Menelusuri Jejak Peradaban Sabu di Kampung Adat Namata

oleh

KOEPANG.COM – Namata, sebuah kampung adat di luar kota Seba, ibukota Kabupaten Sabu Raijua. Jaraknya diperkirakan 3-4 km dari jantung kora.

Jalan menuju kampung Namata belum diaspal. Saat kami lewat ada alat berat yang sedang melakukan pekerjaan pengerasan.

Sebenarnya, hati saya agak ciut masuk kampung adat. Terbayang sesuatu yang mistis, magis dan pantangan. Saya benar-benar andalkan pada tukang ojek yang saya kenal di bandara.

Saat masuk pelataran kampung, timbul ras was-was. Tapi, hasrat tualangku menantang. Saat kami tiba, ada dua orang lelaki sepuh duduk di tugu batu.

Wajah mereka dingin. Tidak senyum. Mereka bercakap dengan bahasa Sabu dengan sang ojek. Secara sepintas, sang ojek menjelaskan tujuan kedatangan saya. Saya pun tak ragu lagi menyalami mereka satu per satu.

Melihat kami bercakap-cakap, para ibu keluar dari dalam rumah. Hanya mama Elisabeth yang ‘nimbrung’ dan lainnya berlalu saja dan melakukan pekerjaan rumah tangga. Beberapa anak kecil pun berdatangan. Berlarian di sekitar tugu batu.

Mama Elisabeth mengajak kami ke rumahnya. Duduk di kursi ysng telah tersedia di halaman rumahnya. Dua lelaki itu menyusul dan bergabung. Duduk di fundasi rumah kolong milik mama Elisabeth. Mereka ‘memamah’ sirih pinang. Lalu saya mengambil lesung super mini dari tangan seorang pria yang bertelanjang dada. Saya tumbuk pinang, sirih, dan kapur yang ada di lesung itu. Dua lelaki itu mengamati saya. Saat inilah saya baru mengenal dua lelaki ini lebih dekat. Ternyata mereka gampang akrab dan bercanda – meskipun wajah mereka tetap dingin.

Seorang wanita datang dari dalam rumah mama Elisabeth membawa dua gelas air gula (hasil sadapan pohon lontar) dalam nampan. Mama Elisabeth mempersilahkan kami minum. Saya meneguk air gula itu. Rasanya segar dan manis. Mampu membasahi kerongkonganku yang kering setelah menjelajah Pelabuhan Seba, Lokasi Wisata Napae, dan Tambak Garam Lede Ana. Cerita dan canda pun berlanjut bersama mama Elisabeth yang ramah ini.***

Tentang Penulis: Giorgio Babo Moggi

Gambar Gravatar
Menulis adalah cara untuk mengekspresikan pendapat atau pikiran tanpa terbelenggu.