dan duduk di kursi depan. Kamu mengobrol dengannya sepanjang jalan.”

“Pastilah. Aku  selalu mengobrol dengan siapa saja apalagi dengan  penumpang seperjalanan.”

Akh, kamu bohong. Ngeles aja, kamu. Buktinya, kamu diamkan aku di sebelah kananmu kala itu.”

“Haha…” Aku tertawa.

“Topik pembicaraanmu sama bapak itu soal pendidikan, birokrasi dan macam-macam. Si bapak itu bahkan mengira kamu  kontraktor yang memiliki proyek di Malaka khan?

Dokter Cintya berusaha mengembalikan memoriku. Ia pun pelan-pelan mengulur pita memori hingga pada titik kesadaranku akan peristiwa itu. Ia berhasil. Tapi aku malu mengakuinya karena perbuatan yang memasukan nomor ke dalam tasnya.

Hati dan pikiranku berkecamuk. Terciptalah perang bathin dalam diriku. Mengaku atau tidak? Sebenarnya sih apapun jawabannya  tidak berdampak apapun karena peristiwa itu terjadi pada lima tahun yang lalu. Waktu yang sudah sangat lama. Aku sendiri bahkan sempat  lupa dengan peristiwa itu. Kehadiran dokter Cyntia melalui SMS membuka lagi memori itu.

Aku memang tidak mengenalnya secara baik. Namanya pun aku tak tahu. Profesinya pun aku tak tanya waktu itu. Aku ingat hanya  seorang wanita cantik, seksi, berparas putih bersih dan berkacamata.

Bagaimana awalnya ia naik ke dalam mobil aku tak tahu. Saat itu mobil travel yang aku tumpangi parkir di terminal bayangan Oesapa. Aku turun dan bergegas ke counter HP. Kembali dari counter, Cintya sudah ada di dalam mobil dan menempati kursiku. Aku tersentak kaget. Aku tak mungkin memintanya pindah. Aku harus mengalah dan menjaga perasaannya. Toh, jikalaupun aku memintanya pindah ia akan beri alasan macam-macam seperti mabuklah, tidak bisa duduk di tengah dan berbagai alasan lain.

Akhirnya aku naik ke dalam mobil dengan hati bersungut. Aku duduk di tengah dalam deretan bangku yang sama. Cintya di sebelah kanan, seorang ibu dengan balita di sebelah kiri. Posisi duduk yang sangat tidak nyaman karena ruang gerakku menjadi terbatas. Posisiku menjadi tidak nyaman, diapiti dua wanita ini. Maju-mundur, kiri-kanan kena deh.

Hallo Marvel, kamu sudah ingat khan?” Dokter Cintya mengirimkan SMS lagi.

“Belum, Dok.”Aku berbohong.

“Ya udah kalau kamu memang lupa. Aku ngak paksa kok?” Balasnya.

Aku tak bergeming. Aku enggan untuk membalas SMS-nya. Perasaan bersalah memenuhi ruang jiwaku. Aku telah membohonginya. Kami dalam diam sekian bulan. Cintya tak pernah mengirimkan SMS lagi. Begitupun aku enggan berinisiatif untuk mencairkan suasana yang beku ini.

Aku benar-benar bingung dan kehilangan akal bagaimana memulai menyapanya. Aku harus berkata jujur pada diriku sendiri, pula berkata jujur padanya. Aku pun memberanikan diri untuk meneleponnya.

“Malam, Dok.”

“Ya, panggil aku Cintya aja.

“Ya, malam Cyntia.”

“Bagaimana kabar Dok, eh Cintya?”

“Kabarku baik, Marvel. Bagaimana kabarmu?”

“Aku baik-baik saja.”

Um, aku baru ingat sekarang tentang peristiwa lima tahun yang lalu itu. Kata-katamu benar. Kita pernah semobil melewati jalan yang kelam sepanjang jalur selatan Pulau Timor.”

“Apa maksudmu?” Dokter Cintya pura-pura bertanya.

“Ya, kisah nomor HP di dalam tas itu.”

“Haha… Aku dah lupa itu.” Disambut tawa Cintya di ujung telepon.

Kali ini dokter Cintya kembali kerjain aku. Aku tahu itu. Tapi jawabannya membuat aku salah tingkah dan kehabisan kata untuk menimpalinya.

Ah, jangan begitu dong Cintya. Kamu yang paling ingat peristiwa itu, kini kamu sendiri menyangkal lagi.”

“Aku memang lupa, kok. Lagi pula kejadiannya sudah lama.” Balasnya meniruku.

“Balas dendam neh.”

Sure! Aku serius kok?”

Aku tahu Cintya hanya mau menyatakan kekesalannya kepadaku. Lima bulan yang silam ia meneleponku, mengingatkan perjumpaan itu tapi aku selalu menyangkalnya. Penyangkalan bukan dilakukan dengan sengaja olehku. Awalnya memang benar-benar aku lupa. Tapi kemudian ia menuntunku dengan pertanyaan demi pertanyaan sehingga aku pun ingat akan peristiwa konyol itu. Kemudian aku mengingkarinya lagi dengan tujuan bercanda.

Cintya menguji kesabaranku. Ia tidak meneleponku. Pula tidak mengirimkan pesan singkat kepadaku. Tidak sama sekali. Sikap diamnya merong-rong bathinku. Aku serba salah. Diam berarti aku akan hilang kesempatan untuk mengenalnya. Meneleponnya, aku pasti dikerjain. Kami membisu. Tapi salah satu di antara kami harus mengalah. Dan, akulah yang harus mengalah dan berinisiatif untuk menghubunginya.

Sepanjang perjalanan di dalam mobil aku  tak pernah mengobrol dengannya. Hatiku terlanjur marah karena dia mengambil alih posisi dudukku. Tempatnya yang nyaman bagiku dalam menempuh perjalanan yang panjang. Sehingga sepanjang jalan aku memilih mengobrol dengan seorang birokrat yang duduk di samping sopir.

Selain marah. Aku sedikit sungkan. Aku tak menemukan satu kata yang tepat untuk membuka percakapan dengannya. Cintya bagaikan sosok asing. Cantik. Tampak wibawa. Cintya duduk selonjor. Punggungnya bertumpuh pada sandaran bangku. Ia mengatup matanya sepanjang jalan. Suara percakapan kami pun tak mampu mengusik tidurya.

Cintya terbangun ketika sopir memarkir mobil di halaman sebuah rumah makan di  Kolbano. Cintya adalah orang kedua yang turun dari mobil setelah sopir. Ia masuk rumah makan dan  memesan menu  lalu ke rest room. Aku masuk memasan makan juga. Saat aku membalik ke arah pintu rumah makan, Cintya sudah duduk di salah satu meja makan. Aku melemparnya dengan sebuah senyum yang dibalas dengan senyuman pula. Aku duduk di meja di luar rumah makan meskipun meja yang ditempati Cintya masih banyak kursi yang kosong.

Setelah makan ia keluar dan berjalan ke arah mobil. Aku memotongnya.

“Bentar ya, teman-teman habiskan sebatang rokok dulu.” Aku berusaha membuka percakapan.

Cintya kemudian berjalan ke arah bale-bale tepat di belakangku.

“ Dimana nona tinggal?”

“Aku tinggal di Betun.”

Dialeknya tidak mencerminkan bahwa ia orang Malaka. Terdengar dialek Jawa tapi tegas. Aku tidak sempat menanyakan asalnya  karena aku buru-buru masuk warung untuk membeli minuman mineral.

Perjalanan dilanjutkan saat jarum jam menunjukkan pukul 09.30 malam.  Sopir menyetir mobilnya dengan kecepatan tinggi. Aku terus berbincang dengan penumpang lain, wanita di samping kiriku dan suaminya yang duduk di kursi depan. Cintya kembali menyandarkan tubuhnya pada sandaran bangku. Malam semakin larut. Cintya lelap dalam tidurnya. Entahlah.

Kepala Cintya menyentuh bahuku.  Sesekali kali ia menegakkan kepala ke sandaran  bangku. Begitu seterusnya. Aku membiarkan segala sesuatunya terjadi. Toh, ini bukan faktor kesengajaan tapi kondisilah yang memungkinkan hal itu terjadi. Apalagi posisi duduku sangat sulit karena  diapiti oleh dua wanita.  Serba salah.

Setengah perjalanan, Cintya bangun dan menurunkan kaca mobil. Kemudian ia tidur lagi. Sandarkan kepala pada bangku. Tiupan angin kian kencang, menyibak rambutnya yang biarkan tergerai. Rambutnya pun menyapu wajah dan leherku serta menyembul aroma yang harum semerbak. Sama seperti ketika kepalanya menumpang di bahuku, begitu pun rambutnya kubiarkan mempermainkan wajahku kala dihempas angin malam.

Pundakku terasa berat. Kali ini kepala Cintya benar-benar bertumpuh pada pundak kananku. Aku membiarkan itu terjadi. Cintya sepertinya benar-benar lelah dan tak sadarkan diri di pundak siapa ia bertumpuh. Benakku berkecamuk dengan beragam pikiran dan berimajinasi romantisme malam melewati sepanjang pesisir selatan Pulau Timor. Beragam perasaan dan pikiran ‘seandainya’, ‘seandainya’ dan ‘senandainya’ mengerayangi benakku malam itu.

Setiba di jembatan Menu. Beberapa mobil bak terbuka berjejer di pinggir jalan. Sopir menghentikan mobil karena ada proyek pengerjaan jalan ujung jembantan. Cintya bangun dan memperbaiki posisi duduknya kemudian ia tidur lagi. Lebih kurang dua puluh menit kami menunggu sampai para pekerja merapihkan aspal yang baru diturunkan dari truck. Cintya pun tidur lelap dengan mimpi-mimpi indah.

Saat itu aku melihat tas tangannya dalam keadaan terbuka. Tas itu dipangku di atas paha. Tiba-tiba muncul ide konyol dan nakal untuk memasukan secarik kertas yang tertulis nomor handphone-ku ke dalam tas tersebut.

Gagasan itu semakin kuat. Tekadku bulat. Aku mengambil pena dan secarik keras dari dalam tasku. Lalu aku menuliskan nomor handphone-ku dan mencantumkan nama “Marvel”. Ketika mobil melintas di ruas jalan yang gelap dan suasana dalam mobil remang-remang, aku memasukan secarik kertas tersebut ke tas tangannya .

Tindakanku berjalan mulus tanpa sepengetahuan Cintya bahkan penumpang lain samping kiriku. Aku lakukan dengan cepat. Sekelebat bayangan jurus “kunyuk melempar buah” dalam serial Wiro Sableng.

Aku berpikir positif. Cintya pasti lelah sekali. Aku rela meminjamkan bahuku untuk merebahkan kepalanya. Aku sendiri ingin tidur. Tapi kepala Cintya di pundaku membuatku urungkan niat itu.  Aku jadikan bahuku sebagai bantal bagi Cintya sepanjang jalan lintas selatan yang sepi itu.

Aku tak tahu apa yang ada di benak Cintya sendainya tahu akulah yang meminjamkan bahuku ini kepadanya. Cintya mungkin juga sadar dan tahu itu tapi ia tidak mungkinkan mengunkapkannya. Alasan yang tepat adalah ia tertidur dan kantuk.  Semakin lama, semakin terasa berat di pundakku. Kepala Cintya bertumpuh seratus persen pada pundakku malam itu.

Putra dari lelaki di depanku muntah, sopir memanggil Cintya.

“Bu Dokter tolong kantong plastik.” Pinta sopir.

Bu Dokter tersadar dan mengambil kantong plastik yang diselipkan pada kantong kursi di depannya. Aku berpikir dan bertanya dalam hati.

“Apakah Cintya benar-benar tidur atau setengah tertidur – antara tidur dan sadar?” Aku membathin.

Aku baru tahu wanita yang duduk di sebelahku adalah seorang dokter. Setelah memberikan kantong plastik kepada sopir, Cintya tidur lagi. Lagi-lagi bahuku menjadi sandarannya. Ia sadar lagi ketika sopir memarkir mobil di halaman kos-kosan yang ditempatinya. Ia turun dari mobil dan pamit kepada kami semua. Aku menatapnya dan tersenyum dalam hati serta berharap ia membaca tulisan pada sepotong kertas yang kumasukan kedalam tasnya.

Harapanku pupus. Aku mengira ia akan menelepon atau mengirimkan SMS setelah menemukan tulisan itu. Ternyata itu hanya ilusi belaka. Seminggu aku di Malaka tak satupun telepon atau SMS dari nomor baru. Aku terus berharap dari waktu ke waktu. Minggu demi minggu, bulan demi bulan bahkan tahun demi tahun, aku tak mendapatkan kabar Cintya.

Entah mimpi apa yang menghinggapi tidurnya, lima tahun kemudian sejak pertemuan di mobil travel itu ia menelepon dan mengirimkan SMS untukku. Meskipun awalnya aku meragukannya, setelah ia mengurai detail peristiwa lima tahun yang lalu saya pun meyakini akan kebenaran fakta itu.

Sejak itu kami saling sering meneleponnya. Dipenuhi dengan canda dan tawa. Gambaran yang sangat berbeda ketika aku bertemunya pertama kali di mobil travel tersebut. Ia lebih cool dan murah senyum.

Suatu hari aku beranikan diri menanyakan sesuatu kepadanya. Pertanyaan yang mungkin akan mengusik perasaannya. Jawabannya pun mungkin panjang.

“Mengapa Cintya tidak menghubungiku setelah mendapatkan nomor itu?”

Cintya hanya tertawa lepas. Getaran tawanya seperti menyimpan sesuatu yang sangat getir. Aku berusaha dengan berbagai daya upaya rayuan hingga akhirnya ia mengungkapkan seluruh isi hatinya.

“Aku tak menghubungi kamu karena aku tak mau mengingkari kekasihku.”

“Kekasihmu yang mana?”

“Ia yang menghantar aku ke Oesapa waktu itu.”

“Ya, ya, aku ingat. Ia yang berdiri dan bersandar pada pintu mobil waktu itu dan kemudian pamit dengan kamu khan?”

“Yup.”

“Apakah ada alasan yang menyebabkan kalian berpisah?”

“Tentu dong. Kalau nggak ada masalah, mana ada aku menelepon kamu?” Dijawabnya dengan canda.

“Lalu, aku tempat pelarianmu?”

Nggak juga. Waktu itu aku masih dimiliki oleh orang lain. Aku nggak mungkin meninggalkannya. Ketika aku dikianati aku baru sadar dan tahu kamu dapat menjadi kekasih yang baik. Kalaupun tidak menjadi kekasih yang baik, kamu dapat menjadi teman yang baik.”

Kok, bilang aku kekasih sih? Darimana kamu tahu kalau aku dapat menjadi kekasih yang baik?”

“Lantas untuk apa kamu meninggalkan nomormu di tasku? Kalau bukan kamu ada perasaan denganku khan?”

“PD amat kamu, Cintya.” Candaku.

Akh, Marvel nggak usah mengelak. Jujurlah padaku.”

“Tidak, kok. Aku taruh aja.”

“Haha…Kamu bisa juga bercanda ya?”

“Tidak juga.”

“Haha…”

Sejak itu kami saling telepon dan mengirimkan SMS. Bercanda. Ia memang tidak meneleponku tapi secarik kertas yang ia temukan di tasnya ditempelkan pada diary-nya. Untuk meyakinkan pemilik nomor itu, ia memasukan nomorku ke dalam daftar kontaknya. Dengan bantuan aplikasi Whatsapp, ia mendapatkan sepintas wajah sang pemilik nomor tersebut. Tanpa ia mengirimkan pesan atau menelepon, ia dapat mengetahui pemilik nomor itu dari aplikasi ini.

“Maafkan aku bila aku tak pernah meneleponmu.”

“Ya. Aku paham dengan situasimu saat itu.”

“Secarik kertas yang tertulis nomormu aku tempelkan pada buku diary-ku.”

“Wow. Pacarmu tahu akan hal itu.”

Nggak-lah, diary khan hanya dibaca olehku.”

Kehadiran Cintya menghidupkan kembali benih-benih perasaan yang sudah layu dan nyaris mati. Keberadaannya di tengah situasi yang sulit sebagaimana seperti aku diapiti Cintya dan wanita dengan balita itu. Ia membawa aku pada pilihan yang maha berat; memilihnya atau melepaskan kekasih yang berjalan denganku dua tahun terakhir ini.

Aku sadar bahwa kekasihku yang kini adalah pilihan karena sebuah pelarian yang tak kunjung dapat kabar dari Cintya. Sejauh ini kami berjalan bersama dan saling memahami perbedaan, kelebihan dan kekurangan masing-masing. Tapi, hatiku tidak bisa berbohong kalau perasaanku pada Cintya sekeras cadas. Raut wajahnya terus membayang-bayangi langkah hidupku sejak pertemuan di travel itu.

Kini telah hadir Jessica di sisiku. Memang aku melewati masa-masa yang sulit  saat mencintainya. Tapi bukankah cinta memerlukan waktu untuk berproses? Aku tak mungkin berpaling pada Cintya. Cintya adalah mimpi masa lalu yang baru muncul masa kini.

“Maafkan aku, Cintya. Aku tak dapat memungut waktu yang sudah dibuang saat engkau datang. Seperti katamu jikalau aku tak dapat menjadi kekasihmu yang baik, aku dapat menjadi sahabatmu yang baik. Waktu penantianku akan jawabanmu terlalu lama hingga aku menemukan Jessica yang mengisi ruang hatiku.”

Tentang Penulis: Giorgio Babo Moggi

Gambar Gravatar
Menulis adalah cara untuk mengekspresikan pendapat atau pikiran tanpa terbelenggu.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *