Menakluk Ketakutan, Merengkuh Negeri Rai Hawu

oleh

KOEPANG.COM – Cerita tentang Negeri Rai Hawu atau Sabu adalah cerita tentang kerinduan. Kerinduanku pada alam, budaya, dan tradisi. Kerinduan pada ama-ina yang berparas ‘india’.

Kepada seorang sahabat, Novita Herewila, wanita blasteran Sabu-Jawa, saya menuturkan, “Saya ingin ke Sabu.”

Ungkapan hati ini terlontar dari mulut saya dua minggu yang silam.

Ucapan ini menjadi kenyataan seminggu kemudian. Saya mendapat tugas ke Sabu. Mungkinkah ini yang disebutkan dengan ‘Power of Law’ – yang menggambarkan kekuatan pikiran (impian) saya itu? Kita bisa menarik apa saja yang kita pikirkan ke dalam realitas kehidupan kita. Mungkin saja demikian. Saya percaya dengan hal itu.

Menyebut Sabu, yang orang langsung membayangkan kondisi alam yang gersang, pohon lontar dan gula air, pilihan transportasi yang terbatas dan mahal, serta sarana akomodasi yang masih seadanya.

Benar adanya. Moda transportasi ke Sabu hanya dua pilihan saja; udara dan laut. Melalui laut ada dua pilihan jenis transportasi, yaitu ferry cepat dan ferry lambat. Waktu tempuh ferry cepat hanya 4 jam, sedangkan ferry lambat lebih dari itu. Alasan waktu, orang lebih memilih lewat udara. Walaupun anda harus membayar lebih mahal daripada transportasi laut. Tentu anda harus bernyali.

Lewat udara, pilihannya hanya satu. Satu-satunya pesawat, yaitu Susi Air. Badan pesawat ini berukuran ‘capung’. Bermesin jet. Kapasitas penumpang 12 orang – belum termasuk 2 orang pilot. Inilah yang mendebarkan saya. Naik pesawat besar saja, saya gugup minta ampun apalagi pesawat kecil. Tapi, kata penumpang di sebelah saya – ketika berada di dalan pesawat – naik Susi lebih aman. Selain pesawat ini bermesin jet, Susi bisa mendarat dimana saja. Itu katanya.

Karena ukurannya kecil, maka perhitungan bobot penumpang dan bagasi harus benar-benar akurat. Semua penumpang wajib naik alat timbang. Ini pengalaman kedua saya naik pesawat ditimbang berat badan. Pengalaman pertama, saya alami di bandara Komodo beberapa tahun silam. Tapi ukuran pesawat saat itu jauh lebih besar daripada si Susi ini.

Setengah satu lebih waktu Kupang, ‘boarding time’. Tiba di parkiran pesawat, penumpang yang pertama kali naik Susi – termasuk saya – pasti akan mengambil gambar dengan sang pilot. Menjadi kenang-kenangan. Jarang-jarang saya atau pun anda naik pesawat berpostur kecil ini.

Sebelum masuk ke dalam pesawat, penumpang berdiri membentuk setengah lingkaran dan memperhatikan peragaan penggunaan peralatan ‘live jacket’ yang diperagakan oleh seorang petugas pria. Peragaan ini memakan waktu lima menit saja.

Puji Tuhan. Terbang bersama Susi nyaman pada hari itu. Sepanjang jalan tidak ada goncangan yang mengobok-obok perasaan. Memang jiwa keberanianku lebih kuat daripada rasa takut. My job, my adventure. ***