Melepas Senja dan Menggantang Asa di Pantai Watulajar

oleh
Pantai Watulajar - Riung - Flores (Foto: Dok. Pribadi)
Pantai Watulajar – Riung – Flores (Foto: Dok. Pribadi)

Tak pernah terencanakan. Apalagi terpikirkan jauh-jauh hari. Saya bakal mengunjungi Watulajar sebelum matahari menepi. Hari itu.

Niat itu muncul seketika. Kala saya bersama saudari saya, suami, dan anak-anaknya duduk di bale-bale di Nggolonio. Watulajar tiba-tiba terlintas di benak.

Mengenal Watulajar bermula dari pemilik Bungalow Eco Eden Flores, Philip V. Neri, yang memuat bangunan bungalow di wall pribadinya. Saya pun penasaran dengan tempat tersebut. Di kolom komentar, ia menyebut tempat yang bernama Watulajar ini. Saya membalas, “Suatu waktu saya akan berada di sana.”

Dorongan itulah yang mengarahkan pikiran saya untuk jelajahi Watulajar. Ketika posisi saya tak jauh dari Watulajar, gerakan bawah sadar memicu benak akan kata-kataku kepada pemilik Eco Eden Flores.

Informasi dari suami kakak saya, Watulajar hanya berjarak belasan kilometer dari Nggolonio ke arah Riung. Tepat di antara Kota Mbay dan Riung. Aksesnya mudah karena melewati jalan lintas Flores. Jalan menuju Pantai Watulajar sudah di-hotmix.

Lantas saya meminta eja (suami kakak) antar ke Watulajar. Menumpang kendaraan roda dua. Kami tiba di Watulajar sekitar jam 4 petang. Jalan ke sana memang sudah baik. Tepat seperti diceritakan eja saya. Meskipun di beberapa ruas jalan utama (lintas pantura) terdapat longsoran ringan di salah satu sisi jalan.

Dari jalur pantura, kami berbelok kanan. Memasuki perkampungan Watulajar. Jalan lebar dan di-hotmix. Kecuali sekitar 300-an meter ke arah pantai, jalan dibiarkan tanpa aspal. Entah dibiarkan natural atau memang pengerjaan jalan baru sejauh itu. Namun jalan tidak buruk amat. Lapisan tanah dan batu padat yang telah ditindih dengan alat berat.

Watulajar memang sedikit berbeda dengan daerah lain di pesisir utara seperti Nggolonio yang terkesan gersang. Minim tumbuh-tumbuhan. Watulajar lebih hijau. Pepohonan maupun rerumputan. Menurut pengakuan kesa, Watulajar memiliki sumber mata air. Karena itulah tanah sekitar sedikit lebih subur jika dibandingkan di kawasan lain di sekitarnya.

Tumbuhan landak, saya sebut saja demikian, karena bentuknya, memenuhi sepanjang pantai. Tapi ia meninggalkan ruang kosong untuk bentangan pasir putih. Banyak ditemukan sampah plastik yang tercecer. Bekas kemasan makan dan minuman pengunjung.

Sementara itu di ujung jalan, sebelum pantai, berdiri bangunan yang bercat biru di sisi kanan. Entah  toilet,  kamar mandi atau kantor yang tidak terawat. Disekitarnya telah ditumbuhi semak belukar cukup tinggi.

Kondisi ini memang memprihatinkan. Sementara Pantai Watujajar menjanjikan masa depan pariwisata di Kabupaten Ngada. Pesonanya dapat menarik wisatawan asing maupun domestik. Pantainya menghadap Laut Flores. Di sebelah kanan terdapat sebuah tanjung seolah-olah menjadi benteng Pantai Watulajar. Di depannya, sebuah pulau kecil seukuran sebuah batu besar. Batu ini menjadi pemanis pemandangan Pantai Watu Lajar. Sedangkan di sisi barat tampak gugusan pulau yang dikenal dengan 17 Pulau Riung. Sehingga gugusan pulau ini menjadi latar foto atau gambar. Langitnya biru bersih. Tampak rumbai-rumbai putih bagaikan oretan kuas di langit. Perahu motor berjejer hanya beberapa meter dari bibir pantai. Sayangnya, keindahan alam  tidak diimbangi dengan kebersihan pantai.

Terdapat sebuah bungalow. Saat kunjungan saya ke sana tampak wisatawan asing bercengkerama di pelataran bungalow. Ada yang tidur-tiduran. Pula ada yang berbincang-bincang sembari meneguk air kelapa muda. Konsep bangunan bungalow ini berorientasi ramah lingkungan. Dimulai dari pilihan bahan bangunan hingga konsep penataan serta pelatarannya dibiarkan alami. Sentuhan modern tak tampak. Karena bungalow bukan area publik, penulis hanya memandang dari luar pagar bambu.

Untuk mengelola pariwisata tidak cukup mengandalkan pemerintah. Keterbatasan dana kerap menjadi hambatan untuk mengembangkan pariwisata.  Melihat kondisi di sana, pemerintah telah menyiapkan infrastruktur dasar yang sangat baik seperti jalan raya, listrik dan sarana pendukung.

Peran sektor swasta penting. Bahu membahu bersama pemerintah untuk memajukan pariwisata. Peran masyarakat sama pentingnya. Partisipasi aktif masyarakat harus menjadi target point pembangunan pariwisata. Masyarakat harus lebih kreatif untuk memajukan pariwisata di daerahnya. Salah satunya menjaga lingkungan pariwisata tetap bersih, asri dan ramah dengan pengunjung.

Watulajar bukan saja aset pemerintah Kabupaten Ngada. Pula aset masyarakat di area wisata tersebut. Sangat disayangkan jika masyarakat setempat apatis terhadap kondisi yang menjadi aset kebanggaannya.

Menggerakan kesadaran masyarakat dengan membentuk komunitas yang bekerja secara sukarela. Dipimpin oleh orang yang peka dengan isu lingkungan dan pariwisata yang ramah lingkungan. Mereka bertanggung jawab terhadap kebersihan di lokasi wisata Watulajar. Membersihkan pantai secara rutin. Agar tidak jenuh dapat menggandengkan kegiatan lain seperti  literasi. Daripada gedung  di tepi pantai Watulajar terlantar, alangkah bagusnya dijadikan taman baca bagi anak-anak Watulajar. Sulit dibayangkan kelak, Watulajar akan menjelma menjadi kampung wisata dan literasi.

Nah, siapa yang harus memulainya? Siapa saja bisa lakukan setelah mendapat inspirasi dari tulisan ini. Pemerintah, sektor swasta dan perorangan yang minat di dunia pariwisata dan pendidikan.

Tentang Penulis: Giorgio Babo Moggi

Gambar Gravatar
Menulis adalah cara untuk mengekspresikan pendapat atau pikiran tanpa terbelenggu.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *