Mengusir Hawa Dingin Kota Bajawa, Menyeruput Kopi di  Credo Café

oleh
Bersama adik Nengsih Daeng di depan Credo Cafe

Mengusir Hawa Dingin Kota Bajawa, Menyeruput Kopi di  Credo Café |KOEPANG.COM| Dalam benak saya, Credo Café adalah satu-satunya café di Bajawa, ibukota Kabupaten Ngada. Ternyata tidak! Masih banyak pilihan café yang menyuguhkan aroma khas kopi Bajawa. Informasi ini saya dapat dari Nengsih Daeng, sahabat serumpun Australia Global Alumni.

Tana Lodu misalnya, berjejeran café dengan menu yang variatif. Begitupun beberapa café yang tak jauh dari Lapangan Lebijaga. Okelah. Ini akan menjadi tantangan buat saya untuk menjelajah semua café yang ada di kota Bajawa. Tidak sekarang, tapi nanti. Tapi kali ini saya akan menulis tentang Credo Café.

Credo café berdiri sejak 2012. Café ini milik seorang civil engineer. Pengalaman kuliah di Bali menghantarnya untuk mengeluti bisnis café yang masih langka di kota Bajawa pada waktu itu.

Kepada saya, Ardis Baka, sang pemilik menuturkan penyesalannnya, “Seandainya saya tahu pilihan hidup saya menekuni bisnis café, mungkin saya akan kuliah jurusan tata boga.”

“Tidak ada yang kebetulan. Tidak ada pula yang terjadi di luar rencana. Apapun yang Ame (sapaan untuk pria Ngada) capai dalam studi dan bisnis yang geluti saat ini tidak sia-sia. Pada waktunya Ame akan menemukan korelasinya,”saya menyela.

Café ini terbilang sederhana tapi disain interior menarik dan terkesan ‘wah’. Semuanya dilakukan sendiri oleh Ardis. Saban waktu di luar waktu tugas, saya menghabiskan waktu di sini. Menikmati kopi, makan atau berselancar dunia maya atau menonton video musik khas reggae dan ja’i.  Praktis hotel hanya untuk tidur saja.

Kunjungan ke café ini merupakan kesempatan yang kedua, sebelumnya saya pernah ke sini pada 2016 silam. Letaknya memang sangat strategis. Jangkauannya ke pusat pertokoan sangat dekat, begitu pula akses ke hotel-hotel. Yang tak kalah strategis adalah café ini sangat dekat dengan pangkalan travel ke berbagai kota di daratan Flores. Tempat ini sangat tepat bagi orang yang sedang berpergian seperti wisatawan atau pegawai yang sedang berdinas di Bajawa.

Bersama adik Erik Siba

Tak mudah untuk membesarkan café ini. Ardis mengisahkan suka dukanya kepada penulis. Ternyata masyarakat masih memandang café seperti kedai kopi. Mereka terkejut ketika Ardis menyampaikan harga secangkir kopi berkisar sepuluh-lima belas ribu rupiah. Bayangan mereka secangkir kopi berkisar seribu atau tiga ribu rupiah.

Menurut Ardis, pengunjung yang pernah hidup di luar tak terlalu terkejut dengan harga menu café.  Ia memiliki alasannya, harga secangkir lebih mahal dari kopi yang dijual di kedai-kedai atau warung makan. Pertama, cita rasa kopi yang disajikan beda. Kedua, biaya operasionalnya besar karena menyeduh kopi menggunakan mesin. Terakhir, tentu yang tak kalah menarik adalah suasana dan layanan café tersebut yang membedakan dengan café lain.

Café ini memberikan layanan extra, yakni wifi berbayar lima ribu rupiah per jam. Bagi pengunjung yang ingin bermain internet dapat menggunakan service ini. Alasan wifi berbayar untuk mengimbangi harga makanan dan minuman yang relatif lebih murah daripada café pada umumnya. Plus sewa internet per bulan mendekati sejuta rupiah. Hal ini sering ditanyakan pengunjung, tapi akhirnya pengunjung terima setelah mendapat penjelasan dari sang pemilik.

Credo tidak sekedar café. Menjadi titik temu saya dengan para sahabat untuk bertemu dan bernostalgia sambil menyeruput kopi. Kali ini saya bisa bertemu adik Eric F. Siba dan Nengsih Daeng di café ini.

Tentang Penulis: Giorgio Babo Moggi

Gambar Gravatar
Menulis adalah cara untuk mengekspresikan pendapat atau pikiran tanpa terbelenggu.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *