Morin Sang Penari Likurai

oleh
Ilustrasi (Sutterstock.com)
Ilustrasi (Sutterstock.com)

dr. Cyntia memenuhi ruang benakku. Sosok wanita seperjalanan menyisir selatan Pulau Timor. Wanita yang kupinjamkan bahu untuk menyandarkan kepalanya ketika matanya kantuk. Rambutnya menyibak wajahku menebarkan harum yang membekas.

Senyuman dr. Cyntia di sebuah rumah makan di Kualin terekam. Mengusik hari-hari pertamaku di Betun. Angan-anganku pun terbang. Berimajinasi. Mengulang kisah kala kepala Cyntia yang terlelap dalam tidur. Kepalanya bertumpuh pada bahuku. Perasaan jatuh cinta bergelayut di dasar sanubariku.

Aku tinggalkan jejak di tas tangan miliknya. Secarik kertas bertuliskan nomor handphone-ku. Aku masukannya ke dalam tas yang sedikit menganga ketika Cyntia bercumbu dengan mimpi-mimpi indah.

Harapanku, Cyntia akan menghubungiku setiba di Betun. Aku terus menanti dengan resah gelisah. Membayangkan tengah malam ditemani rembulan, ia ia akan menelepon atau pun mengirimkan pesan singkat. Bayang-bayang senyum Cyntia bak fatamorgana terpampang di hadapanku.

Seminggu di Malaka, Aku tak mendapat kabar dari dr. Cyntia. Aku hanya mengingat senyuman terakhir saat ia turun dari mobil di kosnya. Tidak ada kata-kata pisah. Selain ucapan terimakasih kepada semua penumpang. Tak ada kata yang istimewa buatku. Ia benar-benar lupa gerangan bahu siapa ia sandarkan kepalanya. Mungkin ia pura-pura lupa dengan peristiwa yang dialami. Dalam pertualanganku malam itu, perjalanan yang paling romantis meskipun dirasakan sepihak saja. Entah dengan dr. Cyntia, apakah ia merasakan serupa?

Arus perasaan begitu deras menguras pikiran dan hatiku. Aku harus mampu membendungnya agar tujuan kedatanganku tercapai. Bukan untuk Cyntia. Tapi untuk tugas penelitian dari kampusku. Aku harus lupakan Cyntia. Tak habiskan energi untuk memikirkannya. Aku harus bangkitkan kesadaran bahwa Cyntia hanyalah fatamorgana. Bayang-bayang semu yang hadir di awal-awal keberadaanku di Betun. Ia tak pernah ada. Kalaupun ia ada, toh dia bukan untukku. Dia adalah milik kekasihnya yang menghantarnya di terminal bayangan Oesapa kala itu.

Aku melewati tugas di Betun tanpa bayang-bayang dr. Cyntia. Sejak bertemu Jessica, Cyntia tersisih dari pikiranku. Jessica bak tabib yang menyembuhkan luka kerinduanku pada Cyntia.

Jessica, gadis kampung Kletek. Dialah yang menyambutku saat masuk ke kampungnya. Terlukis senyumannya yang sangat indah. Pendarkan cahaya kehangatan. Setiap tutur katanya dihiasi senyuman. Dandanan seadanya seperti gadis desa pada umumnya.

“Ini Morin.” Lelaki tua itu memperkenalkan diri wanita murah senyum kepadaku.

Aku sedikit terkejut. Kepadaku ia memperkenalkan diri sebagai Jessica.

“Akh, sudahlah. Morin atau Jessica sama saja. Toh, orang yang sama saja. Tak mengubah pandangan tentang sosok yang aku kenal meskipun beragam nama.” Aku menggerutu.

“Dia putri sulungku.” Pria itu melanjutkan.

Morin, eh Jessica yang duduk di depanku tersipu malu. Ia mungkin sadar telah memperkenalkan kepadaku dengan nama yang lain. Aku seolah tak peduli dengan semua yang terjadi agar tidak menyinggung sang ayahnya. Pula menyobek perasaan Jessica.

“Anak mau penelitian di sini, Morin yang akan membantu Nai.”

“Ya, Bapak.”

“Sampaikan saja apa keinginan anak terkait dengan penelitian kepada Morin. Anak tak usah sungkan. Anggap saja Morin saudarimu dan kami orang tuamu.”

“Anggap seperti rumah sendiri, Nai.” Lanjut pria paruh baya ini.

Aku merasa kikuk. Pesan lelaki tua ini membuat diriku sungkan dengan keluarga ini. Di satu sisi mereka memberikan kepercayaan penuh kepadaku. Penerimaan mereka sebagai bagian dari keluarga merupakan sesuatu yang luar biasa. Di sisi lain, mengemban kepercayaan itu tidak mudah. Bagaimana kelak saya mengingkari semua kepercayaan dari keluarga Jessica?

Tapi aku beruntung lebih dahulu mengenal Jessica. Kehadiran Jessica dapat mencairkan kekikukan di hadapan keluarga ini. Tapi aku cemas bagaimana kelak aku jatuh cinta padanya? Aku yakin ayahnya akan memarahiku. Mungkin segenap keluarga akan membenciku.

Aku harus jujur pada diriku bahwa aku jatuh cinta dengan Jessica sejak pandangan pertama di gereja. Kala aku hilang harapan pada dr. Cyntia, Jessica hadir. Keanggunan terukir dari alunan tangan yang memimpin paduan suara misa senja itu. Aku duduk di bangku terdepan hanya menatap kagum. Sesekali menatapnya dalam memberikan signal. Ia salah tingkah. Senyumnya tertahan. Berjuta rasa berbaur di benaknya.

“Hi, aku Marvel.” Aku berani perkenalkan diri usai misa di sisi kiri gereja.

Tangan kami berjabatan. Terasa hangat. Denyut nadi berdetak semakin kencang. Suara parau dan ragu-ragu, “Aku, Jessica.”

“Jessica.” Aku mengulang.

“Ya, Jessica. Apa arti sebuah nama?” Tanyanya.

“ Tentu setiap nama memiliki makna, Jess”

“Lantas, apa artinya Jessica.”

“Penantian.” Tanpa aku menjelaskan kepadanya.

Sepertinya Jessica mengamini saja perkataanku atau dia mungkin tahu aku asal menjawab saja. Ketika aku menyebut “penantian”, ia hanya tersenyum.

“Kaka tugas di sini?”

“Tidak. Aku melakukan penelitian di sini. Tugas dari kampus.”

“Apa yang mau diteliti?”

“Rumah adat. Aku khan studi arsitektur. Aku mau pelajari arsitektur rumah adat masyarakat Malaka.”

“Sudah dapat locus penelitiannya?”

Aku tersentak kaget mendengar kata locus dari mulut Jessica. Artinya Jessica bukan gadis desa seperti yang aku duga. Wanita berpendidikan. Karena itu ia tahu menggunakan terminologi ilmiah.

“Belum, Jes. Ada tawaran?”

“Di kampungku saja.”

“Tawaran yang bagus nih.”

“Jika Marvel berkenan ke sana.”

“Tentu dong, Jess. Apa yang tidak berekenan? Apalagi aku ditawarin. Aku pasti sambut dengan senang hati.”

Lantaran Jessica aku harus mengganti locus penelitian. Situasi di lapangan dapat saja berubah. Tak usah mengikut pakem yang sudah direncanakan. Fleksibel.

Jessica kemudian memberikan gambaran tentang kampungnya. Jaraknya dari kota. Gambaran situasi sosial kemasyarakatan dan beberapa tata cara adat. Aku anggap saja pertemuanku dengan Jessica di gereja sekaligus mengenal sepintas budaya Malaka. Jessica adalah guru cross cultural bagiku.

Sehari kemudian aku berjanji ke kampungnya. Aku pinta kepada Jessica untuk pura-pura belum mengenal diriku. Dan itulah yang terjadi ketika pertama kali ke rumahnya, ayah justeru memperkenalkannya sebagai Morin. Bukan Jessica.

Usai pertemuanku dengan ayahnya, Jessica benar-benar berperan sebagai pemandu. Kadang kala ia bertindak sebagai penerjemah. Karena tidak semua narasumber yang aku wawancarai bisa berbahasa Indonesia dengan lancar. Jessica berperan ganda. Jessica dengan segenap hati.

Seminggu aku berada di kampung ini, Jessica menjadi pendamping yang setia. Ia menceritakan banyak hal tentang budaya Malaka. Kazanah pengetahuan budayaku bertambah luas. Bukan saja tentang arsitektur, simbol dan makna rumah adat hampir seluruh hal tatanan budaya dan sosial di kampungnya. Aku pula diajarkan beberapa kosa kata yang sering digunakan dalam percakapan. Atau beberapa kalimat percakapan harian seperti “selamat pagi”, “selamat makan”, dan sebagainya.

Hari demi hari hubunganku dengan Jessica semakin akrab. Ia bukan lagi menjadi sahabat melainkan kekasih. Meskipun aku tak pernah mengucapkan kata-kata khusus yang menyatakan cinta kepadanya. Aku menunjukkankan lewat sikap. Kadang kala pula saya mengungkapkan dengan kata-kata kiasan. Jessica memahami dengan baik.

Suatu hari, sebelum fajar merekah, aku mengajak Jessica jalan-jalan ke arah kota. Sebuah sumber mata air yang berada di tengah hutan yang menjadi paru-paru kota. Tempat ini tidak terlalu jauh dari kampung Jessica. Tapi tak mungkin kami berjalan kaki. Dengan motor matic miliknya, kami melewati area persawahan yang luas. Desiran angin mengibas wajah kami. Aku memandang dari spion, rambut Jessica yang dibiarkan panjang tergerai.

“Siap ya, Jess. Aku ngebut sekarang.”

“Kaka jangan ngebut. Engkau Rossi apa ka?” Candanya.

“Kita harus sampai di We Matan Tabuki sebelum matahari terbit.”

“Kenapa?”

“Aku ingin menyaksikan kolam matahari sebelum tersentuh larik matahari.”

“Ya, emangnya kenapa?”

“Melihat beningnya kolam.”

“Akh, alasan saja.”

Jessica sudah paham yang ada di otakku. Alasan semu. Sebenarnya bukan itu alasannya. Ya, aku ingin dirinya memelukku. Toh, aku mengikuti sarannya. Sedikit percakapan tapi banyak nyanyian. Jessica melantunkan lagu-lagu yang aku tak pahami syair. Aku hanya menggerakan kepala seolah-olah memahami maknai syair-syair itu. Bukankah musik merupakan sesuatu yang universal?

Kami tiba di We Matan Tubaki. Alam hening tiada bising kendaraan yang lalu lalang. Hanya terdengar kicauan burung, desahan angin dan gesekan dahan pepohonan. Aku memarkir mobil motor di sisi jalan. Lalu aku meraih tangan Jessica dan berjalan menuju pusat mata air yang telah dibentuk kolam berukuran sangat besar. Kolam ini tepat di bawah sebuah pohon kekar yang berumur sudah uzur.

Aku duduk pada tembok kolam. Selonjorkan kaki ke dalam kolam. Hawa dingin air langsung menyengat kakiku dan mengalirkan ke seluruh tubuh. Aku lalu membasuh wajah. Jessica masih berdiri di belakang. Mengamatiku.

“Ayo Jess. Celup kakimu di sini.”

“Dingin, Marvel.”

“Tidak. Semakin lama, kaki semakin hangat.”

“Tidak akh.”

Aku berdiri dan meraih tangannya. Menuntunya di bibir kolam dan memintanya duduk.

Jessica duduk di sisi kiriku. Ia ragu-ragu memasukan kaki ke dalam kolam. Aku meneguhkannya. Aku kontan membopongnya ke tengah kolom. Menceburkannya ke dalam kolam yang bening. Jessica berteriak geram tapi sorot matanya ceria. Aku mencipratkan wajahnya dengan air berkali-kali. Dibalasnya. Kami pun bermain air layaknya anak kecil. Diselingi tawa suka cita. Membahana di tengah belantara hutan yang mulai terkoyak. Ya, sejak dibuka jalan yang membela hutan, dedaunan berubah pucat pasi. Debu jalan bertempelan di dedaunan. Keasrian hutan terusik meskipun We Matan Tubaki sebening embun.

“Jalan ini sementara saja.” Tukas Jessica.

“Trus, jalan nanti lewat mana?”

“Di luar kawasan hutan.”

“Nah, itu baru mantap. Tempat ini menjadi paru-paru kota dan salah satu spot wisata.”

“Nai pintar sekali.” Jessica mulai menggombal.

“Hhhhh….Dengan siapa dulu aku berhadapan. Jessica, anak kampung yang smart.”

“Lebe.” Sambil mencipratkan air ke wajahku.

Aku membalasnya. Aku menarik tangannya. Kami berdiri berhadap-hadapan. Wajah kami berhadapan hanya sejengkal.

“Kamu ingat kisah pembaptisan Yesus di sungai Yordan.”

“Ingat. Apa hubungannya dengan kita di sini?”

“Memang tidak ada hubungan. Aku hanya sekedar mengingatkan.”

“Hhhh…Trus.”

“Yohanes khan yang mempermandikan Yesus, khan?”

“Mungkin.”

“Kok, mungkin sih. Kamu suka bercanda ya.”

“Aku serius.”

“Terserah dirimu deh. Tapi hal ini yang aku mau sampaikan.”

“Apa?”

“We Matan Tubaki adalah sumber kehidupan masyarakat Malaka. Leluhurmu pasti pernah menikmati air ini.”

“Lalu?”

“Karena itu mereka merawat tempat ini dan diwariskan kepada anak cucunya. Kamu adalah salah satu anak cucu itu.”

“Ok. Ok. Benang merah peristiwa pembaptisan Yesus di sungai Yordan?”

“Benang merahnya?”

“Ya!”

“Aku akan membaptismu.”

“Hahaha…kaka suka bercanda.”

“Bukan canda. Aku serius neh. Mulai detik ini, aku memanggil namamu Morin. Bukan Jessica lagi. Dengan air dari sumber mata air ini, aku mempermandikan ulang kamu dengan nama Morin.”

“Jessica.”

“Morin.”

“Jessica.”

“Morin aja.”

“Weis sekarepmu.” Timpalnya dalam bahasa Jawa.

“Aku yakin leluhur merestui nama itu. Apalagi nama itu pemberian kedua orang tuamu. Keren, khan?”

“Sonde. Biasa sa.” Balasnya dengan dialek Kupang.

Saya menyambut dengan tawa jawabannya. Aku tahu di dasar hatinya, ia tak akan menolak dengan panggilan Morin. Saatnya memperkenalkan Jessica sebagai Morin, aku langsung tertegun. Hatiku tersentak dengan nama itu. Nama yang cantik. Anggun. Selaras dengan pribadinya.

“Tapi, apa artinya Morin?” Aku bertanya pada diriku.

Pertanyaan itu kusimpan dalam hati. Suatu waktu aku akan tanyakan arti Morin kepada orang tuanya. Tidak sekarang, tapi nanti. Sebelum aku meninggalkan Malaka setelah tugas penelitianku usai.

Aku mengajaknya pulang dengan pakaian dalam keadaan basah kuyup. Kami tak peduli. Sukacita dan kebahagian telah melupakan segala. Tak terasa tangan lembut memeluk pingganku sepanjang perjalanan.

“Mengapa kamu berganti nama?”

“Bukan saya.”

“Maksudmu?”

“Bukan aku yang menggantikan namaku.”

“Lantas, siapa?”

“Teman-teman kuliahku.”

Aku tersentak diam. Aku mengira Morin gadis desa yang tak berpendidikan tinggi. Tapi alur percakapan dengannya mengalir. Istilah-istilah akademik diselingi dalam setiap dialog.

“Oh, teman-temanmu.”

“Kenapa mereka panggil kamu Jessica?”

“Kata mereka, aku mirip Jessica Mauboy.”

“Penyanyi itu khan?”

“Australian Idol.”

Aku kontan terbawa kembali ke Townsville. Jessica Mauboy adalah idola di Benua Kanguru. Wanita berdarah Timor-Australia ini sering muncul di layar kaca TV ABC. Ia memang sangat mirip dengan Morin. Wajah bulat oval. Rambut lurus tergerai. Kulit sawo matang. Manis.

Aku hanya membathin. Tak berkata-kata apapun tentang Jessica Mauboy meskipun aku tahu banyak tentangnya. Tak terasa kami tiba jua di ujung kampung. Jessica turun dari motor dan berjalan kaki menuju rumahnya. Aku mengikutinya dari belakang.

Kebersamaanku dengan keluarga Morin akan berakhir. Hitungan hari. Aku harus kembali kampusku. Malam, sebelum berpisah, saya tanyakan perihal Morin dalam bahasa Tetun kepada ibunya.

“Apa arti Morin, Mama?”

“Kenapa Nai tanya begitu?”

“Tanya saja, Ma.”

“Anak pasti menyimpan sesuatu.”

“Tidak ada Ma.”

“Nai bilang saja. Tak usah malu-malu.”

“Hmmm, saya perasaan saja dengan arti nama yang digunakan anak Mama.”

“Tidak ada yang lain?”

“Morin mengaku namanya Jessica. Dia tak mau disapa Morin.”

“Oh, itu intinya.”

Morin menatapku geram dari sudut ruang sambil mengepalkan tangan. Aku hanya tersenyum dan tak peduli dengan sikapnya.

“Morin itu adalah nama yang bagus. Nama itu diberi oleh ayahnya. Arti kata Morin adalah harum. Saat ia dilahirkan memang tercium aroma bunga yang sangat harum.”

“Nah, Morin dengar khan?”

“Dia tahu Nai. Dia memang begitu. Tak mau memperkenalkan diri dengan nama Morin. Katanya kampungan.”

Morin tersenyum mendengar penjelasan ibunya. Senyum yang membungkus kegeraman. Karena ibunya telah membuka rahasia dirinya kepadaku.

“Morin ini putri tunggal kami. Ia menyelesaikan studinya di ISI Yogyakarta.” Lanjut sang ibu.

“Kok, ia mau tinggal di kampung?”

“Selepas tamat, ia kembali dan memutuskan untuk menetap di kampung ini. Itu sudah menjadi tekadnya. Impiannya adalah merawat tradisi leluhurnya agar tidak tergerus jaman.” Tutur wanita yang berprofesi guru SD di kampung ini.

“Sebuah keputusan yang hebat. Tidak semua sarjana mengambil sikap untuk menetap di kampung.” Aku menimpalinya.

“Dia pewaris kami. Kami tumpuhkan harapan padanya. Lagi pula ia sangat suka dengan budaya. Morin penari Likurai yang hebat. Ia bahkan menjadi pelatih bagi generasi muda yang berniat menari Likurai.”

“Karena itu Mama mengirimkan dia studi di ISI Yogya?”

“Iya Nai. Itu salah satu alasan.”

“Morin punya sanggar tari, Ma?”

“Iya Nai. Bila ada tamu atau wisatawan datang ke kampung adat ini, Morin dan anak binaannya yang menyambut dengan tarian Likurai.”

Prasangkaku tentang Morin hanyalah seorang gadis kampung sirna. Tanda tanyaku terjawab. Morin adalah gadis terpelajar yang bersikap sahaja. Dari tutur kata dan dandanannya. Ia selalu mengenakan kain tenunan dipadu dengan baju-baju modern. Terlihat anggun. Rupawan.

Pagi sebelum meninggalkan Kletek, aku mengambil sebuah bingkai berukuran 10R. Bukan foto yang terpampang di sana. Tapi selembar daun kering berbentuk hati. Di bawahnya tertulis “I Love You”. Tulisan ini dibentuk dari batang tumbuhan menjalar. Semuanya kuambil dari hutan We Matan Tubaki. Aku menyerahkan kado ini disaksikan oleh kedua orang tuanya. Morin sumringah. Tak menyangka ia akan mendapatkan kado sederhana ini. Ia tak pernah tahu aku menyiapkan ini.

“Hanya ini yang aku dapat berikan untuk Morin. Ini ada wujud cintaku.”

Orang tuanya terhanyut bahagia. Morin tak mampu berkata-kata. Sebuah ciuman dan pelukan mewakili seluruh perasaannya. Aku merasakannya. Dengan berat aku meninggalkan halaman rumahnya, berjalan pintu mobil travel yang sudah dibukakan sang sopir.

Tentang Penulis: Giorgio Babo Moggi

Gambar Gravatar
Menulis adalah cara untuk mengekspresikan pendapat atau pikiran tanpa terbelenggu.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *