Wijaya Kusuma : Sebuah Ajakan Kembali ke Kitah

oleh
Wijaya Kusuma dari Kamar Nomor Tiga (Foto: Daonlontar.Blogspot.com)
Wijaya Kusuma dari Kamar Nomor Tiga (Foto: Daonlontar.Blogspot.com)

| KOEPANG.COM | Wijaya Kusuma : Sebuah Ajakan Kembali ke Kitah – Telaah Novel Kusuma Wijaya Karya Maria Matildis Banda dari Perspektif Perencanaan PembangunanHari Jumat (8/1/15), saya kebagian Novel Wijaya Kusuma, karya Maria Matildis Banda. Sebenarnya, buka kebagian, tetapi saya minta langsung kepada rekan-rekan dari Bidang I Bappeda Provinsi NTT setelah mendapat restu dari atasan langsung mereka. Karena rasa penasaran dan minat baca akan karya sastra novelis ini untuk yang pertama kali.

Bunga Wijaya Kusuma

Membaca judul novel ini, sebelum membuka bungkusan plastiknya, tiba-tiba hati kecil saya bergumam; “Wijaya Kusuma?” Lantas bertanya, “Si(apa)kah dia?” Jujur, di benak saya, Wijaya Kusuma adalah sosok seorang pria. Seperti nama-nama pria dari etnis Jawa atau Tionghoa. Ketika saya menyobek plastik pembungkus novel, membuka dan membaca pada lembaran Dari Balik Jendela, saya kemudian tahu Wijaya Kusuma sebagai bunga dari pernyataan Bidan Ros.

“Wijaya Kusuma.” Jawab Ros sambil berjongkok menenyentuh daun-daun dari kuncup bunga yang tampak lebih segar. “Bawa dari kampung. Bunga ini hanya mekar pada waktu malam bahkan tengah malam. Yang ini merah mudah sekali cenderung putih. Yang ini putih bersih.” (WK, Hal. 17).

Mengapa Wijaya Kusuma, Bukan Rosa Dalima?

Sang penulis pandai ‘mengecoh’ pembaca dengan sebuah judul yang ‘asing’ – kecuali mereka yang menggeluti dunia bunga. Judul ini jauh dari angan orang NTT. Menggugah penasaran dan pertanyaan pembaca sekaligus menjawab penasaran dan pertanyaan itu sendiri; si(apa) itu Wijaya Kusuma.

Mengapa tidak menjadikan Rosa Dalima, pelakon utama cerita Wijaya Kusuma, menjadi judul novel ini? Bukankah Rosa Dalima juga nama yang indah? Mengandung makna bunga juga. Apalagi ia menjadi tokoh sentral dan menjadi daya tarik romantika yang terpapar di novel ini? Bukankah nama Rosa Dalima lebih mengena dengan konteks ke-NTT-an?

Sang penulis tentu memiliki argumentasi sendiri ketika memutuskan Wijaya Kusuma menjadi judul novel ini. Setelah membuka dan membaca halaman demi halaman masih pada Di Balik Jendela Kamar, saya menemukan bahwa Wijaya Kusuma tidak jauh dari kehidupan dan profesi Bidan Ros, sapaan Rosa Dalima. Sosok yang digambarkan cantik-rupawan, ramah, cekatan, dan penuh tanggung jawab.

“Intinya jangan sampai dijual murah, “kerasnya suara Lina membuat Bidan Ros bergidik. Dia berdiri menyentuh wijaya kusuma yang masih menguncup. Ada catatan sejarah yang menarik dari bunga ini yang perlu dibacanya kembali. Argumentasi teoritis dan falsafati yang menjelaskan mengapa bunga ini jadi simbol bakti husada. Simbol yang ada pada semua buku-buku kesejahatan produksi kementerian kesehatan, dinas kesehatan provinsi dan kabupaten. Semua informasi yang diketahuinya kelak akan sampai di puskesmas dan polindes tempatnya berkerja nanti. (WK, Hal. 31)

Stefanus, sebagai dosen dalam cerita novel tersebut, kerap menasihati mahasiswa-mahasiswinya, “Simbol bakti husada ini tidak ada apa-apanya kalau kalian tidak berupaya mengambil maknanya. Mulai dari bunga wijaya kusuma, selanjutnya kalian akan mengerti!” (WK, Hal. 31).

Keputusan Cerdas

Terlihat kecerdasan seorang Maria Matildis Banda menghadirkan sebuah simbol pelayanan yang mungkin orang pada lupa bahkan tidak tahu sama sekali baik oleh orang umum maupun para praktisi atau tenaga kesehatan.

Ia mempertegas penggunaan bunga wijaya kusuma sebagai simbol bakti husada bukan sekerdar lencana simbolik identitas tertentu tapi memiliki makna yang kuat dan mendalam. Pemahaman dan pelaksanaan pemaknaan simbol itu selaras antara kata dan perbuatan. Seperti Bidan Ros yang telah menjadikan wijaya kusuma mejadi pemberi inspirasi sejak masa kuliah.

“Sudah biasa dari kecil bantu mama mengurus bunga-bunganya. Pada masa kuliah kupelajari bunga ini secara khusus. Amat menarik hati. Karenanya bunga ini menjadi pendamping hidup, pemberi inspirasi, motivasi kerja, dan spirit untuk memberi pelayanan terbaik.” (WK, Hal. 18).

Ibunda Bidan Ros, yang juga adalah pensiunan bidan, memesankan kepada putrinya.

“Tanam saja. Pelihara saja. Nikmati saja alur tumbuh dan berkembangnya bunga-bunga. Wijaya kusuma memang unik . Dirimu juga unik. Masuk pendidikan bidan dan menemukan masa depan sabagai bidan itu juga unik, bukan pilihan biasa…” (WK, Hal. 31)

Karena itulah Bidan Ros senantiasa membawa bunga ini ke tempat tugasnya di Puskemas Flamboyan sebelum dipindahkan ke Polindes Bakung. Kehadirannya di Puskesmas Flamboyan telah merubah wajah Puskesmas yang gersang menjadi hijau berseri. Puskesmas dan mess dipenuhi aneka bunga, beragam tanaman apotik hidup, serta aneka sayur. Tak lupa bunga wijaya kusuma, spirit dan roh pengabdiannya sebagai seorang bidan.

Melalui novel ini, sang penulis melecut kita untuk kembali ke kitah; visi, misi, dan tujuan pelayanan dan pengabdian kita sebagaimana yang digambarkan atau dilukiskan dalam simbol-simbol institusi kita. Seperti simbol bakti husada yang merupakan bunga wijaya kusuma.

Memilih bunga wijaya kusuma sebagai judul karena simbol sifatnya universal. Berlaku untuk semua. Inilah kecerdasan novelis, tidak sekedar pandai merangkai kata-kata puitik dan menarik minat baca juga cerdas menentukan judul. Ia mampu meletakan simbol pada porsi yang tepat. Tidak sekedar untuk mengingatkan pembaca – terutama para tenaga kesehatan, tetapi menyadarkan mereka akan nilai-nilai yang terkadung di dalamnya (simbol, Red) sebagai panggilan jiwa. Tentu sebuah himbaun kepada kita semua untuk menjiwai setiap simbol yang menjadi roh atau spirit pelayanan dan pengabdian kita. Apakah setiap konsep perencanaan kita selalu berkiblat pada simbol pengabdian dan pelayanan kita? Sebuah pertanyaan yang harus dijawab di dalam hati kita masing-masing.*** (gbm)