In Memoriam, Kraeng Tua Gaspar Parang Ehok: Sang Elaborator Peran Pemerintah dan Gereja yang Ulung

oleh
Gaspar Parang Ehok (Foto: Flores.co)
Gaspar Parang Ehok (Foto: Flores.co)

| KOEPANG-COM | In Memoriam, Kraeng Tua Gaspar Parang Ehok: Sang Elaborator Peran Pemerintah dan Gereja yang Ulung. Popularitas seorang Gaspar Parang Ehok sangat kental di tanah kelahirannya, bumi Kuni Agu Galo. Tidak saja menjadi tokoh yang populer, ia bupati yang populis.

Populer dan populis, dua hal yang berbeda. Seorang yang populer belum tentu ia seorang yang populis. Seorang yang populis sudah pasti ia seorang yang populer.

Seseorang bisa saja menjadi populer karena dua alasan. Pertama karena perbuatan atau tindakan yang positif. Kedua sebaliknya, ia menjadi populer karena sikap atau perbuatan yang negatif.

Gaspar P. Ehok seorang yang populis. Ukurannya, keberhasilannya membangun Manggarai di era kepemimpinannya. Ia layak dan pantas menokohkan dirinya sebagai seorang yang populis. Sosok yang merakyat.

Tolak ukur populis bukan semata-mata sehari-sehari dekat dengan rakyat. Hidup dan makan dengan rakyat. Populis dapat diartikan sikap peduli dan perhatian kepada kebutuhan rakyat. Secara fisik ia mungkin jauh dari rakyat – tidak hidup dan melebur dengan rakyat. Tapi, gagasan dan program pembangunannya sangat menyentuh kebutuhan dasar rakyat.

Seorang politisi muda PAN Pusat, Elias Sumardi Dabur, kakak kelas saya di St. Klaus, melukiskan Gaspar Ehok sebagai sosok pemimpin yang legandaris.

“Gaspar Ehok termasuk bupati Manggarai legendaris. Pada masa beliaulah, isolasi wilayah mulai diretas, ia sangat memperhatikan keseimbangan dalam membangun wilayah Manggarai yang sangat luas,”ujar Elias Sumardi Dabur, seperti dikutip di media online Flores.Co.

Apa yang diujar Elias masuk akal. Penggunaan kata legandaris sangat dilayak disematkan padanya. Ia memang pemimpin yang legandaris. Menjadi legandaris karena jiwa dan karakter kepemimpinannya yang populis.

Banyak pemimpin yang mengaku populis karena sering bersama rakyat. Modal ramah dan tegur sapa dengan rakyat, tetapi ia tidak berbuat apa-apa. Seorang yang populis tidak hanya merasa tetapi juga harus berbuat.

Secara personal, penulis tidak mengenal dekat. Bersalaman tangan pun saya tidak pernah. Kiprahnya saya sering ikuti selama ia menjadi Bupati Manggarai. Pada masa itu, saya masih berseragam biru putih dan abu-abu putih di sebuah lembaga binaan misionaris Swiss, P. Ernest Wasser SVD.

Melalui imam inilah saya mengenal perjalanannya kepemimpinannya. Tidak berarti pula saya bertanya kepada Pater Wasser. Saya mengamati dan merasakan hubungan kerja sama dua orang figur ini.

Dalam kaca mata penulis. Gaspar Ehok dan Ernest Wasser, kedua tokoh yang saling melengkapi. Pada periode kepemimpinannya, gereja berperan secara aktif pembangunan fisik di Manggarai. Pada masa itu, gereja (Wasser) keluar dari patron urusan moralitas, spiritualitas dan religiositas. Menjelma menjadi agen dan penggerak pembangunan di Manggarai Raya. Kehadiran gereja itu melalui Ernest Wasser, imam SVD asal Swiss yang lebih mencintai Manggarai daripada negerinya.

Parang Ehok dan Wasser ibarat dua sisi mata uang pada jaman itu. Ehok di satu sisi, Wasser di sisi yang lain. Tak terpisahkan. Ketidakterpisahan keduanya dapat dilihat harmonisasi hubungan kerjasama antara Parang Ehok dan Wasser dalam membangun Manggarai.

Wasser, sebagai representasi gereja (institusi) bergerak dalam pembangunan infrastruktur jalan raya, air minum, dan gedung sekolah. Wasser praktis tidak membangun gereja (gedung). Gereja di paroki dimana menjadi pastor paroki tidak semegah katedral atau gereja paroki lain jaman itu. Secara kemampuan finansial, ia mampu melakukannya. Tapi ia tidak lakukannya.

Kolaborasi Parang Ehok dan Ernest Wasser berhasil meretas isolasi di Manggarai. Memuaskan dahaga rakyat yang merindukan ari bersih. Jalan raya yang dibangun Pater Wasser sangat berkualitas. Tersusun dari batu-batu yang tertatah rapih sehingga meletakan dasar yang kokoh untuk jalan dan jembatan.

Kecerdasan kepemimpinan Parang Ehok sangat berperan di sini. Ia mampu memadukan kerja sama pemerintah dan gereja untuk membangun Manggarai. Di siniliah kehebatannya, ia tidak memandang komponen lain sebagai musuh pemerintah. Ia merangkulnya dan memberikan peran yang yang besar.

Sayangnya, keberhasilannya tidak terwarisi kepada regim sesudahnya. Gereja dan pemerintah kerap berjalan tidak harmonis. Peristiwa yang paling kelabu adalah tragedi Colol Berdarah. Potret keberpihakan pemerintah dan gereja tidak sejalan dan berakhir di ujung senapan. Rakyat jelata menjadi korban.

Gaspar Parang Ehok telah menorehkan tinta emas bagi bumi pertiwinya, Manggarai. Rahim yang melahirkannya. Darimana ia berasal. Bagi yang hidup pada jamannya tak diragukan lagi untuk menjulukinya sebagai sang legenda, figur populis, dan sebagainya.

Seperti kata pepatah tua, harimau mati meninggalkan belang, gajah mati meninggalkan gading, manusia mati meninggalkan namanya. Demikian pun Gaspar Parang Ehok. Amal perbuatannya semasa hidup, terutama menjadi Bupati Manggarai (1988 – 1999), meninggalkan jejak bersejarah dalam rentang perjalanan Manggarai. 1001 kisah terangkai tentangnya akan menjadi catatan hidup bagi generasi muda Manggarai pada khususnya dan NTT pada umumnya. Catatan itu akan dibaca dan dikenang dari generasi ke generasi.

Setidak-tidaknya, dalam sudut pandang penulis, yang masih ingusan kala ia menjadi bupati, Gaspar Parang Ehok adalah seorang elaborator yang hebat. Mengelobaorasi kerja sama peran gereja setempat dan pemerintah.

Gereja (diwakili P. Ernest Wasser) berperan sangat besar pembangunan di Manggarai pada era kepemimpinannya. Ehok tidak hanya mendengar suara ‘kenabian’ dari mimbar gereja, sekaligus memberi ruang bagi gereja untuk berpartisipasi secara aktif dalam pembangunan. Tak pelak harmonisasi pemerintah-gereja tercipta.

Mampukah nilai-nilai itu dipertahankan dan ditingkatkan di Manggarai Raya? Mari kita menjawab di dalam hati masing-masing. Requiem in Pace, Kraeng Tua Gaspar Parang Ehok.***(Giorgio Babo Moggi)

Tentang Penulis: Giorgio Babo Moggi

Gambar Gravatar
Menulis adalah cara untuk mengekspresikan pendapat atau pikiran tanpa terbelenggu.

One thought on “In Memoriam, Kraeng Tua Gaspar Parang Ehok: Sang Elaborator Peran Pemerintah dan Gereja yang Ulung

  1. Beliau adalah Bapak pembangunan untuk manggarai seluruhnya. sisa-sisa aspal jalan yang di bangun pada saat beliau memimpin masih ada di beberapa wilayah Manggarai Barat. saking kuat dan berkualitasnya infrastruktur yang dibangun beliau, apalagi jembatan.
    jika gambarkan dan dibandingkan dg infrastruktur yg dibangun oleh bupati setelah Beliau sangatlah berbeda jauh. Gaspar sudah tutup usia tetapi karyanya masih ada sedangkan bupati setelahnya (Anton Bagul. Fidelis P, Gusti Dula) masa jabatannya belum selesai tetapi jalan yg dibagun pada saat menjadi bupati sudah rusak bahkan rusak berat. Gaspar Ehok membangun lintas generasi.
    Pemikir yg brilian. Saya pernah mendengar sambutan beliau ketika masih menjadi Bupati manggarai ketika membuka kegiatan lomba bidang P4 tahun 1995 ketika sy masih kelas 5 SD. Beliau pantas dijadikan panutan karena kedisiplinan, kecerdasan, bebas KKN, dan pekerja keras serta tulus dalam memimpin.
    Semoga Beliau diterima di SISI KANAN BAPA DI SURGA. RIP

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *