Memoar Cinta Untuk Seorang Sahabat

oleh
“Cinta adalah ratusan benang kecil yang merajut pasangan bersama-sama melewati tahun demi tahun.”      [Simon Signoret]
Enos (busana Rote) dan Novita (busana adat Sabu) pada acara Kenoto – Ritual Adat Sabu (Foto:Facebook.com/Novita.Herewila)

Memoar Cinta adalah kado untuk seorang sahabat dan rekan kerja. Saya hanya mampu mempersembahkan rangkaian kata nan sahaja ini. Tiada materi yang lebih beharga selain tumpukan kata-kata yang terajut dalam kemasan memoar ini.

Tulisan ini sangat-sangat sederhana. Minim sentuhan atau nuansa sastrawi. Sebuah ekspresi dalam untaian kata wujud rajutan persahabatan selama ini. Bukankah setiap apa yang tertulis akan tetap tertulis? Kapanpun sesuatu yang tertulis itu dapat dibaca kembali?

Saya mengenalnya kala saya pindah dari Biro Kepegawaian Setda Provinsi NTT ke Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga Provinsi NTT (2011). Saya menjadi staf di Sub Bagian PDE, sedangkan ia adalah staf pada Bidang Pendidikan Luar Sekolah (PLS). Letak ruang kerja kami tidak jauh. Hanya dipisahkan oleh lorong yang membela gedung ini menjadi dua sisi yang simetris. Sehingga kami sering berpapasan. Kadang pula kami sering bertemu terkait dengan urusan pekerjaan.

Pada 2012 saya mengikuti Pre Depature Training (training persiapan studi ke Australia) selama 6 bulan. Komunikasi via facebook tetap lancar. Saya mendapatkan informasi perkembangan kantor salah satunya melalui dia, selain ibu Lola Giri, Eus, Max dan staf  PDE lainnya. Selain itu, ia adalah salah satu penikmat tulisan saya yang selalu menu wajib  di wall facebook saya.

Akhir Oktober 2012, saya kembali berkantor. Pada medio 2013, saya meninggalkan Kupang. Melanjutkan studi di Townsville. Komunikasi saya dengan sahabat ini tetap lancar. Facebook adalah media penghubung kami. Sehingga saya dengan mudah akses informasi dan perkembangan tempat kerja. Salah satunya melalui dia.

Sekembali dari Australia, saya tidak langsung ditempatkan di Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Dinas PPO yang telah berubah nama). Saya tertahan di Badan Kepegawaian Daerah (BKD) selama 6 bulan, kemudian pindah ke Bappeda Provinsi NTT. Setahun di sana, saya kembali ke Dinas Pendidikan dan Kebudayaan dan diperbantukan di Sub Bagian PDE – tempat lama pula. Lagi, ia  menjadi tetangga meja kerja. Komunikasi kami lebih intens. Tidak saja soal kerja, tentang menulis, tentang buku, juga tentang Yogyakarta. Ia wanita berdarah Sabu-Yogya sehingga sangat paham tentang kota budaya ini. Dan pula saya pernah menghirup udara Yogya selama menempuh pendidikan diploma dan sarjana. Sehingga cerita kami nyambung.

Selama itu saya dapat mengenalnya dari dua aspek saja, yakni ia memiliki hobi membaca dan minat menulis yang tinggi  – hasrat yang belum kesempaian hingga saat ini. Saya kerap melihat beberapa buku tergelak di meja kerjanya. Buku-buku motivasi hidup. Kadang saya meluang waktu sejenak tanpa sepengetahuannya untuk membaca beberapa bab. Kecuali buku tentang Ahok karya Deny Siregar, saya pinjam dan baca bab-bab awal saja.

Soal cinta, saya tak tahu banyak. Bagi saya itu merupakan hal privasi seseorang. Menceritakan atau tidak, bukan urusan kita untuk mencari tahu kecuali diceritakan olehnya sendiri. Tapi di sela-sela percakapan, ia menyisipkan kisah perjalanan cintanya.

Sebulan terakhir, saya menemukan beberapa buku bertemakan tentang pernikahan. Saya hanya bertanya dalam hati,”Akankah ia nikah dalam waktu dekat ini?”

Saya memang mendengar langsung darinya juga dari rekan kerja yang lain bahwa ia telah bertunangan. Siapa pria itu, saya belum tahu. Seminggu lalu ia berbisik dari seberang mejanya sambil menyodorokan undangan berwarna dasar biru dengan motif bunga, “Om, saya mau nikah.”

“Oh, jadi ijin selama beberapa hari ini dalam rangka persiapan momen istimewa itu, ya?” Saya mencandainya.

Dibalasnya dengan tawa, “Bukan juga kok Om, saya dampingin Mami  sakit.”

“Ya, tapi Mami khan bukan alasan utama, persiapan pernikahan itu, khan?” Sambung saya dengan tawa.

“Ah, tidak , Om.” Dibalasnya sambil tersenyum.

Sejam kemudian, sang calon mempelai pria datang. Ia memperkenalkannya satu per satu kepada kami.

Sebagai sahabat saya ingin menuliskan sesuatu untuknya selain tentang perjalanan persahabatan kami di atas pula tentang cinta yang menjadi sebuah fundasi perkawinan itu sendiri.

Perjalanan cintanya adalah tapak ziarah hidupnya nan misteri. Dan, cinta itu memang misteri. Siapapun tak mampu menentukan dengan siapa kita menikah. Benar bahwa kita melewati masa pacaran. Tapi itu bukan jaminan bahwa kita akan menikahi dengan orang yang dipacari.

Kadang kita selalu bertutur bahwa jodoh ada di tangan Tuhan. Siapapun boleh memilih pasangan tetapi Tuhanlah yang menentukan. Karenanya, sesungguhnya cinta adalah sebuah kata kerja. Kata yang menyiratkan makna berproses (aktif). Bambang dan Hanny Syumanjaya (2009) menuliskan demikian, “Cinta mewakili rangkaian perasaan dan pengalaman yang berhubungan dengan rasa sayang (kasih) sampai dengan ketertarikan akan lawan jenis.” Dari pernyataan ini jelas bahwa cinta memerlukan waktu berproses yang panjang. Dan, Tuhan memiliki cara untuk mempertemukan kita dengan pasangannya – melalui siapa dan dengan cara apa.

Proses itu bisa panjang. Bisa pulang sangat singkat. Kadang orang tidak tahan banting dengan proses yang panjang. Memilih proses yang instan. Padahal kematangan dalam hubungan cinta adalah seberapa jauh mil kita berjalan bersama pasangan hingga menemukan satu visi.

Visi itu bisa apa saja. Mungkin orang menikah ingin mewujudkan keluarga yang bahagia, memiliki rumah yang mewah dan putra-putri yang cantik dan ganteng. Bisa pula visi berupa impian suatu keadaan yang abstrak – tak terjamah, yakni kebahagiaan yang paripurna ketika keduanya memadu kasih. Menerima apa adanya diri satu sama lain.

Tapi semuanya dari itu, fundasinya adalah cinta. Buah dari cinta adalah memberi diri dan berkorban bagi pasangannya. Bukankah mencintai lebih dahulu daripada dicintai? Saya lalu teringat dengan kutipan dari Buku Discovery Family Way (2009), “Love is giving the best. Anda dapat memberi tanpa mencintai tetapi Anda tidak dapat mencintai tanpa memberi.”

 

Memberi dalam beragam wujud. Menyerahkan diri kepada pasangan. Memberi pula berarti melayani. Menjadi pelayan pasangan, begitupun sebaliknya. Dan P. Herod menulis demikian, “Cinta itu seperti sebuah serve (memukul bola awal) pertandingan tenis; Anda tidak akan pernah menang secara konsisten sampai Anda belajar serve (melayani) dengan baik.

Sahabatku telah beralih status atas restu Sang Sumber Segala Cinta dihadapan Pendeta dan disaksikan oleh jemaat pada hari ini (21/09/2017). Mereka tidak lagi dua melainkan satu. Senafas cinta dengan lelaki belahan jiwanya. Berikrar setia, satu nada dan asa untuk mengarungi sumudera bahterah rumah tangga nan luas ini. Perkawinan adalah satu benang kecil yang merajut perjalanan ini. Masih membutuhkan benang kecil lain untuk terus merajut lembaran perkawinan hingga keabadian cinta.

Merajut benang kecil itu ibaratnya menulis. Menulis untuk merawat dan mengawetkan kemurnian cinta hingga akhirnya menjadi emas berlian yang berdaya guna bagi  diri sendiri, keluarga dan sesama. Sahabat saya telah berada pada satu titik untuk menulis dan mengukir kehidupan bersama orang yang dikasihi dan yang mengasihnya menjadi lembaran demi lembaran kisah hidup bersama.

Saya teringat dengan pertanyaannya, “Om, bagaimana ya cara menulis yang baik?”

Sebuah pertanyaan menggambarkan bahwa pekerjaan menulis masih merupakan sesuatu yang sulit. Mantan pembina asrama saya di Sancla Kuwu, Romo Osharjo, kini Preses Seminari Kisol, pernah mengatakan bahwa ada orang sulit berbicara tapi mudah menulis, tapi ada pula yang lebih mudah berbicara daripada menulis. Relatif.

Saya tahu sahabatku ini memiliki hasrat atau minat untuk menulis – hanya belum tiba waktunya. Bukankah seseorang memulai sesuai dengan keinginan atau hasrat yang tinggi?

“Menulis itu mudah. Tulislah tentang diri sendiri –perasaan  dan pengalaman hidup harian Anda.” Balasku pada suatu ketika.

Enos dan Novita (Foto: Facebook.com/Novita.Herewila)

Happy Wedding Novita Herewila dan Enos Dano. Selamat menempuh hidup rumah tangga baru. Kalian telah berada pada titik nol dalam tapak ziarah perkawinan – saat yang tepat untuk menjadi penulis kitab hidup keluarga. Maaf, hanya ini yang saya punya sebagai persembahan istimewa pada peristiwa bersejarah dalam hidup kalian. Tuhan memberkarti.

Tentang Penulis: Giorgio Babo Moggi

Gambar Gravatar
Menulis adalah cara untuk mengekspresikan pendapat atau pikiran tanpa terbelenggu.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *