Pater Ernst Wasser SVD dalam Narasi Anak Didik : Dari Gitar dan Seruling Mampu Melahirkan Doktor Musik

oleh
P. Vincentius Adi Gunawam Meka SVD, alumni SMP St. Klaus, doktor musik lulusan John Paul II Catholic University Lublin Polandia
P. Vincent Adi Gunawan Meka SVD, alumni SMP St. Klaus, doktor musik lulusan John Paul II Catholic University Lublin Polandia

Berbicara tentang Pater Wasser tidak cukup sejam. Menulis tentangnya pun tak cukup hanya satu bab. Membutuhkan waktu, tenaga dan refleksi mendalam sebelum  berbicara ataupun menulis tentangnya.

Dalam kacamata penulis,  ia adalah sosok yang tak habis ditulis. Jikalau pun ditulis kisah hidup dan nilai-nilai keteladannya tak mampu dituangkan seluruhnya.  Dengan segala keterbatasan penulis dan kekayaan nilai hidup seorang Ernst Wasser, pada malam lalu saya melemparkan sebuah pertanyaan dalam group Whatsapp teman-teman seangkatan SMP Sancla 1989-1990.

“Apa komentar Anda tentang Pater Ernst Wasser SVD?”

Setiap orang dengan pandangannya masing-masing. Dari diskusi, penulis menemukan beberapa kata kunci yang mewakili sosok Pater Ernst Wasser SVD. Ada yang menyebut ia sebagai seorang yang visioner, bapak pembangunan, dan sebagainya. Ungkapan hati beberapa teman-teman mewakili semua teman-teman yang pernah dikandung dan dilahirkan di dan dari rahim St. Klaus (Sancla).

Penulis sepakat dengan itu. Sebelum berbicara tentangan kandungan nilai-nilai keteladan Pater Wasser, lagi penulis melanjutkan narasi tentang Pater Wasser sebagai lanjutan dari tulisan terdahulu (Baca: Pater Ernst Wasser SVD dalam Narasi Anak Didik: Bertolak ke Lembah Waebalak dan Mengenal Dirinya).

Saat pertama kali tiba di Kuwu saat ‘musim dingin’. Keadaan yang bertolak belakang dengan lingkungan lama saya di Maumere. Udara pagi yang panas menyengat. Di sini, ada kebiasaan kalangan siswa berjemur di matahari pagi. Biasanya menunggu jam makan pagi atau sebelum pelajaran pagi dimulai.

Saya sulit membayangkan bagaimana awalnya Pater Wasser  ‘menyulap’ bukit dan lembah ini menjadi lingkungan yang hidup, indah dan asri. Menurut pengakuan orang, tempat ini hanya area angker dan menyeramkan. Di sini  merupakan lalu lintas Motang Rua, sang pahlwan Manggarai, dan pasukannya bertempur dengan Belanda. Tempat yang menyeramkan ditaklukan oleh Pater Wasser. Menjadikan tanah yang ramah bagi  tanaman sayur-sayuran dan umbian serta persemaian kader-kader bangsa dan gereja.

Satu hal yang menarik saya adalah tata letak bangunan mengikuti konsep lodok¸ sistim pembagian sawah menurut tradisi orang Manggarai.  Titik sentralnya adalah lapangan sepak bola, lalu diikuti aula, gedung sekolah, dan asrama. Sementara di lembah Waebalak, didirikan gua Maria dan kapela St. Klaus. Kapala ini dibuat seperti kapela St. Klaus yang terdapat di Swiss – baik disain maupun material bangunannya.

Sangat tampak bahwa jiwa dan raga Pater Wasser pada budaya Manggarai sangat membumi. Ia mampu menjadikan lodok sebagai model landscape St. Klaus. Dalam tata perayaan ekaristi, Pater Wasser sangat welcome dengan inkulturasi. Salah satunya adalah ia lebih suka umat atau anggota koor menyanyikan lagu-lagu dari buku Dere Serani karya Mgr. Van Bekkum SVD. Alat musik pun demikian, ia tidak suka jika gitar dan alat musik modern yang mengiringi perayaan misa. Ia lebih suka gong dan gendang. Sehingga masa kami di sana, alat musik modern yang ada hanya gitar. Itupun beberapa buah gitar saja. Tidak lebih dari lima. Drum, gitar listrik dan lain-lain tak ada. Adapun selepas Pater Wasser melimpahkan pengelolaan St. Klaus kepada Keuskupan Ruteng.

Di satu sisi, kami memandang Pater Wasser tidak mengikuti trend perkembangan dunia musik. Tapi, di sisi lain, lagi-lagi disadari kemudian, ternyata kondisi ini memicu kreativitas kami. Tak ada rotan, akar pun jadi. Itulah yang terjadi. Ketiadaan drum, gitar listrik, organ dan lain-lain memicu kreativitas kami. Sehingga botol, ember, kaleng dan alat-alat lain menjadi alat musik kami. Biasanya atraksi ini dipertontonkan sekali seminggu pada acara rekreasi atau di sela-sela kerja bhakti atau seremonia lainnya. Ternyata bunyi peralatan tersebut dapat dipadu dan menghasilkan harmonisasi yang sangat indah. Hal ini pernah diperagakan oleh teman-teman saya seperti Elfrid Uput, Ancis Atom, Sefrin Ross dan kawan-kawan. Mereka mampu menghasilkan cita rasa musik yang sedap di telinga pendengar  dari barang-barang bekas.

Siapa sangka dengan keterbatasan peralatan musik tak mampu mematikan daya musikalitas anak-anak Sancla. Dengan alat musik seadanya, gitar dan seruling, justeru mampu membangkitkan kemampuan bermusik anak-anak St. Klaus.

Saya tidak tida mengingat semuanya teman-teman yang memiliki kemampuan musikal. Saya sebut saja, senior saya seperti abang Stef Dadur, kae Wili Hambur,  Pater Vincent Adi Gunawan Mega SVD, kawan seangkatan Sefrin Ross, Vincent Darmawan dan masih banyak lagi.  Mereka ini yang selalu mengasah kemampuan musikal dengan peralatan yang standar seperti gitar dan seruling. Tapi, siapa yang mengira dengan keterbatasan itu pula, rahim Sancla mampu melahirkan musikus-musikus berbakat. Salah satu sosok yang mengharumkan Sancla adalah Pater Sensi Adi Gunawan SVD, misionaris  di Jerman. Ia adalah alumni SMP St. Klaus yang serba bisa. Selain kemampuan akademik di atas rata-rata, ia memiliki bakat musik yang luar biasa. Bakat itu pula yang menghantarnya meraih doktor bidang musik di Polandia.

Pada titik ini, Pater Wasser menyadarkan kita, bahwa keterbatasan itu bukan hambatan. Kehebatan kita diuji bagaimana kita keluar dari keterbatasan atau mampu mengelola keterbatasan itu.

Saya sulit membayangkan apakah dengan tersedia perangkat musik modern, akankah Sancla melahirkan musikus hebat. Jawaban bisa fifty-fifty. Fakta,  dalam kesederhanaan dan keterbatasan, dari rahim Sancla melahirkan anak-anak didik yang berkemampuan musik yang baik dan benar, entah mereka sebagai dosen bidang musik, dirigen, penyanyi dan pemain musik. Ya, semuanya berawal dari gitar, seruling dan barang-barang bekas dari lembah Waebalak dan sikap “masa bodohnya” Pater Wasser terhadap peralatan musik modern. (Bersambung)

Tentang Penulis: Giorgio Babo Moggi

Gambar Gravatar
Menulis adalah cara untuk mengekspresikan pendapat atau pikiran tanpa terbelenggu.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *