Menggapai Kaki Awan di Nata Sule Hingga Diselimuti Kabut di Mulakoli

oleh
Kampung Nata Sule dengan latarbelakang Gunung Ebulobo (Foto: Dok. Pribadi)
Berlatarbelkang Gunung Ebulobo (Foto: Dok. Pribadi)

Dari Maukeli terlihat langit mendung sekitar kawasan kaki Ebulobo. Dugaanku tak lama akan hujan. Prasangka tak surutkan niat kami menempuh perjalanan ke Boawae hari itu.

Tinggalkan Malaliwo pukul 12 siang. Mampir rumah sepupu di Batawa. Setengah jam di sana, kami lanjutkan ke Boawae. Mendekat Maukeo, pikiran saya berubah. Saya pinta Nedis belok tunggangannya ke Pantai Maukeo.
Dua puluh jam menikmati hawa Pantai Ena. Dengarkan sapaan ombak. Diiringi gesekan dedaunan pohon ketapang. Perjalanan dilanjutkan. Berhenti di Mauponggo, mengisi lambung yang semakin kosong. Warung Bakso, milik wali murid Nedis menjadi persinggahan kami mengisi ruang tengah.

Sebelum melanjutkan perjalanan, lagi-lagi saya pinta Nedis lewat jalur tengah yang menghubungkan Kecamatan Mauponggo dengan Kecamatan Boawae. Nedis ragu-ragu dengan kondisi jalan. Tapi saya yakinkan Nedis jalan sudah bagus. Karena bulan Mei yang lalu saya melewati jalur ini.

Jalur tengah dianggap jalur baru. Medannya lebih sulit jika dibandingkan jalur barat. Wolosambi-Bolorongga-Kelewae hingga Gako. Sehingga banyak orang memilih jalur barat ketimbang jalur tengah. Karena jalur tengah menanjak dan banyak tikungan tajam. Kiri dan kanan curam. Sehingga sedikit butuh nyali dan ketangkasan mengendarai kendaraan baik roda dua maupun roda tiga.

Saat kami lewat memang jalan sudah diaspal. Terdapat beberapa meter ruas jalan yang rusak karena kikisan air hujan. Tapi secara umum jalan ini sangat layak dilalui. Kondisi jalan sangat baik. Selain itu anda akan disuguhkan dengan pemandangan yang sangat indah baik ke arah laut maupun pegunungan.

Anda dapat melihat laut lepas. Mauponggo yang berada di bibir pantai. Anda dapat pula melihat kampung Dhoki yang berada pada ketinggian. Memalingkan wajah ke arah kiri, anak akan melihat keperkasaan Ebulobo.
Anda tak akan bosan melewati jalan lintas tengah Mauponggo-Boawae. Mata dimanjakan dengan tumbuhan yang menghijau. Cengkeh, kelapa, pinang dan berbagai jenis tanaman lain berdiri berjejer di kebun-kebun masyarakat. Pula sawah milik masyarakat yang bertingkat-tingkat.

Hampir pada semua titik jalan jalur tengah menjadi spot fotografi. Anda dapat foto dengan latar belakang pengunungan dan laut serta kebun-kebun masyarakat yang benar-benar menggiring kita ke dalam suasana pedesaan.

Entah berapa banyak titik jalan yang kami harus berhenti. Sekedar foto-foto dengan latar belakang gunung Ebulobo, persawahan dan baris pegunungan yang membenteng kampung Dhoki di sebelah timur. Tapi dari semua spot yang kami berhenti, kampung Nata Sule adalah perhentian yang tak boleh lewat. Di kampung ini akan dapat mengambil gambar dengan berbagai sudut pandang. Baik dengan latar belakang gunung Ebulobo, hamparan laut Sawu dan barisan pegunungan di sebelah timur.

Tapi yang menarik ketika ada berada di tempat ini, anda benar-benar berada pada ketinggian. Anda merasa seperti di atas awan ketika melihat rumbai kabut menyelimuti Dhoki dan sekitarnya.

Saat kami melintas dan berhenti di sini, suasana jalan sepi. Masyarakat enggan keluar karena cuaca tidak bersahabat. Gerimis di luar rumah. Memperhatikan kondisi jalan yang basah, saya perkirakan Nata Sule baru saja diguyur hujan.

Beberapa anak kecil keluar rumah. Saya pun menyapa mereka dan mengajak foto di tikungan Nata Sule dengan latar belakang gunung Ebulobo. Sementara beberapa anak lain menghindar dan enggan mau foto bersama.
Hari semakin senja. Kami bergegas melanjutkan perjalanan setelah rehat sejenak di bale-bale bambu di simpang jalan. Puncak Ebulobo tampak dikerebutin kabut. Nyaris seluruh permukaannya tertutup . Hujan pun menetes sedikit demi sedikit menimbulkan kalut gelisah karena perjalanan masih jauh dan melewati jalan tanpa rumah penduduk.

Bersama anak-anak di Mulakoli (Foto: Dok. Pribadi)

Akhirnya tiba jua di ujung kampung Mulakoli, tepat di bawah kaki Ebulobo. Kampung masih tampak jelas terlihat ketika kami berada pada tikungan terakhir sebelum menuruni jalan berliku. Sesampai jalan datar dan lurus persis di depan SMP, Mulakoli diselimuti kabut. Saya minta Nedis hentikan motornya. Lalu anak-anak Mulakoli datang mengerumuni kami. Merekapun diajak berpose. Dengan tingkah dan gaya yang lucu, mereka menyemarak suasana senja yang kian sepi.  Rumah penduduk, pepohonan dan sekolah nyaris tertutup kabut. Kami diselimuti kabut dalam satu jepretan lensa kamera.

Tentang Penulis: Giorgio Babo Moggi

Gambar Gravatar
Menulis adalah cara untuk mengekspresikan pendapat atau pikiran tanpa terbelenggu.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *