Melawan Phobia Demi Merengkuh Puncak Kelimutu

oleh
Berpose di Puncak Kelimutu. 1/12/2017 (Foto: Dok. Pribadi)
Menuju Puncak Kelimutu. 1/12/2017 (Foto: Dok. Pribadi)

KOEPANG.COM  – Langit di kota Ende bermuram durja. Berwarna abu-abu. Pertanda hujan akan turun. Tak tebendung. Tapi barisan pe(gunung)an Wongge bersih. Tak ada senoktah kabut pun yang bergelayut di pepohonan yang merias pegunungan itu. Suasana alam yang terkesan tak bersahabat tak menyurutkan niat kami menyisir trans Flores dan menggapai puncak Kelimutu.

Kelimutu “is the magic lake in the world”. Kata Skenet kala sampai di tugu Kelimutu,  “Kelimutu terlalu ‘sadis’ karena warna air bisa berubah-ubah.” Sadis bagi anak-anak NTT jaman NOW tidak mengandung makna sarkastis, kejam, ngeri atau seram. Lebih kepada ekspresi yang melukiskan sesuatu keadaan yang fantastis atau luar biasa.

Inova yang kami tumpangi melintas trans Flores dengan mulus. Terus bergerak ke arah Timur. Perjalanan kami  terhambat di pasar Wolowona. Penjual dan pembeli berjubel di jalan raya. Pemandangan yang mengusik perhatian penulis. Pasar dan ruko sebelah menyebelah dengan jalan utama. Sisi lain yang menodai keasrian kota Pancasila.

Gerimis membayang-bayangi perjalanan kami. Inova terus meliuk-liuk di jalanan nan curam. Kondisi jalan telah banyak berubah. Jalan semakin lebar dan beraspal mulus. Kecuali batu-batu lepas dari longsoran tebing. Sepintas tak ada masalah. Tapi kondisi ini sewaktu-waktu dapat mengancam kenyamanan pelintas trans Flores apalagi menempuh perjalanan malam hari.

Kami berhenti sejenak di pasar tradisional Nduaria. Pasar ini adalah salah satu pasar unik dan ‘melegenda’. Kondisinya awet seperti dulu. Berbagai jenis buah-buahan khas ada di sini. Begitupula sayur-sayuran. Serta umbi-umbian, jagung dan panganan olahan rumah tangga. Maka tempat ini dapat menjadi salah satu “rest area” (tempat istirahat) sambil menikmati sajian menu yang tersedia di lapak-lapak kecil. Anda tinggal memilih sesuai selera dan kantong pribadi. Karena harga makanan dan buah-buahan di sini terbilang cukup tinggi.

Gerimis halus berubah wujud. Menjadi butiran hujan. Kami pun bergegas meninggalkan Nduaria. Berburu dengan waktu  sebelum Kelimutu diselimuti kabut tebal. Gerimis kembali berangsur-angsur berhenti saat kami tiba di gapura Kelimutu.

Ruas jalan yang menhubungkan trans Flores dengan Kelimutu lebar dan ber-hotmix. Perubahan yang drastis. Wisatawan tak perlu ragu berwisata di Taman Nasional Kelimutu. Tidak seperti dulu jalan penuh lumpur dan berbatu.

Berpose di Puncak Kelimutu. 1/12/2017 (Foto: Dok. Pribadi)

Melewati pos penjagaan, kabut pun datang. Gerimis pun susul. Kerisauhan pun menghampiri benak. Apakah gerangan kabut menyelimuti kawah Kelimutu? Sia-siakah perjalanan kami?

Sebelum meninggalkan kota Ende, beberapa orang meningatkan kami bahwa  Kelimutu diselimuti kabut menjelang siang. Pandangan ke kawah danau  kabur. Peringatan mereka tak melorotkan niat kami. Tekad kami bulat. Gapai puncak Kelimutu hari ini. Kami tiba di area parkiran hujan pun redah. Langit di atas kawasan Kelimutu berlahan-lahan cerah. Kami memantapkan langkah  ke tiga kawah magis tersebut.

Tidak banyak pengunjung di area parkir yang duduk, makan atau minum di kedai. Tidak banyak pula kendaraan roda dua dan empat yang parkir.  Kami memang sangat telat. Parang pengunjung sudah pada pulang. Karena memang momentum yang tepat adalah saat pagi-pagi buta menghampiri puncak Kelimutu. Menyongsong matahari pagi (sunrise) yang datang dari dari arah timur. Momentum ini senantiasa diburu dan dinantikan wisatawan asing.

Kami berpapasan dengan wisatawan domestik yang turun dari puncak. Tak ada satu pun wisatawan asing. Saya berjalan mendahului rekan-rekan yang lain. Menghitung anak tangga menunjuk puncak. Terhitung sebanyak 263 anak tangga. Hitungan saya mungkin keliru. Bila Anda berkesempatan ke Kelimutu, silahkan menghitung ulang tangga-tangga yang mengjuntai hingga puncak Kelimutu hehe…

Tekad yang membaja. Akhirnya saya pun gapai puncak puncak seorang diri. Lima orang rekan lain masih berselfie di sisi tebing dengan latar dua kawah yang berdekatan. Ansel dan Skenet pun menyusul ke puncak. Sepuluh menit kami berada di puncak, tiga orang rekan lain, Leo, Nelchy dan Telda, masih berdiri di pertengahan jalan menuju puncak. Mereka melambaikan tangan memberikan isyarat tak mampu naik ke puncak. Menyerah. Jauh di lembah tampak sepasang pasutri asing. Sang pria jalan tertatih-tatih, sementara sang istri langkahnya lincah. Tiba di puncak, nafasnya terengah-engah.

“Cepekh.” Katanya.

Tiga rekan kami, Leo, Telda dan Nelchy belum beranjak dari tempat mereka berdiri. Pria asing itu pun  melewati mereka. Ansel  turun kembali dan ‘memaksa’ mereka untuk naik ke puncak. Pria asing itu tiba di puncak dengan aura bangga. Ia memuji dengan pencapaian saya di puncak Kelimutu. Saya hanya mengatakan bahwa saya telah 3 kali ke tempat ini.

“Umur saya 80 tahun. Di negeri kami, orang harus banyak bergerak. Kalau mereka tidak bergerak, mereka akan sakit.”

“Hebat.”Saya memujinya.

Lima menit bercakap dengan pria bule itu. Nelchy, Leo dan Telda belum beranjak. Bertahan. Ansel pun memaksa mereka dengan menarik tangan mereka. Leo menutup matanya dengan selendang sambil merangkak. Telda berjalan menutup mata sambil memegang pada pagar pembatas. Begitu pula Nelchy.

Berpose di Puncak Kelimutu. 1/12/2017 (Foto: Dok. Pribadi)

Tidak mudah mencapai puncak Kelimutu. Apalagi orang yang phobia ketinggian. Mana berani melewati tangga yang curam dan sisi kirinya terdapat jurang yang dalam. Toh, akhirnya mereka sampai di puncak dengan penuh perjuangan melewan phobia yang menghantui mereka.

Veteran Belanda yang berusia 80 tahun itu berjalan  mengelilingi tugu. Ia melihat ke kiri-kanan. Sepertinya ia sedang mencari sesuatu.

“Mana danau yang berwarna merah?” Tanyanya.

Saya spontan menjawab, “Itu. Danau merah telah berubah warna hitam.”

Saat saya turun dari puncak. Saya membaca  informasi danau Kelimutu pada sebuah batu. Ternyata saya salah menunjuk danau yang ditanyai pria veteran itu. Danau warna merah adalah danau yang telah berganti warna biru langit  hehe….

Sebelum ke Kelimutu, saya sempat mengabarkan kepada Anjelina. Saya dan kawan-kawan akan ke Kelimutu. Saya mungkin tak ikut rombongan karena saya baru saja kembali dari Kelimutu dua bulan yang lalu.

“Situasinya selalu berubah. Tak selalu sama. Datanglah ke Kelimutu, Ka’e.” Dijawabnya.

Anjel benar. Kelimutu mungkin tak banyak berubah. Perubahan warna butuh waktu bertahun-tahun. Tapi yang pasti suasana dan pengalaman selalu berubah setiap detak jantung.

Kami pun menurun tangga seiring dengan datangnya kabut yang akan menyelimuti kawah.

Tentang Penulis: Giorgio Babo Moggi

Gambar Gravatar
Menulis adalah cara untuk mengekspresikan pendapat atau pikiran tanpa terbelenggu.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *