Pater Ernst Wasser SVD dalam Narasi Anak Didik : Bertolak ke Lembah Waebalak dan Mengenal Dirinya

oleh
P. Ernst Wasser SVD, pendiri Lembaga Yayasan Pendidikan St. Klaus Kuwu Ruteng Manggarai (Foto: Kompas.Com)
Kedekatan bukan soal jarak  – dekat secara fisik dirinya dengan kami  – melainkan melalui pelayanan dan kepeduliaan akan kebutuhan kami. Itu yang paling nyata saya rasakan. Ia tidak pernah menjelaskan maksud dan tujuan tindakannya.
P. Ernst Wasser SVD, pendiri Lembaga Yayasan Pendidikan St. Klaus Kuwu Ruteng Manggarai (Foto: Kompas.Com)

Setiap tanggal 25 September merupakan perayaan ulang tahun pelindung Yayasan St. Klaus yang bergerak di bidang pendidikan dan pembangunan.  Yayasan ini didirikan oleh Pater Ernest Wasser SVD, misionaris berkebangsaan Swiss. Ia memilih St. Klaus sebagai pelindung mungkin karena alasan kedekatan emosional dan pula visi perdamaian yang diusung oleh Nikolaus von Flue semasa hidupnya.

Pada 2017 ini, Yayasan St. Klaus genap berusia 30 tahun. Bukan lagi usia yang muda karena telah melampui usia perak dan senang menanjak ke usia yang dewasa. Usia yang matang. Sedangkan perayaaan  St. Klaus  genap berusia 600 tahun.

Bertolak ke Lembah Waebalak

Pada kunjungan Sri Paus Johannes Paulus II di Maumere (1989), saya dikenalkan dengan rombongan  dari Pusat Rehabilitasi Kusta-Cacat Cancar, Manggarai, NTT. Mereka datang menghadiri peristiwa bersejarah umat katolik Flores tersebut sebagai undangan panitia penyelengara.  Saat itu pula saya masih duduk di kelas II  SMPK Virgo Fidelis. Saya adalah satu-satunya pelajar  putra yang tinggal di asrama binaan Biara SSpS Kotabaru-Maumere bersama para guru SPG/SMA Bhaktiyarsa.

Pertama kali tiba di Sancla, pose dengan Don Magot, sahabat satu kelas. Kata teman sekelas, wajah saya mirip Sharukh Khan waktu masih remaja…hahah (Foto: Dok. Pribadi)

Pasca kunjungan Bapa Suci, St. Johannes Paulus II, tepatnya medio 1990, saya dan Sr. Theresia SSpS, pimpinan biara Biara SSpS Kota Baru meninggalkan kota Maumere. Saat itu saya baru naik kelas II di SMPK Virgo Fidelis, binaan konggergasi ini.

Kami berlayar di atas Kapal Ratu Rosari ke arah barat. Kapal yang melenggenda itu membuang jangkarnya di Pelabuhan Kedindi, Reo, Manggarai, sebelum melanjutkan pelayaran panjang ke Pelabuhan Perak Surabaya.

Kami turun kapal dan meneruskan perjalanan ke Kota Ruteng. Kami menginap di Biara SSPS Ruteng selama semalam. Keesokan harinya, saya melanjutkan perjalanan ke Pusat Rehablitasi Kusta-Cacat Cancar. Sebuah ibukota kecamatan yang terkenal dengan tatanan sawah yang berbentuk sarang laba-laba (spider rice field).

Setiba di Cancar saya bertemu dengan Sr. Virgula SSpS, Mother Teressa of Manggaraian (Ibu Teresa bagi orang Manggarai), perintis dan pendiri pusat rehabilitasi Panti Damian. Tanpa tawar menawar, ia langsung menegaskan saya harus masuk di SMP yang dikelola oleh Yayasan Pendidikan St. Klaus Kuwu Ruteng milik Pater Ernst Wasser SVD.

Tujuan kedatangan saya ke Manggarai berubah. Sejatinya saya datang untuk perawatan kaki (fisioterapi) di Panti Damian, Sr. Virgula malah mengirimkan saya sekolah ke St. Klaus yang berjarak sekitar 5 kilometer.

Saya sama sekali tak memiliki bayangan tentang St. Klaus. Angan-anganku hanyalah Cancar sebagaimana diceritakan orang. Namun Suster Virgula membuka pintu baru pertualanganku ke Kuwu. Saat saya tiba di di Manggarai, tahun pelajaran sudah dimulai. Hubungan baik Suster Virgula dan Pater Wasser, demikian kami biasa sapa, hal itu bukan halangan. Saya disambut oleh Sr. Josephine PRR (sosok yang keras dan displin),  kepala sekolah SMP waktu itu. Saya bergabung dengan siswa kelas 2D.

Awal Mengenal Sosok Pater Wasser

Alasan Suster Virgula mengirimkan saya ke St. Klaus,  sekolah di sana kurang bermudu (meminjam kata yang biasa diucapkannya), yang seharusnya bermutu. Pilihan itu ada pada SMP St. Klaus, yang didirikan oleh Pater Wasser.

Lembaga pendidikan ini meliputi SMP dan SMA yang mana seluruh siswanya baik putra maupun putri wajib tinggal di asrama. Praktis kebijakan ini hampir sama dengan sekolah-sekolah seminari di daratan Flores. Bedanya, seminari merupakan sekolah hanya menerima pelajar pria karena visi pendidikannya sebagai lembaga pendidikan calon imam.

Sedangkan SMP/SMA St. Klaus terdiri pelajar putra dan putri. Kehidupan sama seperti di sekolah berasrama lain. Rutinitas asrama dan sekolah. Pagi hinggga siang pelajaran di sekolah, sore harinya aktivitas di asrama dan dilanjutkan kegiatan belajar sore.

Asrama dan sekolah merupakan satu kesatuan, tapi dalam konteks penilaian kedua ‘lembaga’ ini memiliki hak prerogratif. Bisa pula berkolaborasi.  Maka lembaga ini menerapkan dua penilaian, yakni penilaian asrama (sikap dan perilaku) dan penilaian sekolah (akademik).

Siswa selalu dievaluasi pada setiap semester baik di kehidupannya di asrama maupun perkembangan akademiknya di sekolah. Seorang siswa  dapat bertahan di lembaga ini, jika ia  memiliki nilai baik dari  asarama dan di sekolah. Jika salah satu penilaian buruk, misalnya penilaian akademik buruk atau sebaliknya, siswa dinyatakan gugur dan wajib pindah ke sekolah lain.

Selama saya di sana, pertemuan tatap muka saya dengan Pater Wasser dapat dihitung dengan jari. Pertemuan pertama kali ketika saya masuk Kuwu. Dia merekomendasikan saya di ruang tidur yang tak jauh kamar makan yang tidak turun naik tangga. Maka pada waktu itu, boleh dibilang saya diperlakukan istimewa. Mengapa? Saya berada di ruang makan bersama dengan pelajar SMA. Semenjak itu saya hanya dapat lihat Pater Wasser di mimbar saat memimpin ekaristi,  makan malam bersama dengan pelajar SMA, atau saat ia mengontrol kompleks asrama dan sekolah pada sore harinya.

Pertemuan kedua selepas saya lulus SMP. Karena ‘bentrokan’ dengan pembina asrama dan bikin ulah di asrama, saya mendapat rapor merah yang mengancam keberadaan kerbelanjutan studi saya di St. Klaus. Untung saya diselamatkan oleh paman saya yang juga seorang imam. Ia datang dari Maumere dan menemui Pater serta meminta Pater Wasser agar saya diberi kesempatan untuk melanjutkan SMA St. Klaus. Setelah pertemuan itu, saya diizinkan mendaftar di SMA St. Klaus dan saya pun berlibur di Maumere. Memasuki tahun pelajaran baru, Pater Wasser sempat berpapasan dengan saya di teras asrama dan mengingatkan saya.

Kraeng diberi kesempatan untuk sekolah di sini. Kalau kraeng berubah, kraeng bertahan di sini. Kalau kraeng tidak berubah, kraeng silahkan angkat kaki dari sini.” Ucapnya dingin.

Ya, seperti itulah Pater Wasser. Pembawaannya cool. Bicara seperlunya. Tapi jiwa belas kasih dan kepeduliaannya tinggi. Ia hanya menuntut orang disiplin dan jujur.

Pertemuan tatap muka ketiga sebelum ujian EBTNAS. Waktu itu Pater Wasser mengumpulkan semua pelajar kelas III. Ia memanggil kami satu per satu. Ia meminta kami untuk menggambarkan obyek tertentu. Kemudian ia mengevaluasi dan menjelaskan obyek yang kami gambar. Ini adalah salah satu bentuk penilaian Pater Wasser tentang langkah atau minat kami pasca tamat SMA nanti.

Selebihnya pertemuan saya dengan Pater Wasser di tengah siswa lain. Tidak dalam konteks tatap muka. Pertemuan yang paling sering ketika ia membawakan pelajaran Bahasa Latin – bahasa mati. Kita menghafal dan menggunakan dalam tulisan tapi sulit digunakan untuk percakapan. Siswa tidak dapat meraih nilai 10 dalam pelajaran ini.  Suatu waktu kami mengguggat Pater Wasser.

“Pater, kenapa nilai bahasa Latin tidak pernah 10?”

“1 untuk Tahun.” Jawabnya singkat dan dingin.

Baginya, kesempurnaan adalah milik Tuhan. Paling tinggi, manusia mencapai angka 9. Itulah yang terjadi dalam pelajaran bahasa Latin di kelas. Teman saya, Ardi Yoseph Susanto selalu meraih nilai 9, sementara saya pernah memperoleh nilai 0 darinya.

Pater Wasser memang pribadi yang diam. Tenang. Tampak ia jarang berkomunikasi dengan kami tapi ia tahu banyak tentang kami. Ia tampak jauh, tapi kenyataan terasa dekat. Kedekatan bukan soal kedekatan fisik dirinya dengan kami melainkan melalui pelayanan dan kepeduliaan akan kebutuhan kami. Itu yang paling nyata saya rasakan. Ia tidak pernah menjelaskan maksud dan tujuan tindakannya. Ia lakukan dan perintahkan saja tanpa penjelasan. Sebagai contoh, mulanya saya tidak pernah bertanya ketika ia merekomendasikan saya tinggal di kamar yang mudah akses ke kamar makan sehingga  saya tidak harus saya turun naik tangga. Saya sadari hal ini 20 tahun kemudian, ketika saya mengikuti Pre Departure Training di Bali (2012) dan kuliah di James Cook University Townsville (2013). Ternyata, konsen Pater Wasser terhadap kaum difabel jauh melampui dalam pikiran dan bahkan di luar kesadaranku dan sepengetahuan orang-orang di sekitarnya.

Kesan yang timbul memang Pater Wasser pendiam tapi ia selalu memupuk kebersamaan untuk ada di tengah-tengah siswa. Meskipun sebagai top manager yayasan, Pater Wasser kerap mengunjungi kami pada saat kerja sore atau jam makam malam. Ia akan mengontrol asrama dan sekolah dari ujung ke ujung. Langkah kaki mudah terpantau, hentakan sepatu botnya ke tanah menandakan Pater Wasser sedang lewat.

Saya berada di antara teman-teman Kelas III IPA, pokok paling ganteng sendiri…hahah (Foto: Dok. Pribadi)

Ada pula jadwal khusus, pada malam tertentu ia meluangkan waktu makan bersama dengan siswa-siswi. Ia makan dengan makanan yang sama seperti yang siswa makan. Nasi putih, sayur singkong (saung daeng) dan ikan teri.

Di sela-sela makan malam, ia selalu sharing dan memberi nasihat kepada kami untuk hidup hemat makanan (tidak buang-buang makanan), hemat air dan  jaga kebersihan lingkungan. Ia marah apabila melihat kami tidak menghabiskan makanan di piring atau membuang makanan di kotak sampah.

Di sini awal permulaan saya mengenal Pater Wasser. Misionaris bertubuh langsing, langkahnya tegap dan tidak banyak bicara. Ia bicara seperlunya. Kadang pula ia tak tanggung-tanggung mengeluarkan siswa dari lembaga ini. (Bersambung)

Tentang Penulis: Giorgio Babo Moggi

Gambar Gravatar
Menulis adalah cara untuk mengekspresikan pendapat atau pikiran tanpa terbelenggu.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *