Loza Ke Takpala, Dikira Bule, Anggun Terbalut Busana Tradisional Abui, Alor, NTT

oleh
Ibu-ibu di Kampung Takpala Alor, NTT (Foto: Pinterest.Com)
Ibu-ibu di Kampung Takpala Alor, NTT (Foto: Pinterest.Com)

| KOEPANG.COM | Loza Ke Takpala, Dikira Bule, Anggun Terbalut Busana Tradisional Abui, Alor, NTT. Sejak masih di Kupang, saya merencanakan pulang hari minggu (1/5/16). Tetapi perubahan jadwal pulang mendadak karena teman-teman memilih pulang hari sabtu. Disayangkan memang pulang lebih awal, sejak datang di Alor 2 hari yang lalu (27/4/16) saya belum mengeksplorasi spot-spot pariwisata yang menjadi ikon di Alor. Sehari-hari di Alor saya disibukkan dengan tugas sebagai panitia kegiatan dari kantor.

Saya pun memutuskan untuk pulang hari sabtu (30/4/16), mengikuti jejak teman-teman. Tetapi, ada satu hasrat yang masih terpendam untuk mengunjung spot pesona Alor. Kata suamiku, belum lengkap ke Alor kalau saya belum ke Takpala.

Jadwal penerbanganku jam 1. Ada ruang waktu yang kosong dan dapat diisi dengan mengunjungi Takpala. Saya pun menelepon Dece, sahabat suamiku, yang sebelum mengajak jalan-jalan ke Pulau Kepang. Tapi karena keterbatasan waktu, ajakannya ke Pulau Kepang tidak terlaksana.

Dece mengajakku untuk mengunjungi Takpala. Dece tiba di hotel jam 9 pagi. Saya pun memberitahu niat kedatangan Dece kepada dua sahabatku, ibu Is Nalu dan ibu Bety Yadha dari Dinas Pariwisata Ngada. Dua sahabat ini pun sepakat mengikuti kami. Kata ibu Is, “urusan loza  mai dia (urusan jalan-jalan, jagonya kami, terjemah bebas dari bahasa Bajawa)”.

Ibu Is dan ibu Bety bergegas siapkan diri. Sementara dua sahabat dari SBD hanya menyaksikan kami. Salah seorang pun menanyakan tujuan kami. Tanpa mendengar jawabannya, saya pun mengajak dua sahabat ini, ibu Yubi dan ibu Suryani. Dari antara 2 sahabat ini, ibu Yubi yang bergabung dengan kami. Begitu pun pak Yance, rekan kerja di kantor, satu-satu anggota rombongan pria yang tersisa.

Dece dan saya bergegas mencari ojek untuk 4 orang sahabat. Sebenarnya kami mau gunakan jasa bus dari Dinas Pariwisata, tetapi lihat frame waktu karena bus tersebut harus antar rombongan yang berangkat pagi, maka sangat tidak cukup banyak waktu kami untuk menunggu.

Dece mampir di pasar. Membelikan sirih pinang. Sudah menjadi tradisi atau adat masyarakat setempat, pengunjung harus membawa sirih pinang. Perjalanan pun dilanjutkan.

Tersiar kabar bahwa dua kampung bertetangga dekat Takpala sedang cecok. Semua kendaraan beroda empat yang menuju Takpala dihalang. Mereka menaruh batu dan kayu untuk menutup akses jalan. Karenannya, Dece memberitahukan kami menggunakan jasa ojek daripada angkutan atau mobil. Kabar itu benar. Setiba di kampung itu, kami menjumpai lelaki tua bersorban dan sebilah kelewang di tangannya. Modal senyum, kami mohon ijin kepada pria itu. Ia hanya tersenyum dan menganggukkan kepala.

Takpala, salah satu kampung adat di Alor. Letaknya di lereng bukit. Memiliki view yang memanjakan mata. Dengan mudah kita melihat pesawat yang masuk dan keluar di Bandara Mali. Hamparan laut biru terbentang luas. Bentangan pasir putih tampak menbatasi laut dan darat.

Menggapai di tangga Takpala, hasrat terpuaskan, apalagi sambutan hangat dari ibu-ibu dan anak-anak Takpala. Ramah dan bersahabat. Yang mengejutkan lagi mereka bisa berbicara bahasa Inggris. Sekedar untuk menyapa atau menjajakan barang dagangannya. Ketika saya mendekati lapak dagangan, ibu-ibu menawarkan dengan harga yang mencengangkan karena dikira bule. Setelah saya bercakap dan menawarkan barang dagangan dalam bahasa Indonesia, harga pun berlahan-lahan turun.

Barang-barang jualan adalah khas Alor. Buatan tangan-tangan terampil. Ada kalung dari buah kenari, gelang dan cincin akar bahar, kain tenun dan masih banyak lagi. Selain menjajakan barang, ibu-ibu Takpala menyewakan busana adat pria dan wanita. Harga sewa berkisar 30 ribu rupiah. Setelah berbelanja, saya dan kawan-kawan mengenakan baju adat Abui, Alor. Dalam waktu sepuluh menit, kami berenam, saya, Dece, ibu Is, ibu Bety, Yubi, dan pak Yance, dalam balutan busana Alor.

Eksotik dan anggun adalah dua kata yang tepat untuk melukiskan diri kami dalam balutan busana Abui. Betapa bahagianya kami di Takpala. Menikmati suasana kampung yang merepresentasikan Alor. Berada di ketinggian sehingga menikmati view laut dan pantai yang menakjubkan.

Alor memang sangat kaya dengan budaya dan tradisi. Suku dan bahasa pun di Alor pun bermacam-macam. Bahasa Indonesia menjadi simbol pemersatu. Tidak heran ibu-ibu di Takpala menyambut dan berbicara dengan kami dengan bahasa Indonesia.

Takpala memang salah satu sisi dari Alor. Masih banyak pesona kampung adat yang mewarisi kebiasaan atau tradisi leluhur. Tetapi, ketika saya berada di tengah halaman kampung, bercanda dengan ibu-ibu dan mengenakan busana adat terasa saya melampui seluruh pelosok Alor. Jangan pernah mengakui pernah ke Alor kalau anda belum ke Takpala. ***(Dikisahkan Allena kepada Koepang.Com)

Tentang Penulis: Giorgio Babo Moggi

Gambar Gravatar
Menulis adalah cara untuk mengekspresikan pendapat atau pikiran tanpa terbelenggu.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *