Rumah Pesanggarahan Belanda Sisi Lain Pesona Kelimutu

oleh
Berpose di Rumah Pesanggrahan Belanda (Foto: Dok. Pribadi)
Berpose di pelataran puing-puing Rumah Pesanggrahan Belanda (Foto: Dok. Pribadi)

Kelimutu bak bidadari. Pesona menghipnotis pekelana. Namanya kesohor membumbung langit dunia. Menantang siapapun datang mencumbuinya.

Sisi lain yang luput dari perhatian peziarah alam. Situs yang menyimpan sejuta kisah historis. Jejak Belanda di belantara Kelimutu. Ya, Remains Dutch House, puing-puing rumah Belanda.

Letaknya tak jauh dari parkiran. Tepat di tikungan jalan menuju puncak Kelimutu. Tak sulit menemukan pintu masuk menuju tempat ini. Sebuah gapura kecil bertuliskan, “Kelimutu National Park – Remains Dutch Houses (Rumah Pesanggrahan Belanda).

Ansel Wesa Mesi berpose di Jembatan menuju Rumah Pesanggrahan Belanda (Foto: Dok. Pribadi)

Pengunjungi menuruni anak tangga. Kemudian melintas di atas jembatan kecil. Lalu menapaki anak tangga hingga menemukan pelataran rumah pesanggarahan Belanda.

Jalan yang menghubungakn parkiran dengan rumah Belanda terbuat dari semen. Semenisasi. Tak alamiah. Demi kenyamanan pengunjung, tak syarat lain kecuali membuat lintasan yang nyaman dilalui pengunjung.

Berada di tempat ini, mata kita disegarkan oleh pemandangan yang hutan. Pepohonan yang menghijau. Khas tumbuhan hutan tropis yang nyaris kita tak jumpai di kota.

Kawasan ini memang tak didandan kecuali jalan penghubung ke rumah pesanggrahan Belanda. Menyebut rumah, pikiran kita akan berasosiasi dengan bangunan tua yang berdiri utuh. Tidak! Sebagaimana pada papan nama, pesanggrahan ini hanyalah berupa puing-puing banguan yang masih dirawat sebagai situs sejarah.

Rumah telah ambruk. Menyisahkan tembok setinggi 3-5 meter yang dipagari rantai besi. Memiliki pelataran yang luas. Mengitari puing-puing bangunan ini. Tribun kecil mengelilingi pelataran. Pengunjung dapat duduk di tribun ini. Sekedar rehat sejenak, bercerita atau bercengkerama.

Melihat tatanan bangunan ini memang disengaja untuk kenyaman pengunjung. Mereka dapat bercengkerama di tempat ini.  Ini terlihat dari bangunan tempat duduk.

Nelcy, Skenet, Telda, Leo, dan penulis berpose di tangga menuju  Rumah Pesanggrahan Belanda (Foto: Dok. Pribadi)

Pasanggarahan Rumah Belanda dapat menjadi tempat terakhir persinggahan setelah kawah Danau Kelimutu. Tempat yang tepat untuk berbagi kisah atau istirahat sejenak. Menghirup hawa pegunungan yang asri. Sambil memandang dan mengamati tumbuhan khas tropis.

Sayangnya, kita tak mendapatkan banyak informasi  keberadaan tempat ini. Kapan rumah ini dibangun? Kapan orang Belanda meninggalkan tempat ini? Mengapa mereka memilih tempat ini? Dan masih seribu satu pertanyaan lain yang tak terjawab ketika penulis berada di tempat ini. Karena memang kita tak menemukan  papan informasi di lokasi tersebut.

Meskipun dengan segala keterbatasannya, saya rekomendasikan tempat ini layak disinggahi sebelum Anda beranjak dari Kawasan Taman Nasional Komodo.

Tentang Penulis: Giorgio Babo Moggi

Gambar Gravatar
Menulis adalah cara untuk mengekspresikan pendapat atau pikiran tanpa terbelenggu.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *