Menguak Selendang dan Kearifan Lokal dari Lembah Fehan

oleh
Peserta Bimtek Dapodik (Foto: Dok. Pribadi)
Peserta Bimtek Dapodik (Foto: Dok. Pribadi)

Menguak Selendang dan Kearifan Lokal dari Lembah Fehan | KOEPANG.COM | Malaka adalah kabupaten termuda di Provinsi Nusa Tenggara Timur, merupakan pecahan dari Kabupaten Belu. Mendengar namanya, Malaka bukanlah nama yang asing. Dalam sejarah pelayaran para saudagar pada tempoe doeloe, nama Malaka sangat terkenal. Apakah Malaka ini yang dimaksudkan? Tentu tidak!

Nama boleh sama, tapi letak geografis berbeda. Begitulah adanya Malaka yang adalah sebuah wilayah DOB di Nusa Tenggara Timur dengan Malaka sebuah selat yang memisahkan Pulau Sumatera dan Semenanjung Malaysia. Kedua wilayah ini mungkin memiliki kaitan historis tapi penulis tidak akan bahas di sini.

Kunjungan saya ke Malaka pada minggu yang lalu adalah pengalaman pertama. Kabupaten terakhir di Nusa Tenggara Timur yang saya pernah jelajahi. Kesempatan itu datang ketika saya dipercayakan sebagai narasumber pada Bimtek Dapodik Tingkat SD, SMP, SMA, dan SMK Se-Kabupaten Malaka (27 – 29 September 2017).

Dari Kupang, saya dan Hendrik menumpang sebuah travel yang dihubungi oleh salah seorang mantan mahasiswa saya yang bekerja di Malaka. Sopir travel menjemput saya di rumah pukul 03.00. Dari rumah, kami menjemput Hendrik di kantor. Karena mobil harus menjemput penumpang yang lain,  mobil baru dapat meninggalkan Kupang pukul 6 sore. Menurut sopir, lama perjalanan Kupang-Betun memakan waktu lebih kurang  6 jam. Diperkirakan kami tiba pukul 24.00 Wita.

Kami beristirahat di Kualin sambil menikmati makan malam di sebuah rumah makan saat jarum jam menunjukkan pukul 08.30 malam. Jam 09.00 pun dilanjutkan. Sopir melajukan mobilnya. Kami pun tiba di Betun pukul 12.30 setelah berhenti 15-20 menit di sebuah jembatan daerah Menu karena pengerjaan aspal. Kami turun di Hotel Ramayana. Kami istirahat sejenak di teras lalu kami masuk kamar dan mengukur tempat tidur untuk mengumpulkan energi yang terkuras setelah menempuh perjalanan panjang.

Saya memang tidak memiliki gambaran sedikit pun tentang kota Betun. Karena saya baru pertama kali bertandang ke kota ini. Ternyata kegiatan Bimtek di luar kota. Berjarak 17-an kilometer dari jantung kota atau dari hotel yang kami menginap. Tidak mudah untuk mencapai Kobalima, tempat dilaksanakan Bimtek. Kita menyusuri jalan yang luas dan tidak banyak kelokan.

Pagi itu, sepanjang jalan saya melihat pemandangan unik. Beberapa orang  mengenakan selendang tenun. Pemandangan ini mengingatkan pengalaman saya di Australia. Saya sering melilitkan salendang di leher baik di kampus atau saat jalan-jalan. Seorang learning adviser bercanda kepada saya, “Kamu seperti sedang berada dalam situasi musim dingin”.

Kita bisa bayangkan seperti apa orang-orang sedang diliputi musim dingin. Mereka akan mengenakan busana yang tebal. Seluruh tubuh nyaris ditutup selain wajah. Mulai dari kepala, leher, badan hingga kaki. Biasanya orang sering mengenakan scarf atau semacam selendang yang melilit di leher.

Sebenarnya bukan persoalan musim dingin atau bukan, selendang yang saya kenakan saat itu hanya sebuah style saja.  Pikiran ini menyeruak ketika saya menjumpai orang-orang sepanjang jalan Betun – Kobalima. Betapa terkejutnya ketika kami tiba di lokasi kegiatan, SMA Fajar Timur Kobalima, pemandangan yang unik di jalan tadi ternyata tergambar pula di lokasi kegiatan ini. Semua peserta menggantungkan selendang di badan mereka.

“Apakah ini sekedar gaya atau style saja?” Gumamku waktu itu.

Saat pembukaan dimulai, saya melihat semua peserta berpakaian rapih, terbalut baju tenun dan selendang yang melintang di atas kedua bahu. Penasaran saya pun surut. Dalam benakku sebelum yang mengira style berubah pikiran pasti lebih dari sekedar style. Saat istirahat (snack), saya menanyakan perihal selendang kepada salah seorang panitia. Penjelasannya bahwa selendang merupakan atribut wajib dikenakan para pegawai se-Malaka pada hari Rabu dan kegiatan atau hajatan kedinasan. Penggunaan selendang ini sudah diatur dalam Peraturan Daerah (Perda) Kabupaten Malaka.

“Keren…Keren….” Kataku kepadanya.

Mengenakan baju tenun pada hari kerja tertentu atau kegiatan kedinasan merupakan pemandangan biasa. Tapi mengenakan selendang seperti stola yang dikenakan para pastor saat merayakan ekaristi merupakan terobosan baru. Akhirnya selendang mendapat tempat terhormat. Tidak sekedar sebagai gaya (style) atau gara-gara saja seperti kebanyakan orang dan saya lakukan selama ini.

Inilah cara atau bentuk apresiasi terhadap karya peradaban masyarakat lokal, para ibu-ibu yang telaten menenun. Karya mereka tidak saja dihargai tapi juga bernilai ekonomis yang  meningkatkan pendapatan mereka. Selendang pula dapat menunjukkan identitas atau asal usul seseorang. NTT memiliki beragam motif tenun telah menjadi identitas masing-masing daerah, kabupaten, suku atau etnis. Dari tenunan, entah baju atau selendang yang orang kenakan kita dapat mengenal asal usulnya.

Seorang anggota panitia lain menuturkan pengalaman Bupati Malaka saat berziarah di Vatikan. Disapa oleh peziarah lain karena ia melihat selendang yang dikenakan oleh Bupati Malaka. Peziarah itu pun memperkenalkan diri asalnya dari Timor Leste.

Selendang bisa menjadi fashion style, tapi di atas segalanya selendang menunjukkan  identitas kita – darimana kita berasal dan budaya kita seperti apa adanya.

Mari kita gunakan selendang menjadi atribut wajib dalam keseharian tugas pengabdian kita. Dengan cara itu kita dapat membantu para ibu yang menggantungkan hidup pada ketelatenan dan keuletan menenun setiap lembar lembar benang. Dengan demikian  kesetiaan  mereka pada panggilan hidupnya ini terbayar dengan nilai yang pantas. Mari belajar dari Lembah Fehan. Dari Malaka.

Tentang Penulis: Giorgio Babo Moggi

Gambar Gravatar
Menulis adalah cara untuk mengekspresikan pendapat atau pikiran tanpa terbelenggu.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *