Natal, Spirit Untuk Memberi dan Berbagi

oleh
MarcellaPrastiwi

Cairns, KOEPANG.COM – Australia salah satu negara yang memiliki sejumlah pertanyaan tabu (taboo questions). Pertanyaan tersebut tidak boleh ditujukan kepada masyarakat apalagi orang yang kita baru kenal.

Salah satu taboo question adalah menanyakan agama seseorang. Bagi mereka, agama adalah wilayah privasi antara mereka dan Sang Pencipta. Mereka bisa saja beragama. Bisa juga tidak (atheis). Tetapi masyarakat Australia bersikap toleran terhadap para penganut agama dan kepercayaan yang ada di sana.

Bagaimana respon mereka terhadap Natal? Tanggapan mereka sangat positif. Dibuktikan dengan suasana menjelang natal. Pernak-pernik Natal di gedung atau kantor serta sudut-sudut kota.

Marcella Andhi Prastiwi, mahasiswi Master of Development Practice, James Cook University, kepada Koepang.Com berbagi pengalamannya pertama merayakan natal di luar negeri.

Biasanya kami sekeluarga merayakan natal di rumah orang tua asuh suami di pedalaman Manggarai. Tetapi kali ini kami merayakan natal di perantuan.

Wanita asal Situbondo yang disunting oleh Simon Sede asal Wolowae, Nagekeo ini, menuturkan ia sangat berbahagia berbahagia karena natal tahun ini ia merayakan bersama sang suami dan anak-anak tercinta di Cairns, Northen Queensland. Sebuah pengalaman yang luar biasa dan tidak terbayang dalam hidup sebelumnya.

Menurut Pras, wanita ini biasa di sapa, ada perbedaan nyata spirit perayaan Natal di Australia dan di Indonesia.

Di Australia, perayaan Natal lebih condong sebagai event budaya daripada sebagai perayaan iman. Walaupun Gereja di Cairns penuh umat pada saat malam Natal, tapi semua orang tanpa pandang agama, merayakan Natal. Hal umum yang menonjol didengung-dengungkan adalah spirit untuk memberi dan berbagi.

Pras mencontohkan pengalamannya merayakan Natal di kota Bali-nya Australia. Julukan untuk Cairns.

Di tempat kerja biasanya Bos memberikan bingkisan natal kepada staffnya, di kampus mahasiswa saling bertukar kado, sedangkan di tempat tinggal tetangga saling bertukar kartu ucapan selamat Natal dan tahun baru.

Selain itu di Australia natal biasanya menjadi ajang berkumpul dengan keluarga atau teman-teman. Biasanya, perayaan diwujudkan dengan acara makan bersama, saling mengundang antara keluarga atau teman yang satu dengan yang lain.

Pada saat saya mendapatkan undangan, saya akan berusaha mempelajari kebiasaan di Australia, seperti buah tangan apa yang harus dibawa atau pakaian apa yang harus dikenakan. Hal ini cukup penting supaya kita merasa nyaman.

Cerita Pras yang akan memasuki tahun kedua menghirup hawa Cairns nan sejuk dan eksotik ini berapi-api tentang pengalamannya ini.

Ternyata, yang paling utama di Australia adalah menjadi diri sendiri, karena budaya Australia yang sangat kasual dan menghargai perbedaan.

Tutur Pras menutup percakapan dengan Koepang.Com, sembari mengucapkan Merry Christmas kepada kita semua. ***

Macella Andhi Prastiwi, PNS pada Pemerintah Daerah Nagekeo, Penerima Australian Awards Scholarship, 2013. Kuliah pada Master of Development Practice, James Cook University (Cairns Campus).

Tentang Penulis: Giorgio Babo Moggi

Gambar Gravatar
Menulis adalah cara untuk mengekspresikan pendapat atau pikiran tanpa terbelenggu.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *