Kolbano, Pantai Yang Cool Di Selatan Pulau Timor

oleh
Pantai Kolbano (Foto: Tts.Go.Id)
Pantai Kolbano (Foto: Tts.Go.Id)
Pantai Kolbano (Foto: Tts.Go.Id)

| KOEPANG.COM |  Kolbano, Pantai Yang Cool Di Selatan Pulau Timor. Tidak habis-habisnya pesona Nusa Tenggara Timur meracuni pelancong-pelancong akan keindahan alamnya. Mulai dari Pulau Flores, Pulau Alor, Pulau Rote, Pulau Sumba dan Pulau Timor tentunya. Kali ini, saya akan mengumbar keeksotikan pantai Kolbano, pantai di selatan pulau Timor, Kabupaten Timor Tengah Selatan (Soe).

Perjalanan saya ke Kolbano bersama kaka saya Astina Juliana yang juga seorang penyiar Radio 104.9FM Suara Sikka, Maumere. Dengan menggunakan matic, saya dan kaka berangkat dari Oesapa, Kupang pukul 11.00 WITA. Yang ada di pikiran kami cuma satu, pantai Kolbano itu dekat dengan Kupang. Tapi beberapa warga yang kami tanyai mengenai lokasi pantai Kolbano menatap nyinyir seakan ingin berucap, “Nona, udah pendek ga usah ke sana. Kolbano itu jauh dan jalanannya pun sangat berbahaya”.

Bagaimana tidak, ternyata dengan kecepatan ±80 km/jam kami menempuh perjalanan selama 3,5 jam dengan jarak 140 km dari Kupang. Bisa kebayangkan 3,5 jam dengan medan yang wow? Tanjakan, turunan, jalanan yang berkelok-kelok dengan tikungan yang tajam dan licin karena hujan.

Dari Oesapa, kami terus menuju ke daerah Lasiana, melenggang ke Noelbaki, dan Batu Putih. Nah ini dia jalanan di Batu Putih itu. Ada yang tahu mengapa disebut Batu Putih? Simak gambarnya dan jawablah pertanyaan itu. Yes, tepat sekali. Begitu banyak batu karang yang berwarna putih, terlihat bukan warnanya?

Terus melaju ke jembatan Noelmina. Melewati jembatan Noelmina ada tugu selamat datang di Kabupaten Timor Tengah Selatan. Belok ke kanan di pertigaan ini, dan akan ditempuh 6 km untuk mencapai Pantai Kolbano. Selama melewati jalanan ke Pantai Kolbano, kami melewati daerah Ratabene, Bena. Pemandangan yang tidak terkira disuguhkan bagi kami yang sudah mulai lelah dalam perjalanan. Lihat saja iringan awan-awan tersebut, seakan berucap lembut “Selamat datang gadis petualang”. Hamparan sawah yang hijau mulai menyegarkan mata, mulai memberi energi positif untuk terus melanjutkan perjalan ke Kolbano tentunya.

Saya sarankan, ketika melewati jalanan khususnya dari pertigaan Noelmina menuju Kolbano agar menurunkan kecepatan dan berhati-hatilah selalu. Mengapa? Waspada, ada yang menyeberang, bukan manusia tetapi ternak. Sebut saja anjing, babi, kambing dan sapi dibiarkan begitu saja di jalanan. Ga maukan dituntut bayar ternak karena nabrak? Hahaha, kalau saya pikir-pikir dulu. Lumayan lho bayarannya, apalagi kalau nabrak ternak gede.

Setelah memasuki Desa Kolbano, kami terus bertanya di mana Pantai Kolbano. Kata penduduk setempat, kalau sudah ketemu batu besar di pinggir pantai dan ada jembatannya, di situlah Pantai Kolbano.

Tepat pukul 14.45 Wita kami tiba. Ketika sampai di pantai ini, ucapan pertama yang selalu sama saya ucapkan ketika sampai di suatu tempat yang inah adalah “Wow.. Luar biasa Kau Tuhan. Terimakasih Tuhan”.

Sebelum masuk, kami membayar tiket masuk sebesar Rp 10.000,-. Di pantai ini, kami disambut anak-anak yang menawarkan jasanya sebagai guide. Fendy, Meki dan Gerson langsung bergabung dengan kami walaupun sebenarnya kami menolak untuk menggunakan jasa anak di bawah umur. Apa mau dikata mereka terus mengikuti kemanapun kami pergi. Karena kecapekan dan sedikit mabuk, kaka saya memutuskan untuk beristirahat dan saya yang mulai aktif menikmati apa yang sudah saya capai selama 4,5 jam ini.

Mereka mengajak saya ke sebuah batu besar yang berada di sisi kanan pantai Kolbano. Nama batu itu adalaah Fatu Un (Fatu = batu, Un = Pohon). Apa bentuknya seperti pohon?

Namun, saat saya memotret batu ini dari tepian pantai, terlihat seperti manusia pada bagian bawahnya dan di atas terlihat seperti kepala singa. Ketiga anak inipun menyetujui apa yang saya ucapkan. Dengan dialeg setempat mereka mengatakan “ Iya kaka, betul sekali. Yang di bawah itu orang pu muka, kalo yang di atas macam singa to kaka?”. Agar semakin akrab saya pun memberikan jempol kepada mereka sambil mengangguk-anggukkan kepala.

Mereka mengajak saya untuk m enaiki Fatu Un tersebut. Namun, saya putuskan untuk tidak naik terlebih dahulu. Ada yang lebih menarik dari itu, pantainya. Yah benar pantainya. Tidak seperti pantai pada umumnya yang didandani oleh hamparan pasir berwarna putih atau hitam atau campuran keduanya, pantai Kolbano dihiasi oleh jutaan batu-batu kecil yang sangat seksi, berwarna-warni. Ah, cantik sekali dirimu pantai Kolbano.

Merekapun mengambil beberapa batu dan menunjukan kepada saya. Ada beberapa nama yang mereka sebutkan untuk beberapa jenis batu tersebut. Yang saya ingat hanya batu sisik penyu. Mereka menawarkan kepada saya untuk membawa beberapa batu untuk dijadikan hiasan di rumah. Namun saya menolak, dan memberi pesan kepada mereka “Batu ini akan cantik ada di tempatnya, di sini di pantai ini. Tugas kalian adalah menjaganya. Coba ade-ade bayangkan setiap pengunjung saat pulang mengambil minimal 5 batu, kira-kira batunya akan habis tidak?”.

Mereka sempat diam. Lalu saya lanjutkan “Awasi batu-batu ini, jangan sampai ada yang ngambil ya. Ini kekayaan kalian. Ok?”

Fendy menjawab “Ok, kaka. Kami jaga”. Pantai Kolbano terhubung langsung dengan Samudera Indonesia. Pantulan-pantulan dari warna bebatuan putih dan pasir pusir di dasar laut menyebabkan air laut pantai ini berwarna biru creamy muda.

Selain eksotik dan unik, pantai inipun dikenal sebagai penghasil ikan di Soe walaupun nelayan sekitar masih memakai cara tradisional seperti memancing. Jangan sampai ada yang memakai bom dan racun ya Pak, merusak ekosistem laut. Kelimpahan akan hasil laut ini tidak terlepas dari Mite  atau mitos yang dianggap suci oleh warga sekitar.

Menurut mitos yang diceritakan oleh Fendy bahwa dahulu kala ada seorang anak gadis yang bernama Bi’Kabin yang menikah dengan seorang Raja Laut (Na’ Besimnasi atau disebut buaya.) Bi’Kabin bersama keluarga dan warga sering melakukan ritual untuk tetap menjaga hubungan kekeluargaan dengan Na’Besimnasi. Sebagai tanda terimakasih, Na’Besimnasi memberikan kelimpahan hasil laut kepada Bi’Kabin sekeluarga dan warga sekitar. Well, apapun itu kita hormati sebagai mitos setempat. Namun, lagi dan lagi saya hanya mau mengucapkan syukur kepada Tuhan untuk anugerah karya cipta yang luar biasa atas tempat ini.

Setelah bercerita mengenai mitos ini, saya memutuskan untuk memanjat Fatu Un yaitu batu raksasa tersebut. Batunya cukup rapuh, so hati-hati ya. Dari atas batu ini, saya bisa melihat jalanan di ujung bukit. Menurut ketiga guide cilik bahwa itu adalah jalanan menuju ke Belu dan Malaka. Wow, dekat juga ya. Ketiga anak ini menawarkan untuk memotret saya, tentunya dengan kamera yang saya miliki. Ok baiklah guide cilikku, saya mengiyakan. Inilah hasil jepretan mereka saat saya sedang di atas Fatu Un.

Setelah puas menikmati pemadangan dari atas Fatu Un, kami kembali turun dan bergabung dengan bocah-bocah cilik yang asyik berenang di laut yang begitu bening. Kebersamaan kami semakin akrab ketika saya mencoba menyanyikan lagu dari Merari dengan judul Uis Tutani Maun, yang dinyanyikan dalam bahasa Dawan.

Lagu tersebut saya dapat dari Ka Jack Koa yang tinggal di Timor Leste. Mereka kaget ketika saya menyanyikan lagu itu. Fendy yang sepertinya paling pandai berbahasa Indonesia bertanya mengapa saya bisa tahu lagu tersebut? Ada dech, mau tau aja Fendy. Oya, sekedar info warga di sekitaran Kolbano memakai bahasa Dawan dalam keseharianya. Saya sempat mengabadikan beberapa moment bersama mereka. Beberapa jepretan sedang hand stand…sssttt kebetulan saya anak capoeira juga (dulunya ya, sekarang udah ga, keberatan badan,hahaha).

Tidak disangka saking asyiknya bermain di tempat yang cool dan indah ini sampai lupa kalau sekarang sudah pukul 17.00 Wita. Itu artinya saya dan kakak harus kembali ke Kupang.

Sebelum meninggalkan Pantai Kolbano saya sempatkan diri untuk menikmati kesegaran air lautnya bersama anak-anak ini. Suegere buger airnya. Sekitar 15 menit berenang gaya kupu-kupu dan gaya dada, kakak menyuruh saya untuk berhenti. Resiko jalan bersama security yah seperti itu, haha.

Well, sayapun berhenti berenang. Berhubung tidak ada kamar ganti di sini, jadi saya pulang ke Kupang dengan pakaian yang basah kuyub. Ah ada kelapa muda neh, boleh dicoba. Harga kelapa perbuah Rp 5.000,00. Oya untuk biaya guide cilik sebesar Rp 10.000,00. Berhubung mereka banyak, jadi putuskan untuk memberikan Rp 50.000,- ke ketiga guide cilik saya.

Hebatnya lagi, anak-anak ini saat pantai sudah sepi pengunjung dan sebelum mereka kembali ke rumah, mereka membereskan sampah-sampah yang sengaja dibuang oleh wisatawan dan membuangnya ke tempat sampah. Salut de, peduli sampah. Tepat pukul 17.30 saya dan kaka pamit pulang ke Kupang. Tentunya bathin dan fisik sudah siap menempuh perjalanan selama 3,5 jam ini.

Pantai Kolbano indah nian dirimu. Biarkan kau ada dan tumbuh sebagaimana dirimu diciptakan. Tetap ditemani jutaan batu-batu kecil mungil yang centil dengan colourfull yang begitu cool. Suatu saat aku akan kembali kepadamu untuk berbisik bahwa kau diciptakan cool dan unik oleh Sang Pencipta.

Besong masih son mau datang pasiar di pantai Kolbano ko kaka ade samua?***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *