Sanggar Sindo: Menghidupkan Legenda Melalui Tari

oleh
Penari Sanggar Sindo Ende (Foto: Hobbyjao.blogspot.com)
Penari Sanggar Sindo Ende (Foto: Hobbyjao.blogspot.com)
Penari Sanggar Sindo Ende (Foto: Hobbyjao.blogspot.com)

KOEPANG.COM – Musrenbang RKPD 2017 Kabupaten Ende 2016 (30/03/2016) di Aula Kantor Bupati Ende berlangsung meriah. Kemeriahan acara ini tidak terlepas dari tarian-tarian yang diperagakan oleh para penari dari Sanggar Sindo Onekore.

Kisah Berdiri Sanggar Sindo

Koepang.Com mewawancarai salah seorang penari sekaligus koreografernya, Rickyn Radja di ruang Sekretarat Bupati Ende. Rickyn, alumni STMIK AKAKOM Yogyakarta ini, menuturkan kilas balik terbentuknya Sanggar Seni Onekore.

Sangar Sindo terbentuk  setelah pertemuan empat mata Rickyn dengan ibu Lin Rewa, pemilik butik, salon, dan sanggar senam aerobik, di Kota Ende. Pertemuan ini berlangsung pada pesta pernikahan salah satu kerabatnya. Pembicaraan mereka  mengerucut pada dunia entertaiment, khususnya seni tari hingga menggagas pembentukan sebuah  sanggar seni kecil.  Maka bulan Juni 2011 sanggar ini dibentuk.

Semenjak itu, Rickyn mulai merekrut talenta-talenta muda untuk bergabung dalam sanggar ini. Mereka mulai menggarap tarian kolosal lokal mini. Seluruh tema dan cerita diangkat dari kegiatan sehari-hari atau legenda yang ada di Kabupaten Ende.

Visi Sanggar Seni Sindo Onekore sederhana saja; mempertahankan kekayaan kultur daerah yang mungkin sangat sulit dipertahanankan oleh generasi muda saat ini. Rickyn mulai bergerak dengan pengalaman kecilnya ketika kuliah di Yogyakarta. Pengalaman itulah menjadi referensinya untuk mengembangkan sanggar seni ini secara bertahap.

Rickyn mengaku adanya keterbatasan pada permulaan terbentuknya sanggar ini. Misalnya tempat latihan yang kecil, properti yang terbatas dan kelompoknya masih kecil kecil. Keterbatasan ini tidak membuat Rickyn patah semangat. Ia terus melatih rekan-rekan yang tergabung dalam kelompok kecil ini untuk lebih percaya diri di atas panggung dengan fashion show.

Tampil di Berbagai Ajang

Rickyn dan kawan-kawan tampil pertama kali pada acara Bintang Radio RRI Ende pada tahun 2012. Mereka menampilkan tarian kontemporer Legenda Ia dan Wongge. Tarian ini menampilkan sisi kultur masyarakat Ende yang berkaitan dengan kehidupan sehari-sehari seperti menumbuk padi.

Dari ajang Bintang RRI Ende,  perjalanan sanggar ini semakin menanjak yakni dengan ikut sertanya mereka pada event Jambore Pariwisata di Atambua. Pada acara ini mereka mementaskan tarian Danau Kelimutu yang menceritakan legenda Kelimutu, khas dan unik dari Kabupaten Ende. Dari 15 peserta berbagai kabupaten/kota di NTT, Sanggar Sindo meraih trofi juara pertama.

Dari Jambore Pariwisata di Atambua, Sanggar Sindo dikirim ke Bali. Ikut serta dalam event tahunan, yanti Pentas Kesenian Bali yang melibatkan peserta dari berbagai negara dan seluruh kelompok seni di Pulau Bali. Pada event tersebut, Kabupaten Ende dan Sumba mewakili NTT.

Tidak berhenti di situ, Sanggar Sindo mewakili NTT bersama Provinsi DIY dan DKI Jakarta mendapat kesempatan emas untuk tampil di Palmerston, Darwin, Australia (6-8 Mei 2016). Acara ini didukung oleh Kedutaan Australia untuk Indonesia dan Citra Indonesia (kelompok orang Indonesia yang menetap di Australia). Sanggar Sindo membawakan  tarian keti pare, tarian kelimutu (Ende), hegong (Sikka), hedung (Alor), ja’i (Ngada) dan sanggu alu (Manggarai).  Selain traian, mereka membawakan lagu sigo lempong, degha-degha, ana sai, ie-ie. Arasemen dengan musik gong dan gendang.

Pengurus Sanggar Sindo

Struktur Sanggar Sindo terdiri dari Emanuel Taji (Pembina), Lin Rewa (Ketua),  Rickyn Radja (Koreografer), Stanislaus More (Administrasi dan Keuangan), Polce Febrian Pake (Humas), Mikhael Thomas Ire (Wardrobe), Donatus Madu dan Louis Thomas Ire (Musik), Herdianto, M Dadang Alfiansyah, Maria Kurniati Heny Mbare, Yohana Mbaru, Emerensia Mbere, Yohana Maria Fatima Barus, Ida Kadek Ayu Kastari, dan kawan-kawan (Penari). ***

Tentang Penulis: Giorgio Babo Moggi

Gambar Gravatar
Menulis adalah cara untuk mengekspresikan pendapat atau pikiran tanpa terbelenggu.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *