Menteri Jokowi Sibuk Cari Pinggung Sendiri, Rindu Moerdiono Kembali

oleh
Moerdiono (Foto: Tokohbanyuwangi.blogspot.com)
Moerdiono (Foto: Tokohbanyuwangi.blogspot.com)

| KOEPANG.COM | Menteri Jokowi Sibuk Cari Pinggung Sendiri, Rindu Moerdiono Kembali.  Moerdiono adalah menteri Orde Baru yang sangat populer. Gaya tuturnya pelan. Ritme nada bicaranya monoton. Membosankan. Itulah Moerdiono, mantan Menteri Sekretaris Negara, era Orde Baru.

Kata yang seri terujar dari mulutnya, saat mengawali sebuah pernyataan, “Kata Bapak Presiden”. Mendengar penggalan ini terkesan “Soehartocentris”. Segala sesuatu harus “kata bapak presiden”. Apa-apa bapak presiden.

Gaya komunikasi politik atau diplomatis demikian tidak terlihat lagi jaman ini. Terutama era Jokowi. Para menteri pun semakin berani ‘bersuara’ atas namanya sendiri. Persepsi dan pandangan sendiri – meskipun ada benar substansinya.

Tapi moment, substansi, dan kapasitas kerap jauh dari pertimbangan. Berjalan sendiri. Berbicara lebih dahulu daripada presiden. Argumentasi benar. Cara dan etika public speaking seperti meresahkan dan menciptakan kegaduhan secara nasional.

Kegaduhan terbaru, di awal tahun ini, pengumuman kinerja departemen oleh Menteri PAN RB, Yuddy Chrisnandi. Penilaian kinerja kementerian ini menimbulkan polemik. Karena pada situasi dan kapasitas yang tidak tepat.

Perbedaan cara berkomunikasi para menteri ini karena perbedaan jaman. Era Soeharto, media komunikasi terbatas. Hampir semua media dalam cengkraman Orde Baru. Hak bicara pembantu presiden (baca: para menteri) harus mendapat restu presiden seperti gaya Moerdiono.

Keadaan agak berbeda jauh dengan Era Reformasi dan sesudahnya. Apalagi era Jokowi ini. Media tumbuh subur. Tanpa media pun, para menteri masih bisa berkicau via media sosial seperti twitter dan facebook. Sekejap saja, mereka menjadi terkenal karena pernyataan atau pandangannya.

Era keterbukaan dan banyaknya media, para menteri seolah sibuk mencari pangungnya masing-masing. Entah mereka hendak menumpang tenar, cari sensasi, atau menyelip kepentingan politis di dalamnya. Publik kadang sulit menebak maunya mereka.

Melihat tingkah para menteri era Jokowi, di satu sisi, positif, mengedepankan sikap transparansi, di sisi lain, menelanjangi diri satu sama lain sebagai tim yang tidak kompak, tidak bisa kerja sama, dan tidak bisa duduk bersama untuk memecahkan sejumlah persoalan negeri ini. Mereka masing-masing cari panggung sendiri demi popularitas dan kedudukan semata – meski tidak semua! ***

Tentang Penulis: Giorgio Babo Moggi

Gambar Gravatar
Menulis adalah cara untuk mengekspresikan pendapat atau pikiran tanpa terbelenggu.