Sao Pustaka dan Spirit Membumikan Literasi

oleh
Sao Pustaka Gebha Wea Kampung Woeloma, Desa Nenowea, Kec. Jerebuu (Foto: Dok. John Lobo)
Sao Pustaka Gebha Wea Kampung Woeloma, Desa Nenowea, Kec. Jerebuu (Foto: Dok. John Lobo)

House dan home adalah dua kata dalam bahasa Inggris yang secara harafiah artinya sama, yakni rumah. Selain arti harafiah sama, kedua kata ini memiliki wujud fisik.  Fungsinya pun sama. Menjadi tempat berlindung orang dari cuaca panas dan dingin.

Ternyata bukan hanya orang Inggris yang memiliki satu arti dari dua kata yang berbeda.  Orang Ngada, Nagekeo, Ende dan berbagai suku lain di negeri ini pun sama. Orang Ngada dan Nagekeo misalnya memiliki dua kata yang bisa dipadankan dengan kata  house dan home (dalam konteks pemaknaan).

Orang Ngada dan Nagekeo mengenal dua kata untuk menggambarkan rumah, yaitu sao dan keka. Diferensiasi sao dan keka jelas, yakni tempat sao atau keka itu dibangun. Jika rumah itu dibangun di kampung, maka itu dikenal dengan sebutan sao, sedangkan rumah yang dibangun di kebun disebut dengan keka (pondok).

Baik home maupun sao tidak sekedar bangunan. Di dalamnya mengandung roh dan nilai-nilai yang dianut. Dengan kata lain, home dan sao menggambarkan suasana di dalam rumah itu sendiri. Adagium mengatakan “home sweet home” – rumahku, surgaku. Jadi di sini suasana yang dimaksudkan untuk menggambarkan home dan sao.  Sehingga ketika berbicara home atau sao, arah pikiran kita akan bermuara pada komunitas kecil yang namanya keluarga.

Di sinilah letak perbedaan antara home dan sao dengan house dan keka. House dan keka lebih pada fisik bangunannya tapi tanpa roh dan nilai-nilai yang dikandungnya. Tak heran kalau kita menemukan di keka alias pondok, hidup pula binatang peliharaan bersama penghuninya. Karena fungsinya bersifat temporer sebagai tempat berlindung, sementara home dan sao melampui dimensi rumah sebagai bangunan fisik.

Dalam konteks tradisi dan budaya Ngada dan Nagekeo, sao diidentikkan dengan rumah adat. Berbicara rumah adat, maka muaranya di kampung adat. Sao menjadi tempat hunian keluarga dan menjadi kiblat dari sudut pandang sejarah, warisan dan peradaban serta ritual adat dan budaya komunitas etnis (suku/woe) diselenggarakan.

Berbeda dengan keka. Dibangun asal jadi. Tidak mempertimbangkan aspek arsitektur yang berbasis aturan atau petunjuk adat istiadat yang dianut. Maka sao memiliki bentuk dan wujud arsitektur yang kental dengan adat dan istiadat suku atau etnis tersebut. Bentuk atap, tiang kolong dan berbagai disain interiornya berdasarkan nilai-nilai budaya yang dianut dan mengandung arti tertentu. Pilihan material bangunan pun dengan ketentuan tersendiri.

Sao adalah induk dari generasi sebuah etnis/woe. Karena di sini, sao, adalah rahim dari sebuah keluarga. Dari sao keturunan woe beranak cucuk dan tersebar ke seantero bumi. Sao pula menjadi tempat pencarian keadilan, identitas masyarakat. Sao pula adalah kewibawaan atau waka warga suku atau masyarakat adat (Lobo, 2017).

Berangkat dari itu, John Lobo mendirikan Sao sebagai brand gerakan literasi di kampung-kampung adat. Lengkapnya gerakan itu bernama Sao Pustaka. Gagasan sederhana ini  hendak memaksimalkan fungsi rumah adat sebagai lingkungan yang literat. Sehinga terjadi tranformasi intelektual melalui kegiatan membaca, mengamati, menyimak, menulis, dan menyampaikan ide atau gagasan antar sesama warga kampung.

Konsep Sao Pustaka sederhana saja. Bermodalkan rak buku atau pojok buku dengan berbagai aneka bacaan untuk segala usia.  Sang pegagas bahkan sudah memikirkan untuk menyediakan sejumlah literatur   budaya.

Pembaca tidak hanya memperkaya diri dengan pengetahuan tapi mereka juga harus mampu memproduksi pengetahuan melalui tulisan. Referensi budaya sangat banyak. Para tokoh adat adalah narasumber yang dapat dijadikan referensi untuk memproduksi pengetahuan. Begitu pula banyak ritual, tradisi, simbol-simbol, dan bahasa adat yang perlu diwariskan dan dilestarikan dalam tulisan.

Memproduksi pengetahuan semata-mata tidak hanya melalui tulisan. Banyak cara yang ditempuh dalam rangka menyatakan dan memahami ide-ide dan informasi. Hal yang bisa dilakukan melalui  bentuk teks inovatif,  penggunaan simbol dan bahkan divisualisasi dalam produk multimedia (Abidin, 2015).

Sao Pustaka menyadari bahwa perkembangan dunia literasi sangat dinamis. Pembaca didorong untuk memahami teks dan konteks. Sesungguhnya kemampuan ini terjadi  sejak manusia dilahirkan hingga kematiannya. Pemahaman beragam teks dan konteks akan mendorong pembaca untuk memahami hidup dan kehidupannya sendiri dengan segala aspeknya.

Pemilihan kata sao sebagai branding dan sao sebagai tempat  akvitias literasi sangatlah tepat. Mengapa? Sesungguhnya sao merupakan basis literasi sejak jaman lampau atau leluhur kita hidup meskipun mereka lebih mengedepankan tradisi lisan karena keterbatasan media dan alat tulis. Lain halnya kini, budaya menulis lebih maju karena dukungan perangkat teknologi.

Dongeng misalnya adalah bentuk lain dari literasi. Mereka menghidupkan cerita berdasarkan tradisi lisan. Mereka andalkan kemampuan memori dan komunikasi.  Sehingga kehadiran Sao Pustaka di kampung-kampung adat, sesungguhnya John Lobo hendak mengembalikan kitah rumah adat sebagai candramuka pengetahuan sebelum lembaga pendidikan formal terbentuk. Karena di dalam sao ada keluarga. Terjadi interaksi dan proses transfer pengetahuan, pendidikan dan pembelajaran yang semuanya dilakukan secara lisan.

Pemilihan sao sebagai komunitas literasi menghidupkan dimensi sao yang diyakini secara turun temurun sebagai rumah, roh, dan nilai-nilai yang dianut di dalamnya. Maka diharapkan adanya Sao Pustaka tidak sekedar rumah atau bangunan tanpa roh/jiwa. Sao Pustaka harus mampu menghadirkan ruang baca yang bersuasana sao. Dimana ada kehidupan, adat istiadat, budaya dan tata krama yang dijunjung tinggi dimana Sao Pustaka itu berada. Tentunya dari sanalah pengetahuan diproduksi oleh warga baca dan jejaringannya.

Pemilihan nama Sao Pustaka sangat dalam maknanya. Lebih dalam dari nama pondok baca, rumah baca, taman baca dan sebagainya. Alasannya sebagaimana penulis uraikan di atas.

John Lobo melalui Gerakan Katakan Dengan Buku dan branding literasi Sao Pustaka telah menginspirasi dan menularkan virus literasi dan lahirnya simpul-simpul pustaka yang membumikan literasi di bumi Ngada.

Sao Pustaka Gebha Wea

Kampung Woeloma, Desa Nenowea, Kec. Jerebuu
Pengelola: Ubaldus Bengu. CP. 081354715514

Sao Pustaka Narunua
Kampung Palianaloka, Desa Legeriwu, Kec. Inerie
Pengelola: Siprianus Laluloka. CP. 085253259339

Rumah Literasi Cermat
Desa Nginamanu Kec.Wolomeze, Kab. Ngada
Pengelola: Emanuel Djomba. CP. 082247584478

Teras Baca Wogo
Kampung Wogo – Desa Ratogesa – Kecamatan Golewa
Pengelola: Anselmus Dhewa. CP. 081338928656

Taman Baca Mangulewa
Depan Gereja Katolik Paroki Mangulewa-Kecamatan Golewa Barat
Pengelola: Hancel Goru Dolu. CP. 081334032257

Teras Baca Wakomenge
Jl. Wakomenge RT.04 RW.02 Kelurahan Jawameze Kecamatan Bajawa.
Pengelola: Andreas Ngete. CP. 082139509756/081338901508

Taman Baca Sakura
Gereja Katolik Santo Fransiskus Asisi dan Santa Clara Aimere
Pengelola: RD.Arnold Yansen Triyono. CP. 085239299976

Taman Baca Sekami Sta. Agnes  
RT.005 RW.003 Bongiso Kel. Jawameze-Kec. Bajawa.
Pengelola: Laurensius B Ngiso. CP. 0812390574

Sao Pustaka Tololela
Kampung Tololela Desa Manubhara Kec. Inerie
Pengelola: Magdalena Bupu. CP. 082148632633

Taman Baca Djanuario Mataloko
Lorong SDK Mataloko-Komp. Pensiunan Kelurahan Mataloko.
Pengelola: Prisko Januarius Djawaria Pare, SH.MH. CP. 081342916657

Taman Baca Rumah Kita
Desa Golo Riung; Kec. Riung
Pengelola: Wondo Yohanes Don Bosko (Olland). CP. 082266014443

Tentang Penulis: Giorgio Babo Moggi

Gambar Gravatar
Menulis adalah cara untuk mengekspresikan pendapat atau pikiran tanpa terbelenggu.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *