Menimba Makna Kesuksesan dari Tenzing Norgay

oleh
Tenzing Norgay (Foto: thefamouspeople.com)

KOEPANG.COM – Kisah Tenzing Norgay, seorang pemandu para penakluk Mount Everest, menginspirasi pembaca di seluruh dunia. Betapa tidak! Di saat seharusnya ia memuncaki puncak gunung tertinggi di dunia tersebut, ia malah mempersilakan Sir Edmund Hillary, pendaki Selandia Baru, mencapai puncak dengan ketinggian 8.24 meter tersebut. Dan, nama Sir Edmund Hillary tercatat dalam sejarah sebagai  orang pertama yang memijakkan kaki di puncak Everest.

Sebagai seorang pemandu,  Norgay seharusnya mampu melakukannya, karena profesinya sebagai pemandu yang sudah pasti ia berjalan di depan dan lebih dahulu mengenal medan secara baik. Tapi ia tak melakukannya karena itu bukan IMPIAN baginya. Hal ini terungkap dalam wawancara yang dilakukan oleh satu-satunya jurnalis  dengan Norgay pada saat yang bersamaan jurnalis lain fokus perhatian pada penakluk puncak Everest, Sir Edmund Hillary.

“Apakah Anda seorang pemandu bagi Edmund Hillary? Tentu posisi Anda berada di depan dia, bukankah seharusnya Anda yang menjadi orang pertama yang menjejakan kaki di puncak Mount Everest?” Tanya sang wartawan tersebut.

“Ya, benar sekali, pada saat tinggal satu langkah mencapai puncak, saya persilakan dia untuk menjejakkan kakinya dan menjadi orang pertama di dunia yang berhasil menaklukan puncak gunung tertinggi di dunia ini”

“Mengapa Anda lakukan itu?” Sergap wartawan.

“Karena itu adalah IMPIAN Edmund Hillary, BUKAN IMPIAN saya. IMPIAN saya berhasil membantu dan mengantarkan dia meraih IMPIANNYA.” Timpal Norgay.

Kisah inspiratif Tenzing Norgay tentu terjadi pula dalam kehidupan nyata kita sehari-hari. Dialami oleh pribadi kita masing-masing. Siapapun status dan profesi kita. Di lingkungan tempat tinggal, tempat kerja dan singkatnya lingkungan dimana kita berada. Kita mungkin tak pernah menyadari seperti apa yang dilakukan oleh Norgay. Mungkin juga Anda sadar dengan apa yang Anda lakukan tapi Anda merasakan hal tersebut lumrah. Sederhana. Tak terlalu luar biasa. Nah, bagaimana dengan perasaan orang lain yang mengalami kebaikan Anda?

Penulis pun demikian. Mengalami situasi bagaimana dapat mewujudkan IMPIAN orang lain. Mulanya saya tak menyadarinya. Karena terdorong oleh idealisme, saya pun melakukan pekerjaan yang mungkin sebagian orang mengatakan saya “dimanfaatkan” tapi hemat saya TIDAK!

Kisah demikian. Saya kerap diminta oleh rekan kerja untuk menerjemahkan jurnal berbahasa Inggris. Saya menghitungnya sebanyak tiga kali. Tidak banyak kali. Tapi pengalaman ini tetap menarik untuk ditulis. Jurnal yang saya terjemahkan tersebut punya pimpinan yang melanjutkan pendidikan doktor (S3). Tiap kali memberi kopian jurnal untuk diterjemahkan, rekan saya selalu bilang, “Saya beritahu pak Gories yang terjemahkan.”

Saya tidak menanggapi pernyataan rekan ini secara serius. Saya yakin dan seyakin-yakinnya ia tak mungkin memberitahu kepada pimpinan sebagaimana yang sampaikan kepada saya. Pernyataan itu selalu diucapkan tiap kali ia mendapat orderan terjemahan dari big boss. Kalau pimpinan mengetahui saya terjemahkan naskah tugasnya, maka pimpinan tersebut tak memerlukan perantara (rekan kerja) lagi. Ia dapat saja langsung meminta bantuan saya.

Saya kadang mau menolak. Bukan karena saya tidak mau menterjemahkan jurnal tersebut. Tapi limit waktu yang diberikan terlalu singkat. Sebaliknya, kemudian saya berpikir hal ini sebagai tantangan bagi saya. Mengerjakan sesuatu dengan deadline yang sangat mepet. Hal ini sangat menantang.

Setelah menerjemahkan naskah, saya serahkan kepada rekan kerja saya. Selanjutnya ia berikan kepada pimpinan. Tiap kali baik sebelum atau sesudah melakukan terjemahan, ia selalu berkata, “Saya beritahu pak Gories yang terjemahkan.”

Pernyatan ini tak terbukti. Setiap kesempatan saya berpapasan dengan pimpinan tersebut, tak satu kalimat ucapan terimakasih atau komentar apapun darinya atas pekerjaan yang saya lakukan di luar tugas utama tersebut. Bahkan di saat saya pamitan dengannya karena pindah tempat tugas, saya tak mendapatkan apresiasi apapun.

Saya tidak bermaksud untuk mengharapkan pujian dari sang pemimpin. Saya lakukan dengan sadar sebagai pekerjaan yang dapat mengasah kemampuan saya. Saya tak pernah berkecil hati dengan apa yang saya alami. Pula dengan “lip service” rekan saya. Karena itu bukan IMPIAN saya. Impian saya adalah dapat mengejewantahkan kemampuan yang saya miliki. Entah sang mahasiswa S3 itu tahu atau tidak bukan menjadi target saya. Saya ikhlas dengan dampak dari pekerjaan saya bagi rekan kerja saya ini. Ia akan mendapat pujian, sanjungan dan mungkin promosi jabatan. Karena itu ‘mungkin’ IMPIAN baginya.

Itulah realitas hidup di dunia ini. Kita harus memaknai secara positif setiap pengalaman hidup kita. Dari kisah inspiratif Norgay kita dapat menimbah banyak hal terutama BAGAIMANA KITA BERSIKAP DAN MENGAMBIL LANGKAH ATAU TINDAKAN UNTUK MENDORONG ORANG LAIN DAPAT MERAIH IMPIANNYA.  Dan kita harus mampu menerima segala konsekuensi, di saat orang tersebut dapat mewujudkan impiannya, maka orang tersebut menjadi fokus perhatian orang lain dan mendapat imbalan dalam berbagai wujud, pujian, penghargaan, sanjungan dan mungkin kedudukan.

Lalu, bagaimana dengan Anda? Anda bisa saja seperti Norgay yang hanya diwawancari oleh seorang  jurnalis, sementara puluhan jurnalis lain menyemut pada orang yang meraih sukses itu.  Bila itu terjadi pada Anda, berbesarlah hati. Bukankah Anda telah menyukseskan orang lain meraih impiannya? Dan, itu kesuksesan yang sesungguhnya bagi Anda. Norgay telah mengajarkan kita.

Kita dapat menjadi Norgay dalam kapasitas, tugas dan tanggung jawab yang kecil yang dapat mewujudkan apa yang diimpikan orang lain. KESUKSESAN SEJATI ADALAH KESUKSESAN MENGHANTAR SESEORANG MENCAPAI IMPIANNYA. Bila ini menjadi PILIHAN kita, maka kita akan seperti Norgay. Ia tetap menjadi pemandu dan Sir Edmund Hillary tercatat dalam sejarah sebagai pendaki pertama yang memuncaki Mount Everest. Begitula pula dalam konteks kita. Maka dalam hidup, sekecil apapun kita, kita berkontribusi mewujudkan IMPIAN orang lain.

Tentang Penulis: Giorgio Babo Moggi

Gambar Gravatar
Menulis adalah cara untuk mengekspresikan pendapat atau pikiran tanpa terbelenggu.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *