Apa dan Siapa Yang Menyebabkan Mirna Meninggal?

oleh
Jessica dan Mirna (Foto: Oketekno.Com)
Jessica dan Mirna (Foto: Oketekno.Com)
Jessica dan Mirna (Foto: Oketekno.Com)

| KOEPANG.COM | Apa dan Siapa Yang Menyebabkan Mirna Meninggal? Saya memberi judul tulisan ini; Siapa dan Apa yang Menyebabkan Mirna Meninggal? Dari judul ini dapat diuraikan menjadi dua pertanyaan. Pertama, apa yang menyebabkan Mirna meninggal? Kedua, siapakah yang meracuni Mirna?

Apa dan Siapa Sebab Kematian Mirna?

Dua pertanyaan di atas, menjadi pertanyaan awal terhadap sebuah kasus kematian. Ini pertanyaan yang lumrah yang sering kita dengar dalam kehidupan nyata jikalau kita mendengar kabar ada kerabat atau keluarga yang meninggal?

“Dia sakit apa?”

“Dia meninggal karena apa?”

Masih banyak bentuk pertanyaan lain yang memiliki makna serupa. Intinya mereka menanyakan sebab musabab kematian seseorang. Jadi, pertanyaan orang baru merujuk pada apa (obyek) yang menjadi sebab, belum sampai kepada subyek (orang) yang menggerakan objek tersebut atau menjadi sebab kematian.

 Dalami Apa, Baru Siapa yang Meracuni Mirna?

 Maka langkah yang pertama, yang harus didalami apa di balik kematian seseorang. Sesudah itu, baru menelusuri ada atau tidak ada keterlibatan subyek-subyek tertentu terhadap kematian itu.

Kasus Mirna memang sedikit nyelimet sebagaimana kita ikut di media massa baik di persidangan maupun di luar persidangan. Jessica ‘terlanjur’ ditetapkan sebagai terdakwa dengan alasan dialah satu-satunya yang ada di TKP – abaikan asas praduga bersalah. Dia pula yang memesan kopi, membayar kopi, menggeser kopi, dan seterusnya. Jessica menjadi terdakwa, bukan tersangka – sehingga mengabaikan kemungkinan pelaku lain. Sayangnya hingga vonis Jessica penjara 20 tahun dipalu, para penegak hukum belum bisa membuktikan fakta Jessica  yang menaruh sianida ke dalam gelas Mirna.

Maka hal yang dilakukan polisi adalah mendalami apa yang menyebabkan kematian Mirna. Apakah Mirna meninggal karena racun? Jika racun, apa racunnya? Atau meninggalkan faktor lainnya?

Otopsi merupakan langkah ilmiah yang paling tepat. Hanya cara itu untuk membuktikan bahwa ada atau tidak kandungan sianida di dalam tubuh (lambung) Mirna.

Otopsi ini juga tidak hanya untuk mendeteksi kandungan sianida semata, juga untuk mengetahui jenis makanan yang diksonsumsi Mirna sebelum menyeruput kopi maut tersebut. Bukan tidak mungkin persenyawaan makanan yang dimakan dengan kopi yang diteguk dapat memicu racun yang mematikan, misalnya. Who knosws?

Setelah menemukan fakta apa, langkah selanjutnya mendalami siapa yang terkait dengan apa tersebut. Dalam kasus ini, adakah seseorang yang meletakan apa (racun) itu ke dalam gelas Mirna? Siapa itu biasa pelaku jamak. Bisa pula tunggal. Tergantung dari alur peristiwa, misalnya SOP pembuatan kopi hingga tersaji ke meja pelanggan. Tidak ada yang mustahil terjadi sesuatu di luar kontrol manusia (pihak Oliver Café). Segala kemungkinan yang terjadi harus ditelusuri dan didalami. Termasuk melacak alur pembelian sianida tersebut. Jika Jessica yang meracuni, darimana Jessica membeli zat mematikan tersebut.

Jessica Mungkin (Tidak) Racuni Mirna, Tapi Hukum Butuh Bukti

Jessica (mungkin) salah, tetapi untuk membuktikan seseorang bersalah atau tidak harus diperkuat oleh bukti atau fakta. Tidak cukup pendapat para saksi ahli. Apalagi saksi ahli psikologi. Pendapat meraka bisa saja sebuah opini daripada sebuah kebenaran ilmiah. Membedah psikis manusia bagaikan sebuah puzzle dengan seribu langkah rumit. Apalagi kita hanya menilai dari cara senyum, posisi duduk dan sebagainya.

Publik dibikin pusing dengan beragam pendapat para ahli yang tidak bermuara pada kebenaran tunggal yang menyatakan bahwa racun dalam tubuh itu adalah sianida.

Pembuktikan yang bersifat eksak saja (patalogi) berbeda, apalagi yang lainnya. Hakim, jaksa dan pengacara boleh berdebat dan berbeda pendapat, tetapi pendapat ahli patologi harus seragam – selama mereka menggunakan metode yang sama. Uji materilnya jelas, jika dibandingkan dengan uji psikis. Relatif untuk semua orang.

Kita berharap profesionalitas penegak hukum sehingga berdampak pada proses pengadilan yang adil. Jika penegak hukum tidak bisa menghadirkan fakta, percuma saja siaran langsung di TV One dengan tajuk “Siapa Meracuni Mirna?” menjadi sia-sia. Yang tampak malah ibarat sebuah sinetron yang kejar tayang. Ending-nya pun sudah bisa ditebak. Rasa keadilan semakin jauh, tetapi ranting televisi terus melejit.

Tulisan ini tidak pada posisi untuk membela Jessica. Tujuan penulis agar penegak hukum bertindak profesional. Karena berhari-hari mengikuti persidangan tidak menemukan fakta yang terang benderang. Kebenaran pun semakin sumir. Hanya dengan alasan ingus, air mata dan gerakan kaki, seseorang bisa menjadi terdakwa dan divonis penjara. Sayang khan? Padahal publik penuh berharap kasus Mirna menjadi pembelajaran hukum yang transparan karena disiarkan secara langsung dan masif. ***

Tentang Penulis: Giorgio Babo Moggi

Gambar Gravatar
Menulis adalah cara untuk mengekspresikan pendapat atau pikiran tanpa terbelenggu.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *