Namaku Bukan Molas

oleh

 

Ilustrasi (AliExpress.Com)

Aku dihantui oleh pertanyaanku sendiri. Bergulat di alam pikiran dengan misteri kata molas itu. Adakah sesuatu yang sakral daripada kata itu?

Pesta sekolah. Peristiwa yang mempertemukan aku dengan seorang gadis remaja. Rupanya cantik. Rambut berwarna hitam pekat. Sepintas orang mengira ia gadis Korea. Kenyataan tidak. Ia gadis tulen dari kampung ini.

Bila aku jujur kecantikan tiada duanya bila dibandingkan dengan teman-teman sekelasku. Memang ada bintang sekolah yang menjadi rebutan perhatian di sekolahku tapi gadis ini menjadi pembeda. Sorot mata tajam tapi memendamkan kelembutan kaum hawa. Akh, masih banyak pesona yang tak dapat kulukiskan pada pandangan pertama itu.

Aku berterima kasih kepada VeGan, sahabat karibku. Teman satu kaki, begitu istilah untuk menyebutkan sahabat akrab ini. Dialah yang memungkinkan aku hadir dalam pesta sekolah di kampungnya. Pesta itu pula yang mempertemukan aku dengan gadis cantik itu.

Keberadaan gadis itu hadapanku membuyarkan perasaan hatiku. Menghadiri pesta sekolah adalah pengalaman pertama sejak aku pindah sekolah di Manggarai. Kata sahabatku, entah benar atau tidak, tamu yang diundang ke pesta harus membawa uang yang banyak. Selama pesta akan diadakan lelang minuman, rokok dan jenis makanan lainnya. Peserta wajib membeli dengan harga selangit. Karena tujuan dari pesta ini untuk penggalangan dana. Sehingga orang yang hadir di pesta ini sudah maklumi. Nah, aku tidak biasa karena aku memang bukan terlahir masyarakat yang memiliki budaya yang sangat positif ini.

Kata-kata temanku terngiang-ngiang hingga di pintu panggung bahkan hingga saat aku melihat gadis itu. Tapi aku selalu menghibur diri dengan statusku sebagai pelajar yang belum memiliki penghasilan dan lagi pula kehadiranku atas undangan sahabatku. Di tengah perasaan yang gonjang-ganjing, datanglah gadis itu. Aku seperti dihadapkan dengan seorang gadis yang turun dari kayangan.

Sebagai lelaki normal, aku sadar langsung jatuh cinta kepadanya. Busana yang dikenalkan simpel tapi sepadan dengan postur tubuhnya. Model pakaian macam apa saja pasti cocok dengannya. Ia benar-benar wanita yang dilahirkan secara sempurna.

Malam itu mengenakan gaung merah. Warna gaunnya menarik perhatian. Lagi pula yang mengenakan gaun merah malam itu hanyalah gadis itu. Meskipun ia berada di kerumunan tamu undangan yang lain, keberadaanya tetap terpantau.

Perasaanku kepada gadis itu kian kencang daripada Lusia, adik kelas yang aku pacari sebulan yang lalu. Kehadiran sosok gadis ini, bayangan wajah Lusia pun pelan-pelan terhapus dari ingatanku. Kesetiaanku kepada Lusia diuji. Tapi bertumbuhnya perasaan cintaku kepada gadis itu tak terbantahkan. Dilema. Memilih Lusia atau gadis Korea itu.

Akh, lupakan Lusia. Toh, gadis itu baru angan-anganku belaka.” Aku berkata dalam hati.

Lusia, pacar yang dijodohkan oleh temanku. Kata hatiku ia bukan tipeku. Aku tergoda karena trend di kelasku teman-teman pada memiliki pacar. Mereka nembak adik tingkat. Aku sepertinya terhasut oleh situasi kelas.  Karena dipanas-panasin temanku aku pun mengiyakan perjodohan ini.

Soal kecantikan khan relatif. Seseorang menurut kita cantik belum tentu cantik menurut orang lain. Begitupun sebaliknya. Baik Lusia maupun gadis itu sama cantik. Tapi aura dan pesona gadis itu lebih menghipnotis daripada Lusia.  Apakah ini karena pandangan pertama? Atau karena gaun merah yang dikenakannya?

Gadis itu sadar jikalau aku mencuri pandangan. Ia kadang pula memalingkan wajah ke arah lain. Padahal posisi duduknya berhadap-hadapan. Dibatasi oleh area kosong sebagai lorong menuju podium.

Entah setan apa yang telah merasuki malam itu. Aku yang adalah sosok pemalu tiba-tiba keberanianku bangkit. Sifat pendiam dan malu yang ada dalam diriku menyebabkan teman-temanku memvonisnya sebagai seorang yang introvert. Aku lebih suka menyendiri. Mengisi waktu luang dengan melumat setiap kata-kata yang terangkai dalam buku apa saja. Aku lebih memilih untuk membaca buku-buku daripada bermain dengan  teman-teman. Tiada aktivitas membaca pada setiap jengkal waktu senggang. Baca, baca dan baca.

Kebiasaan ini didukung pula oleh situasi sekolahku. Aku menemukan Sancla sebagai tempat yang sangat istimewa. Surga yang menengelamkan aku  dengan membaca dan membaca. Sejak pindah dari Kupang, minatku pada kegiatan membaca semakin tinggi.  Sancla adalah tempat yang tenang, hening dan nyaman baginya untuk mencumbui buku-buku di perpustakaan.

Kehadiran gadis itu dihadapanku memupuk keberanianku dalam itu. Perasaan cintaku kepada gadis itu bergelora. Bahkan menimbul gejolak dalam bathinku. Selain gadis itu, aku masih memiliki Lusia.

Aku tak peduli dengan suasana pesta itu. Tatapanku fokus pada gadis itu. Aku memeras seluruh energi dan pikiran bagaimana caranya aku dapat berkenalan dengan gadis itu. Tantangan tak seberapa karena tak ada saingan. Artinya gadis itu datang sendirian. Dugaanku ia belum memiliki pacar.

Setelah resepsi, sebagaimana pesta di Flores, dipuncaki dengan acara bebas. Waktu yang tak terbatas. Bisa pesta sampai pagi. Mereka menyebutnya dengan istilah “mencungkil matahari”. Inilah saat yang tepat untuk mendekatkan diri dengan gadis itu.

Dua tiga lagu diputar tapi gadis itu tak beranjak. Aku semakin penasaran dan timbul keberanian untuk mengajaknya berdansa. Kala lagu “Send Me the Pillow” menghentak panggung, aku bangkit dan menjemput gadis itu.

“Ayo Enu.” Aku mengajak berdiri sembari mengarahkan kedua tangan ke arah panggung.

Gadis itu tidak langsung menjawab. Ia hanya tersenyum. Mengiyakan juga bukan, menolak pun bukan. Aku bertahan di depannya hingga hatinya luluh.

Kami berdansa tanpa ada dialog. Membisu. Aku bingung harus memulainya darimana. Terdengar dan terasa hempasan nafasnya. Hingga lagu berakhir, tanpa ada kata selain senyum kala aku menghantarnya pulang ke posisi duduknya.

“Terimakasih, Enu.” Aku menarik perhatiannya.

“Sama-sama, Nana.” Balasnya.

Sejurus kemudian aku kembali duduk di tempatku semula. Padahal hati berat untuk meninggalkan gadis itu. Hasrat hati ingin duduk di sampingnya, apa daya mental keberanian belum tak seberapa.

Gadis itu berdiri hampir pada setiap musik berganti. Gerakan tubuhnya indah. Ternyata ia seorang penari. Menjadi rebutan lelaki di panggung itu. Ketika “Baby Blue” mengudara, aku segera menghampirinya.

Kali ini kami lebih luwes. Tidak sekaku pada dansa yang pertama. Aku berani berdialog dengannya. Gadis itu pun tak sungkan lagi berbicara.

Enu, darimana?” Aku membisik ke telinganya.

“Kampung ini.”

“Masa?”

“Emangnya kenapa?”

“Aku tak pernah melihat kamu di sini. Karena setiap hari minggu aku mengikuti perayaan ekaristi di gereja sini.”

“Apa hubungannya?” Gadis itu memotong.

“Aku tak pernah melihatmu.”

“Kamu aja yang tidak kelihatan di gereja.”

“Haha…mungkin saja.”

Sebenarnya aku berbohong padanya. Aku lakukan biar ada materi dialognya. Sesungguhnya aku kebingungan mau berbicara apa. Untungnya, cahaya lampu di panggung maram temaram sehingga tak kelihatan raut wajahku. Seperti apa perubahan rona wajahku bila ketahuan berbohong.

“Siapa namamu?”

“Sofia.”

“Aku panggil saja kamu Molas.”

“Namaku Sofia.” Tuturnya manja.

“Tidak. Molas.”

“Kalau tidak mau panggil aku Sofia, panggil saja aku Enu.

“Enu Molas.”

“Bukan. Enu Sofia.”

“Mengapa kamu menolak aku memanggilmu Molas?”

“Molas itu sebuah kata yang sempurna untuk seorang wanita.”

“Kamu memang sempurna, kok.

“Tidak panggil aku Sofia saja.”

“Molas.”

“Sofiaaa…” Semakin tegas.

“Molassss…”

“Sofia. Titik!”

“Molas!”

Sofia melepaskan tangannya dari pinggulku dan berlari ke tempat duduk. Aku menyusul dan berusaha meminta maaf kepadanya. Wajahnya bersungut-sungut. Wajahnya yang putih bersih berubah merah padam. Ia marah. Aku berkali-kali meminta maaf kepadanya tapi tak digubrisnya. Akhirnya kami diam diri. Mematung tanpa sepatah kata pun.

Aku menunggu Sofia memulai percakapan. Tidak. Sementara bung opereter telah memutar beberapa lagu. Aku dan Sofia duduk terpaku. Aku tak tahan lagi. Aku ingin menghindari dan meninggalkannya. Itu tak mungkin. Sementara beberapa lelaki memintanya berdansa tapi ditolaknya. Aku malah menjadi merasa bersalah dengan para pria itu. Mereka mengira aku yang menghalang-halangi Sofia.

“Sofia bangun berdansa.” Pintaku ketika seorang pria datang ke arah kami.

“Tidak mau.”

“Jangan begitu dong!”

“Itu hakku. Ada saat aku menerima, ada saatku untuk menolak.”

“Tapi khan kita harus menghargai undangan yang lain bila sudah berada di panggung ini.”

“Apakah semua tamu di sini menari?”

“Tidak juga. Tidak semua mereka dapat berdansa. Nah, kamu khan bisa.”

“Lagi, tidak mood.

Percakapan kami terhenti ketika lelaki itu tepat di depannya. Ia meminta ijin kepadaku. Dalam hatiku bertanya pada diriku. Siapakah diriku? Aku mempersilahkan sembari mengulurkan senyum. Sofia berdiri dan berdansa dengan pria itu. Aku terus mengamatinya. Pandangan wajahnya jauh. Api kekesalan padaku belum padam. Bathinku tersenyum.

Lagu belum habis ia minta berhenti berdansa. Pria itu menyangunggupi dan menghantar pulang ke tempatnya.

“Ternyata Sofia pandai berdansa. Tidak seperti wanita lain di panggung ini. Mereka sekedar bergoyang. Gerak tubuh dan hentakan musik tak seirama.”

Akh, itu katamu aja.”

“Serius. Aku baru melihat jelas ketika kamu berdansa dengan pria itu.”

“Aku berdansa dengan kamu beberapa kali, kamu tidak bisa menilai juga?”

“Itu sulitnya Sofia. Kita lebih mudah menilai orang lain daripada menilai diri sendiri.”

“Bohong.”

“Penilaian obyektif dari dasar hati yang terdalam.”

“Semua lelaki selalu berkata sama “dari dasar hati yang dalam”, padahal hanya di ujung bibir saja.”

“Aku bukan penari profesional. Berbeda dengan pria itu. Ia mungkin raja panggung sehingga ia bisa berdansa dengan baik. Apalagi ia bertemu dengan orang yang tepat seperti kamu.”

Sofia tidak menjawab. Ia tersenyum. Senyuman adalah jawaban. Pula pintu aku dapat masuk bercakap lebih jauh dengannya. Paling tidak aku telah berhasil mencairkan suasana yang beku.

“Sofia sekolah dimana?”

“Stela Duce.”

“Dimana?”

“Yogyakarta.”

“Sekolah favorit khan?”

“Tak tahu.”

“Kalau tak tahu, mana mungkin kamu sekolah di situ.”

“Sekolah saja, toh. Kamu sekolah dimana?”

“Sancla.”

“Asal darimana?”

“Kupang.”

“Kok, bisa sekolah di sini.”

“Ya, sama seperti kamu. Kok bisa sekolah di Stela Duce. Tentu bukan alasan suka-suka khan?”

“Hahaha….” Sofia tertawa untuk pertama kali sejak pertemuan pertama malam itu.

Aku mengelus dadaku,”Syukur.”

“Oh ya, siapa namamu?”

“Marvel.”

Kok, namanya keren tapi orangnya tidak.”

“Haha… Keren atau tidak khan relatif dengan siapa aku berhadapan. Jika aku berhadapan dengan orang sesempurna kamu tentu aku bukan orang yang keren khan?”

Akh, lebay. Itu khan mulai lagi gombal.”

“Sofia, ini fakta. Bukan gombal. Dunia seluas panggung ini pun tahu kalau kamu itu memang cantik. Karena itu aku menyapamu Molas.”

“Nah, itu lagi khan. Aku  Sofia, bukan Molas.”

Kami berdua tertawa lepas. Entah berapa lagu yang diputarkan operator. Entah berapa putaran orang berdansa. Kami terhanyut dalam canda dan memicu api cemburu pria-pria yang memandang keakraban kami malam itu.

Sofia pamit ke belakang. Aku menghantar dan menunggunya di pelataran kampung. Saat ia masuk kamar kecil, aku bergegas mencari Rogan dan meminta sebatang rokok. Setelah aku kembali ke tempat semula, duduk di atas tumpukan batu yang disusun dalam bentuk persegi empat. Aku menarik rokok dalam-dalam lalu menghempaskan asap ke udara dan seterusnya. Khayalanku melambung bersama asap rokok yang hilang diterpa malam. Panggilan Sofia mengoyak lamunanku.

“Ayo, Marvel.” Sofia mengajak masuk kembali panggung.

“Sabar, Sofia.”

“Di sini dingin.”

“Entar, aku habiskan sebatang rokok ini.”

“Dingin, Vel.”

Dikit lagi nih. Mari duduk di sini.”

Sofia pasrah. Ia pun bergabung denganku. Aku sengaja memperlambat isapan dengan maksud bisa berlama-lama dengan Sofia. Memungkinkan kami bisa ngobrol lama sehingga tidak ada mata-mata yang terus mengawasi kami.

“Sofia punya berapa saurada.”

“Satu. Saya putri tunggal.”

“Pantasan.”

“Pantasan apa?”

“Manja.”

“Kata siapa?”

“Kataku.”

“Hahaha…”

“Pulang rumah jam berapa?”

“Sampai pesta bubar.”

“Hah?”

“Ya.”

“Tidak dimarahin orang tua.”

“Tidak. Rumahku hanya berselang dua rumah dari sini.”

“Oh. Tak jauh.”

Aku tiba-tiba kaku mendengar jawabannya. Ada perasaan takut diawasi keluarganya. Mana ayahnya. Mana ibunya. Pula mana saudaranya. Aku tak tahu. Rokok yang baru diisap setengah batang kubuang. Aku mengajak Sofia kembali ke panggung.

Saat tiba di panggung, bung opereter memutarkan lagi “Baby Blue”. Aku mengajak Sofia ketengah arena. Berdansa. Dansa hanya alasan bagiku supaya mendapatkan kesempatan bersamanya.

“Bolehkah aku menanyakan sesuatu?”

“Mengapa kamu bertanya demikian?”

“Karena kau tahu, pertanyaan ini akan membuat kamu akan marah padaku.”

“Apa pertanyaannya?”

“Kamu jawab dulu pertanyaanku. Boleh atau tidak?”

“Ya, boleh.”

“Janji? Kamu tidak marah.”

“Janji.”

“Mengapa kamu menolak aku menyapamu Molas?”

“Memang namaku bukan Molas. Namaku Sofia.”

“Bagaimana kalau aku memanggilmu Molas?”

“Tidak!”

“Sapaan itu menunjukkan keakraban saja.”

“Tidak. Panggilan Molas menjustifikasi aku sebagai wanita cantik padahal kenyataan tidak. Masih banyak wanita yang lebih cantik daripadaku.”

“Apakah kata Molas itu terlalu sakral yang tidak bisa diembang oleh gadis lain?”

“Persaanku aja.

“Itu khan perasaanmu. Belum tentu perasaan orang lain. Molas dapat saja menjadi atribut wanita yang lain.”

Baby Blue semakin lama semakin sayup pertanda lagu akan berakhir. Jarak dansa kami semakin rapat. Kami larut dalam percakapan hingga lagu itu benar-benar berhenti.

Aku terngiang-ngiang dengan kata-kata gadis itu, “Molas itu sebuah kata yang sempurna untuk seorang wanita.”

“Apa maksudnya?” Bertanya pada diriku.

Aku duduk di sampingnya. Tak banyak kata. Sesekali kami bercerita pengalaman di sekolah masing-masing. Banyak hal yang kutemukan dari wanita ini. Cantik. Cerdas. Kritis. Sedikit manja. Namun demikian pikiran bekerja sendirian menguak perdebatanku dengan Sofia soal sapaan Molas.

Aku sering mendengar dalam dialog kalangan orang tua menyebutkan kata Molas, “Anak Molas.” Anak gadis. Di kalangan anak-anak muda, terutama kata ini sering diucapkan, “Ine wai molas.” Gadis cantik. Kata ini memiliki dua makna anak gadis dan cantik. Sehingga tak salahnya ketika aku menyapa Sofia dengan sebutan Molas, selain karena cantik pula usianya beranjak gadis remaja. Namun, Sofia enggan menerima panggilan Molas.

“Adakah makna konotatif dari kata Molas?” Aku bertanya pada diriku.

Aku teringat dengan kalimat Sofia, “Molas itu sebuah kata yang sempurna untuk seorang wanita.”

Molas dapat mengambarkan sosok seorang gadis. Molas dapat melukiskan sosok seorang wanita cantik. “Tapi mengapa Sofia menolaknya?”

Aku dihantui oleh pertanyaanku sendiri. Bergulat di alam pikiran dengan misteri kata molas itu. Adakah sesuatu yang sakral daripada kata itu? Aku mencoba menarik benang merah dengan sebuah terminologi “inner beauty” – kecantikan dari dalam. Apakah Molas melukiskan kesempurnaan seorang wanita luar dalam? Jawaban adalah mungkin. Karena aku sendiri tak pernah mendengar penjelasan kata dari orang-orang yang kukenal. Guru bahasa Indonesia di Sancla pun tidak menjelaskannya.

Penolakan Sofia semakin memperkuat dugaanku. Kata molas tidak sekedar kata disematkan pada nama seorang wanita. Apalagi wanita itu dipanggil Molas. Karena makna molas melampui dimensi fisik seorang wanita. Molas melampui seluruh aspek pada seorang wanita. Kebanyakan wanita mempercantik diri fisik tapi lupa dengan pancaran kecantikan dari dalam (inner beauty). Pembawaaan diri, tutur kata dan tingkah lakunya. Karena itu molas tidak saja melukiskan fisik seorang wanita, tapi sisi dalam wanita itu sendiri. Artinya molas bisa saja secara fisik seorang wanita tidak cantik, tetapi pembawaan dirinya yang cantik. Apalagi ia memiliki kecantikan luar dan dalam, kata Damian, ilusionist indonesia, sempurna!

Pesta berakhir. Sofia menepati kata-katanya. Ia pulang hingga pesta bubar. Aku pun menghantar pulangnya. Waktu menunjukkan pukul 05.00 pagi. Aku menggandeng tangannya. Melewati halaman tengah kampung. Tak peduli dengan pandangan orang kampung itu. Di pertengahan kampung, kami berbelok kiri ke arah jalan utama yang menghubungkan Sancla dan jalan negara.

“Sebenarnya rumahmu dimana sih?”

“Di sana.” Sambil mengarahkan telunjuknya.

“Katamu, rumah hanya selang dua rumah dari tempat pesta.”

“Saya bohongin kamu. Biar kamu tidak macam-macam kepadaku.”

“Aku cubit lengannya.” Sofia lari menghindar.

“Benar khan trikku?”

“Trik apa?”

Bohongin kamu.”

“Kamu tidak usah bilang. Sejak kamu bilang rumahmu di kampung itu aku menjadi mawas diri.”

“Haha….”Disambut tawa Sofia.

Kami melewati jalan raya lebar yang belum diaspal. Tersusun rapih oleh batu-batu cadas. Tangan kami berpegangan. Kadang kami berlari kejar-kejaran. Kadang pula mendengung lagu-lagu cinta.

Aku menghantar Sofia hingga tepat di pintu rumah. Aku memeluk erat. Seerat persahabatan yang terajut malam itu. Sisa aroma parfum menyembul dari balik gaun merahnya. Meninggakan jejak di bajuku yang kusut dan basah oleh keringat.

“Namaku bukan Molas.” Bisiknya lembut.

“Ya. Kamu Molas.” Balasku dengan mencium di keningnya.

“Sofia.”

“Ya. Sofia.”

Aku mendaratkan menarik badannya. Bibirku tepat di telinganya. Aku pun berbisik, “Ana Hibu Laaka.”

“Bahasa apa itu?

“Arab.”

“Artinya?”

“I love you.”

Suara batuk sang ayah mengejutkan kami. Balasan Sofia tertahan di bibir. Belum sempat diucapkannya. Aku melepaskan pelukan. Terperanjat. Kaget. Malu. Bukan kehadiran sang ayah itu tetapi siapa sosok sang ayah itu. Ternyata, ayah dari Sofia, wali kelasku di Sancla.

Tentang Penulis: Giorgio Babo Moggi

Gambar Gravatar
Menulis adalah cara untuk mengekspresikan pendapat atau pikiran tanpa terbelenggu.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *