Logu Senhor, Mencari Tanah Moret (Tanah Kehidupan) Pada Salib Senhor

oleh
Ritual Logu Senhor di Sikka (Foto: Facebook.com/OozGobang)

| KOEPANG.COM | Logu Senhor, Mencari Tanah Moret (Tanah Kehidupan) Pada Salib Senhor. Jumat Agung, satu dari Tri Hari Suci bagi umat katolik, merupakan moment penting dalam ziarah iman. Di hari nan agung ini, umat katolik mengenang kembali kisah sengsara dan wafat Sang Juru Selamat, Yesus Kristus. Berbagai devosi pun berkembang seturut ziarah iman. Keanekaragaman masing-masing umat melahirkan pula keanekaragaman devosi. Seperti sebuah devosi yang hidup dan berkembang di desa Sikka sebuah desa pesisir yang terletak di daerah selatan Kabupaten Sikka.Di sini devosi Logu Senhor lahir dan dipertahankan hingga kini. Seperti apa, devosi Logu Senhor? Ayo simak terus Jumat Agung di Sikka berikut ini.

Jumat Agung 26 Maret 2016 atau Sesta Fera yang dalam bahasa Portugis berarti hari keenam dalam minggu, umat katolik datang dan berkumpul dengan mengenakan busana berwarna hitam dan gelap.

Cuaca yang sedikit panas, tidak menyurutkan langkah para peziarah ini. Bukan hanya masyarakat dari desa Sikka, namun juga berasal dari berbagai daerah bahkan dari mancanegara dengan membawa intensi khusus untuk mengikuti prosesi Logu Senhor atau merunduk di bawah Salib Tuhan yang diadakan di Gereja St. Ignasius Loyola Sikka, Keuskupan Maumere.

Salib Tuhan yang disimpan dalam sebuah peti akan ditandu oleh 4 orang pria yang berasal dari keturunan keluarga Dara Bogar yaitu Thomas Edison Selong Karwayu,Vinsensius Quirinus Karwayu, Kanisius Luis Karwayu, dan Constantinus Wihelmus Karwayu. Para pengusung ini mengenakan Lipa Lesu yakni kemeja hitam dengan kain sarung berwarna gelap dan destar sebagai pengikat kepala.

Selain keempat pria Dara Bogar yang bertugas secara turun temurun untuk mengusung atau disebut dengan Witi Senhor, ada 10 orang wanita yang juga menggunakan pakaian serba hitam yang menambah kesan kedukaan dan peratapan. Kesepuluh orang wanita ini yang akan selalu ada di samping peti Senhor ketika ditahtakan di altar gereja ataupun di setiap irmida (perhentian).

Peziarah yang hendak mengikuti Devosi ini sebaiknya datang sebelum pukul 15.00. peserta diharapkan mendaftarkan diri terlebih dahulu di meja panitia.

“Peserta dari tahun ke tahun selalu meningkat. Tahun 2015 sebanyak empat ratus lebih peserta yang mengikuti Logu Senhor”, ungkap Pak Gregorius Tamela.

Biaya pendaftaran adalah Rp 10.000,00. Peserta juga diharapkan membawa lilin sendiri. Jika tidak, gereja menyiapkan lilin dengan harga Rp 30.000,00.

Awal Mula Logu Senhor

 “Pada abad ke-17 timbul keresahan hati seorang tokoh pemimpin Moang Alesu akan peristiwa kematian yang melanda keluarga dan masyarakatnya membuat beliau memutuskan untuk pergi mencari tempat yang tidak ada penderitaan. Ia memutuskan untuk pergi mengembara ke Waidoko, Maumere. Dahulu di Waidoko ini menjadi tempat berlabuhnya kapal-kapal dari Portuguese. Ia mendekati kapal-kapal tersebut, berbincang dengan Anak Buah Kapal (ABK), dan bertanya apa mungkin di tempat-tempat orang Portuguese ini tidak ada penderitaan dan kematian? ABK tidak memberikan jawaban yang pasti namun mengajak Moang Lesu untuk  boleh mengikuti mereka berlayar ke tanah Malaka. Tanpa banyak pikir, Moang Lesupun menyetujui untuk turut berlayar ke tanah Malaka. Sesampainya di sana, ia bertemu dengan gubernur dan menanyakan hal yang sama. Jawaban gubernur adalah tidak ada tempat di dunia ini yang tidak ada kematian, namun ada kehidupan setelah kematian. Jika kamu mau memiliki kehidupan setelah kematian kamu harus menerima salib dan belajar iman Katolik”, tutur Pak Gregorius Tamela kepada Koepang.Com dengan penuh semangat.

Pak Gregorius Tamela atau yang sering disapa Pak Goris Tamela merupakan Panitia Logu Senhor.

Pak Goris Tamela melanjutkan ceritanya bahwa Moang Lesu mulai belajar agama Katolik, dibaptis dan diberi nama Don Thomas Alexius (Alesu) Ximenes da Silva pada tahun 1607. Karena Moang Alesu merupakan salah satu tokoh pemimpin di Sikka maka Gubernur Malaka memberikan dia gelar Raja Don Thomas Alexius (Alesu) Ximenes da Silva.

Setelah merasa cukup dengan semua bimbingan rohani dan iman Katolik, ia mohon pamit kembali ke tempatnya yaitu desa Sikka. Bersama dengan seorang guru agama yang juga misionaris yang bernama Agustino Rosario da Gama, Raja Don Thomas Alexius Ximenes da Silva kembali ke tanahnya di desa Sikka.

Mereka dihadiahi oleh Gubernur Malaka sebuah Salib Senhor (Senhor = Tuhan) dengan corpus berukuran sekitar 75cm dan sebuah patung kanak-kanak Yesus yang disebut Menino. Patung Menino sekarang ditempatkan di rumah Bapak Andreas Hugo Pareira, yang adalah seorang guru BP di SMA Negeri 1 Maumere. Patung Menino hanya dikeluarkan saat Logu Senhor saja.

Sebagai raja, Raja Don Thomas Alexius Ximenes da Silva dibantu oleh guru agama Agustino Rosario da Gama mulai memberitakan Injil dan iman Katolik kepada masyarakat Sikka. Selain mereka berdua, juga hadir imam-imam Dominican yang selalu ada di setiap kapal-kapal Portugis, yang turut membantu memberitakan Injil. Berkat upaya mereka, masyarakat Sikka dibaptis Katolik di sebuah sumur yang berada di sebelah barat, tidak jauh dari Gereja St. Ignasius Loyola.

Iman Katolik tumbuh subur di tanah ini, dan satu devosi yang terus terjaga sampai sekarang adalah Logu Senhor (Logu dalam bahasa Sikka berarti merunduk, dan Senhor dari bahasa Portuguese yang berarti Tuhan). Namun, Raja Andreas Jati da Silva (raja ke-12 Sikka) beserta dengan imam yang melayani pernah memberhentikan tradisi ini karena masyarakat yang masih tidak mau bermati raga, seperti mabuk-mabukan dan judi, yang merusak kesakralan dan kedukaan dari Logu Senhor. Pada tahun 1893-1917, Pater Y. Engberst berhasil menghapus kebiasaan yang merusak kesakralan Devosi Jumat Agung ini, dan Logu Senhor kembali dilangsungkan setiap Jumat Agung.

Mengenang Sengsara Yesus Dengan Merunduk Di Bawah Salib Senhor

Tepat jam 15.00 WITA dilangsungkan Ibadah Jumat Agung di gereja ini. Uniknya pada saat pembacaan Kisah Sengsara Tuhan Yesus, dibacakan dalam Bahasa daerah Sikka. Saat akan memasuki liturgi penciuman Salib, imam beserta petugas berarak ke Kapela Senhor yang berada di samping kiri gereja. Peti Senhor diusung oleh 4 pria dari Dara Bogar keluar dari Kapela Senhor, diikuti oleh 10 wanita yang berkabung, berarak masuk melalui pintu utama dan imam akan mengangkat Salib Senhor sambil bernyanyi “Lihatlah kayu salib tempat selamat dunia bergantung”.

Pengangkatan Salib ini berlangsung sebanyak 3 kali yaitu di depan pintu masuk, di tengah dan di altar. Sesampainya di panti imam, salib Senhor dipersilahkan untuk dicium dan dihormati oleh umat. Kesepuluh wanita yang berkabung duduk di sisi kiri dan kanan peti Senhor depan altar. Setelah selesai penciuman dan penghormatan salib, dilanjutkan dengan liturgi komuni.

Umat diberi jedah waktu 15 menit seusai Ibadah Jumat Agung. Tepat jam 19.00 WITA, devosi Logu Senhor dimulai. Devosi Logu Senhor dibuka dalam bahasa Latin. Kali ini Logu (merunduk) akan diadakan selama 7 kali. Awal di dalam gereja, lima kali di setiap irmida (perhentian), dan satu kali saat kembali ke gereja sebelum dikembalikan ke Kapela Senhor.

Saat logu, umat dipersilahkan menyentuh peti Senhor dan mengucapkan intensi khusus. Kemudian merunduk dan melewati usungan Senhor sambil membawa lilin yang menyala di tangan. Dengan merunduk, diharapkan umat mampu menyatu dengan kedukaan dan wafat Yesus. Dengan merunduk menunjukan bahwa kita sadar akan alasan Ia yang adalah Putera Allah mau wafat di kayu salib.

Tahun ini, panitia menyiapkan 5 irmida. Irmida pertama Yesus berdoa di taman Getzemani, irmida kedua Yesus dijatuhi hukuman mati, irmida ketiga Veronika mengusap wajah Yesus, irmida keempat Yesus jatuh untuk pertama kalinya, dan irmida terakhir Yesus wafat di kayu salib. Dari irmida satu ke irmida kedua, kita akan melihat patung Menino yang di tempatkan di depan rumah Pak Hugo Pareira. Setiap irmida akan ada adegan jalan salib Tuhan Yesus.

Saat keluar dari gereja, keempat pria Dara Bogar akan menyerahkan peti Senhor kepada petugas di irmida pertama (yang memakai pakaian serba ungu dengan topi yang berbentuk kerucut). Keempat pengusung pengganti ini adalah petugas yang diambil dari wilayah yang sudah ditugaskan. Setiap irmida akan ada pengusung pengganti, hingga nanti saat kembali ke gereja akan dikembalikan lagi ke keempat pria Dara Bogar.

Jadi keempat pria Dara Bogar bertugas saat mengeluarkan peti Senhor dari Kapela Senhor menuju ke panti imam, Logu Senhor yang pertama kali di dalam gereja, menerima kembali peti Senhor ke dalam gereja, Logu Senhor terakhir setelah berkat penutup, dan mengembalikan peti Senhor ke Kapela Senhor. Urutan perarakan Logu Senhor adalah petugas pembawa lilin, umat, kesepuluh wanita yang berkabung, misdinar, Peti Senhor beserta Witi Senhor, imam dan petugas.

Di sepanjang jalan yang dilewati prosesi ini dihiasi dengan lilin yang dipasang pada masing-masing rumah. Selain lilin, ada juga gambar-gambar kudus dan patung. Anak-anak SD memainkan perannya dalam “tablo bisu” yakni peragaan diam dari beberapa perhentian jalan salib Yesus, misalnya Yesus berjumpa dengan Ibu-Nya. Akan ada tablo atau drama di setiap irmida. Setelah tablo akan diberikan renungan oleh Romo, lalu mengangkat Salib Senhor dan memberkati umat. Kemudian membaringkan kembali Salib Senhor ke dalam peti dan umat dipersilahkan untuk Logu Senhor.

Pada setiap irmida dinyanyikan Ovos Omnes. Petugas membawa gambar wajah Yesus yang menderita yang ditutup tirai putih. Ketika dinyanyikan Ovos Omnes, petugas dengan perlahan-lahan membuka tirai yang menutup bingkai gambar. Di sebelah kiri dan kanan petugas ada 2 orang yang bertugas membawa obor. Untaian doa selalu didaraskan di sepanjang prosesi Logu Senhor. Penulis sempat merinding saat berada di irmida terakhir dengan adegan penyaliban dan wafat Yesus. Di situ terdengar sangat menusuk nyanyian hati nyanyian Ovos Omnes tersebut.

Logu Senhor tahun ini diikuti oleh lebih dari enam ratus peserta yang tidak hanya berasal dari desa Sikka, tetapi juga berasal dari luar pulau Flores dan dari luar Indonesia. Semoga Logu Senhor tetap ada di setiap prosesi Jumat Agung sebagai wujud nyata pewarisan tradisi agama dan budaya. Jika kita tidak merunduk di bawah salib Tuhan, haruskah Tuhan yang merunduk untuk dicambuk berkali-kali?

“Sebab oleh Kematian-Nya, Ia memusnahkan dia yaitu iblis, yang berkuasa atas maut – Ibrani 2 : 14” Selamat Pesta Paskah, Tuhan Yesus memberkati. *** (Karmadina OG)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *