Rayakan Natal dan Tahun Baru di Austria, Mimpi yang Menjadi Kenyataan

oleh
Agnes Ladja (Foto: Facebook.com/AgnesLadja)
Agnes Ladja (Foto: Facebook.com/AgnesLadja)

| KOEPANG.COM | Rayakan Natal dan Tahun Baru di Austria, Mimpi yang Menjadi Kenyataan. Kamis (7/1/15), Agnes Ladja, gadis Maurole, Ende, yang sedang mendalami bahasa Jerman di Austria melalui Program Orang Tua Asuh telah berbagi kisah, tujuan, dan aktivitasnya di sana. Kali ini, Agnes berbagi pengalaman natal dan tahun baru di negeri Mozart, musisi besar dunia. Berikut petikan wawancara dengan Koepang.Com.

Apa yang Anda ketahui tentang Austria?

Jujur, saya tidak banyak tahu tentang Austria sebelumnya. Yang saya tahu tentang Austria adalah salah satu negara yang berbatasan langsung dengan Jerman yang beribukotakan Wina dan menggunakan bahasa Jerman sebagai bahasa nasionalnya.

Austria juga merupakan tempat lahir seorang komponis besar dunia Wolfgang Amadeus Mozart. Tempat shooting film kesukaan saya yaitu “Sounds of Music“.

Setelah saya berada di sini, saya menjadi lebih banyak tahu tentang Austria dan akhirnya saya berani bilang; “I hob Österreich so liab“. Ungkapan ini adalah ungkapan bahasa Jerman tapi dengan dialek Austria untuk mengatakan “saya cinta Austria atau dalam bahasa Jerman formalnya, Ich habe Österreich so lieb.

Apakah apa yang kamu lihat atau ketahui tentang seperti yang diceritakan guru sejarah, buku bacaan, atau cerita orang?

Ya, bisa dibilang seperti itu. Tapi yang saya alami langsung ternyata lebih banyak dan lebih menarik dari apa yang saya pelajari sebelumnya.

Bagaimana perasaan atau suasana bathinmu menyongsong natal dan tahun pertama di Benua Biru?

“Hmm… Perasaannya campur aduk. Di satu sisi saya bahagia karena akhirnya saya bisa mendapatkan kesempatan merasakan suasana natal di negara orang yang tradisi natalnya begitu kental.

Sejak akhir bulan november suasana natal di sini sudah mulai terasa karena setiap sudut kota dan jalanan sudah didekorasi secantik mungkin dengan kerlap kerlip lampu hias untuk menyambut natal.

Di sini ada Pasar Natal atau biasanya disebut Christkindlmarkt. Waahhh… cantik, bagus, indah, keren, cakep, damai. Semuanya ada di sini. Suasananya bisa jadi soooooo romantisch. Tetapi, saya merasa ada yang kurang. Saya rindu keluarga dan teman-teman saya di tanah air beta, Flores.

Lantas, apa yang paling berkesan saat merayakan natal di Austria?

Yah kalau di sini, saya mengalami langsung yang namanya semangat dan damai natal. Dapat kalender advent dengan full of Schokolade (coklat) hehe… Dapat kado dari Nikolaus yang ditaruh di depan pintu kamar. Juga, dapat kado ketika malam natal. Hahaha…

Ke gereja sama keluarga asuh, ikut menyanyikan lagu natal berbahasa Jerman, melihat dan bermain bersama anak-anak bule yang lucu-lucu menggemaskan.

Benar-benar suasana Natal yang tidak bisa saya lupakan. Satu mimpi saya adalah bisa merayakan White Christmas seperti yang ada di film-film natal yang pernah saya tonton. Tapi sayangnya salju tidak turun saat natal. Hahaha. Cuacanya sudah berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya. Sedikit kecewa memang.

Lantas, kekecewaan ini membuat anda bersedih?

Tidak menjadi masalah besar. Buat saya tidak ada duka di saat Natal! Saya hanya merindukan keluarga di Flores. Tetapi saya tetap bahagia karena orang tua asuh saya mengerti itu. Mereka meminjamkan Handphonenya agar saya bisa menelpon keluarga di Flores. Mengobrol dan mengucapkan selamat natal untuk keluarga di rumah dan orang tua asuh saya juga sempat mengucapkan selamat natal dalam bahasa Indonesia ke keluarga saya. Asyik bukan?

Apakah anda ke gereja pada malam natal dan bagaimana suasananya?

Ya, pasti kami semua ke gereja untuk mengikuti misa malam natal. Gerejanya tidak jauh dari rumah. Hanya sekitar 10 menit dengan mobil. Gereja terletak di atas bukit.

Semua bangku di dalam gereja terisi penuh. Kami sekeluarga pun harus mencari-cari bangku yang mungkin masih kosong dan akhirnya kami mendapatkan tempat paling belakang. Tapi itu bukan suatu masalah. Yang penting kami bisa mengikuti misa dengan khusuk. Lagu-lagu natalnya membuat saya sangat rindu gereja di kampung saya. Oh ya, ada juga drama natal di gereja yang ditampilkan oleh anak-anak. Yah.. suasana natal memang penuh kedamaian.

Bagaimana perbandingan suasana natal di sini dan natal di Flores?

Tidak jauh berbeda juga sebenarnya dengan natal di Flores. Tapi biarkan saya bercerita sedikit tentang natal di Flores. Untuk menyambut natal, semua umat di Flores juga merakit pohon natalnya sendiri walaupun bukan dari pohon natal asli. Itulah yang membuat orang Flores menjadi lebih kreatif. Orang-orang juga menghias rumah dengan lampu-lampu hias walaupun itu tidak banyak. Saya juga merindukan makanan yang ada setiap natal. Aaahh…. Pasti anak Flores yang merayakan Natal mengerti makanan apa yang maksudkan. Nasi Bambu, Sayur rumpu rampe, Sup babi, babi panggang. Aahhh… itu enak sekaliii… Percaya sama saya. Hehehe

Kalau misa di gereja, kita akan mendengarkan suara-suara orang Flores yang begitu merdu bernyanyi dalam koor dan itu luar biasa sekali.

Oh ya, di Flores ada tradisi menyuarakan meriam bambu tanda kegembiraan. Biasanya dimulai dari minggu Advent sampai Natal dan bahkan malam pergantian tahun lalu disambut pesta kembang api. Menurut saya itu keren. Tidak semua daerah miliki tradisi seperti ini.[irp posts=”463″ name=”Agnes Ladja : Belajar Bahasa Jerman Sambil Perkenalkan Flores di Austria”][irp posts=”97″ name=”Natal, Spirit Untuk Memberi dan Berbagi”][irp posts=”30″ name=”Natal Pertama di Sidney Sesuatu Banget”]

Bagaiman dengan suasana perayaan tahun baru di sini?

Saya bahagia sekali karena yang saya tunggu-tunggu selama ini akhirnya datang juga, yaitu salju. Ahahahaha…. Tapi lebih dari itu saya banyak bersyukur untuk segala hal yang sudah saya lewati selama tahun 2015. Entah yang buruk, entah yang baik, yang boleh saya alami. Terlebih saya boleh merasakan hal-hal luar biasa ini dengan keluarga asuh yang begitu baik. Semoga tahun 2016 bisa menjadi tahun berkah buat kehidupan saya selanjutnya.

Oh ya, bagaimana dengan pesta kembang api menyambut tahun baru di Austria?

Nah, pada tanggal 1 Januari baru ada pesta kembang api dengan skyshow yang sangat spektakuler. Cantik sekali. Kami merayakan tahun baru atau biasa disebut di sini dengan “Silvester“ di salah satu kota kecil bernama Kitzbühel. Kota yang sangat kecil tapi juga sangat indah di daerah pegunungan Alpen. Di sinilah pesta kembang api diadakan.

Di luar sana, ada banyak generasi muda NTT yang memiliki impian sepertimu; bisa belajar bahasa dan budaya orang, menikmati natal dan tahun di benua lain. Apa pesanmu kepada mereka?

Hahahhaa.. Rasanya saya belum pantas untuk memberi pesan ke orang-orang. Saya juga belom menjadi siapa-siapa.

Namun, dengan pengalaman saya ini, saya hanya ingin bilang ke generasi muda untuk tidak pernah berhenti belajar, berhenti membaca dan mencari ilmu-ilmu positif, mencari info-info beasiswa dan kesempatan tinggal di luar negeri.

Sebelumnya kuasai bahasa asing dulu. Minimal Bahasa Inggris. Tidak hanya tahu internet dan aktif di semua media sosial dan update status. Karena Facebook dan Google bisa lebih berguna daripada sekedar update status. Lebih penting adalah, belajar bahasa Asing.

Ludwig Josef Johann Wittgenstein, seorang filsuf Austria paling berpengaruh pada abad 20 saja pernah bilang begini “Die Grenzen meiner Sprache bedeuten die Grenzen meiner Welt“ yang artinya “Batas pengetahuan bahasaku adalah batas duniaku“.

Bisa dibilang, duniamu hanyalah sejauh pengetahuan bahasamu. Jadi kalau dirimu hanya tau bahasa Lio, maka pengetahuanmu juga sekitaran Lio saja. Hehehhee… so, masih tidak inginkah belajar bahasa asing? ***(gbm)

 

Tentang Penulis: Giorgio Babo Moggi

Gambar Gravatar
Menulis adalah cara untuk mengekspresikan pendapat atau pikiran tanpa terbelenggu.