Pater Avent Saur SVD: Pastor Bagi Orang Dengan Gangguan Jiwa

oleh

Pater Avent Saur SVD: Pastor Bagi Orang Dengan Gangguan Jiwa |KOEPANG.COM| Sejak saya mengikuti perjuangannya melalui media sosial terbetik hasrat untuk menulis sosok Pater Avent Saur SVD. Bukan tentang sosok pribadinya tapi daya juangnya yang tak pernah henti untuk mengembalikan ‘status kejiwaan’ orang-orang terlantar dan terabaikan.

Bagaimana awalnya dan hingga akhirnya imam muda ini melibatkan diri dan menjadi bagian dari ‘orang-orang gila’ hanyalah dirinya yang tahu. Sesuatu yang pasti, hampir setiap hari ia menaikan status facebook di wall pribadinya.

Satu kalimat langsung menghentak di benak penulis kala membaca statusnya, “Pastor gila”. Betap tidak! Di tengah arus perubahan peradaban modern, Pater Avent keluar dari comfort zone (zona kenyamanan) di balik tembok biara. Ia menceburkan diri dalam dunia yang tak mendapat perhatian. Baginya, tembok biara dan kehidupan di dalamnya menyebabkan dirinya justeru tidak nyaman setelah ia berhadapan kondisi sosial masyarakat. Tidak sulit untuk menjumpai ODGJ di Ende, Flores, NTT atau di negeri ini. Belum lagi mereka yang “terpasung” dengan alasan aib dan alasan rapuh lainnya.

Penulis yakin dengan pilihan hidupnya ini bukan tanpa sebab atau alasan. Tentu saja nilai rasa kemanusiaan dan kehendak Tuhan yang mendasari perjuangan dan pergulatannya mengurus orang-orang dengan gangguan jiwa (ODGJ). Bukan sebuah perkara mudah seperti halnya kita menangani orang-orang dengan jiwa yang normal. Itupun kita sering menghadapi berbagai kesulitan, apalagi mereka yang menderita gangguan jiwa.

Pater Avent mampu melakukannya. Setidaknya kita dapat melihat setiap aksi yang mampu menjinakkan “orang-orang dengan gangguan jiwa”. Saya kadang bertanya mengapa ia dengan mudah  mampu berkomunikasi dengan ODGJ? Barangkali ini jawabannya, “ia  harus menjadi gila”. Tapi gila yang dimaksudkan penulis adalah mengikuti arus OGDJ dalam berkomunikasi. Dalam berbagai tulisannya di facebook, saya membaca dialog yang begitu mengalir antara Pater Avent dengan OGDJ. Saya trenyuh dan kagum.

Entah berapa OGDJ yang pernah ‘diselamatkannya’? Yang pasti dari  testimoni di facebook terbaca, banyak yang kembali kehidupan normal. Sebenarnya bukan soal banyak atau sedikit, tapi bagaimana niat dan tekad mengembalikan ODGJ pada kehidupan yang normal. Pater Avent pasti tidak pernah mau menghitung berapa banyak mereka yang kembali “normal” dari gangguan jiwa. Kebahagiaan dan kebanggaan baginya adalah ODGJ mendapat hak hidupnya secara normal serta “virus” perjuangannya menular kepada yang lainnya. Kenyataan demikian, karya kemanusiaan mampu menarik orang-orang di sekitarnya untuk terlibat. Mengambil bagian dalam misi kemanusiaan ini.

Keluarnya Pater Avent Saur dari tembok biara dan berhadapan dengan realitas sosial serentak mengkritik kita yang hidup nyaman di rumah mewah, di balik tembok dan tak mau peduli seperti apa tetangga atau orang-orang di luar kita.

Seorang imam muda, Pater Menolvus SVD, dalam berbagai kotbah kerap menyindir, “Kita membangun rumah yang megah dengan pagar tembok yang tinggi tetapi kita lupa membangun jembatan (berkomunikasi, red) dengan tetangga.”

Pater Avent telah pada mencapai pada tahap “membangun jembatan” (baca: berkomunikasi) dengan ODGJ. Di tengah runititas kehidupan rutin di biar dan pelayanan kerohanian, saban waktu ia membangun jembatan dengan ODGJ dan melibatkan diri dalam pergumulan mereka.

Gerakan atau aksi sosial Pater Avent pula ditujukkan kepada imam, rohaniwan-rohaniwati, ulama dan pendeta yang nyaman dengan “kehidupan serba dilayani”. Mereka  yang kerap “berseru-seru” tentang Tuhan di mimbar rumah ibadah tapi lupa mengimplementasi dalam kehidupan nyata. Mereka yang doanya lantang menggelar di hadapan umat tetapi jiwa sosialnya kepada sesama sebagai citra Tuhan sangat rapuh.

Kritikan pula ditujukan kepada negara, pemerintah dan pelbagai pemangku kepentingan di negeri ini. Amanat UUD tentang “fakir miskin dan anak-anak terlantar dipelihara oleh negara” terabaikan dan sulit diwujudkan secara nyata. Padahal kehadiaran negara untuk masyarakatnya – mereka yang terlantar dan tertindas oleh ketidakadilan. Tak heran apabila Pater Avent Saur sering ‘berseberangan’ dengan pemerintah setempat dalam memandang ‘kesejatian pembangunan’. Di sisi lain, pimpinan daerah mengagung-agungkan pembangunan fisik, sementara di sisi lain Pater Avent Saur menelanjangi kegagalan kepala daerah membangun manusia seutuhnya  – jiwa dan raganya, salah satunya adalah ODGJ.

Saat menulis artikel ini, saya belum membaca buku BELUM KALAH karya Pater Avent Saur SVD. Tulisan ini mendahului dari tahap yang harus saya lakukan yakni membaca isinya. Tapi insting saya mencoba untuk ‘membongkar’ isinya dan  berusaha menemukan mutiara-mutiara hidup dalam buku ini.

Melalui buku ini, Pater Avent tidak hendak “mencitrakan” dirinya karena dari sikap, tutur kata dan tindakan jauh dari politik pencitraan. Ia hanyalah seorang imam yang berkehendak baik untuk menaburkan benih-benih kebaikan; menjadi garam dan terang bagi sesama dan menyembuhkan jiwa sesama  yang terluka. Tak peduli siapa mereka? Apa agamanya? Sukunya? Keluarganya?

Melalui buku ini, ia hendak “mencitrakan” kembali ODGJ pada tempat dan hakekatnya sebagai manusia yang layak mendapat perhatian dan perlakukan semua pihak.   Kiranya, buku ini menggugah nalar dan kepedulian kita untuk terlibat dengan cara kita masing-masing. Kita BELUM KALAH. Belum KALAH oleh keadaan dan ketiadakberdayaan kita. Dan, kita jangan pernah KALAH!

——————————————-

Pemesanan dilakukan melalui dinding akun Facebook ini atau inbox messenger (Avent Saur) atau fanpage Avent Saur SVD atau WhatsApp (085238960323), sertakan nama lengkap dan alamat lengkap.

Tebal 368 halaman, harga Rp 78.000.

Tentang Penulis: Giorgio Babo Moggi

Gambar Gravatar
Menulis adalah cara untuk mengekspresikan pendapat atau pikiran tanpa terbelenggu.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *