Mesias, Nabi, dan Dosa Politik

oleh
Ilustrasi (Foto: nu.or.id)
Ilustrasi (Foto: nu.or.id)
Ilustrasi (Foto: nu.or.id)

| KOEPANG.COM | Mesias, Nabi, dan Dosa Politik. Pilkada kali ini sangat istimewa bagi rakyat di 9 kabupaten se-provinsi Nusa Tenggara Timur; TTU, Malaka, Belu, Sabu Raijua, Sumba Barat, Sumba Timur, Manggarai, Mangggarai Barat, dan Ngada.

Hari ini adalah puncak ‘adventus’ (penantian pemimpin baru) atau pemimpin lama (incumbent) yang diperbarui bagi rakyat dari 9 kabupaten melalui proses Pilkada.  Ketokohan mereka didengung-dengungkan oleh tim sukses dan simpatisan masing-masing.

Tim sukses dan simpatisan tampil sebagai ‘nabi-nabi’ yang mewa

rtakan junjungannya. Melapangkan jalan tujuan dan meraih simpatik masyarakat. Janji-janji menggugah logika dan rasa. Kadang tidak masuk akal sehat.

Janji-janji dibalut dalam kata-kata retoris. Kelak, kenyataannya belum tentu demikian. Inilah realitas politik di negeri ini. Distorsi makna. Menabur ‘madu’ dan ‘mana’ di tengah masyarakat yang gamang, galau, geram dengan elit politik.  Janji-janji ‘surgawi’ berhamburan lalu menguap pasca Pilkada.

Suara mereka lantang bergema. Memuji dan mengeluk-elukan jagoannya. Mengkultus-individu-kan calon pemimpin. Seolah-olah calon pemimpin itu adalah ‘mesias’ (baca: pembawa perubahan). Menjadi penyelamat rakyat dari berbagai bentuk ketidakadilan, kemiskinan, dan ketidakberdayaan. Hal ini terjadi jika dan hanya jika mereka berada di tahta kekuasaan. Padahal mereka adalah bagian dari tirani itu sendiri.

Perilaku para ‘mesias’ gampang berubah. Menjadi orang yang baik, ramah, dan supel. Tebar senyum-sapa di mana-mana dan dengan siapa saja. Tampil menawan di hadapan publik. Kata-kata mereka terukur dan santun.

Tim sukses dan para pendukung tampil pun terus mengobral ‘mesias-mesias’ politik. Menguburkan segalah keburukan ‘mesias’, dan mengangkat tinggi-tinggi kebaikan. Kadang pula dipolitisasi seacara hiperbolis. Bertameng dalam kata hipokrasi.

Rakyat tidak boleh terlena dengan janji para mesias dan nabi politik. Harus mampu menakar setiap kata dan tingkah mereka. Tujuannya hanya satu  supaya rakyat, ‘mesias’, dan ‘nabi’ tidak terjerembab dan terkubur dalam lumpur dosa politik.

Tentukan pilihan anda sesuai nurani. Bukan oleh para ‘mesias’ dan ‘nabi’ politik. Nuranimu adalah ‘mesias’ dan ‘nabi’ terdekatmu, selain Sang Mesias dan para nabi sejati.

Kita memang tidak memilih pemimpin yang terbaik dari antara yang baik. Bisa sebaliknya, memilih pemimpin yang terbaik dari antara pemimpin yang dengan segala kekuarangan manusiawinya.

Selamat merayakan pesta demokrasi. Semoga semangat Natal, kelahiran Sang Mesias Sejati menginspirasi para mesias politik untuk memegang teguh janjinya jika hari ini dipilih secara mayoritas rakyat dimana dia bertarung.***

Tentang Penulis: Giorgio Babo Moggi

Gambar Gravatar
Menulis adalah cara untuk mengekspresikan pendapat atau pikiran tanpa terbelenggu.