Kesakralan Sanctuarium Wisung Fatima Lela, Sikka, Flores, NTT

oleh
Gua Maria Fatima Lela (Foto: Google.Com)
Gua Maria Fatima Lela (Foto: Google.Com)
Gua Maria Fatima Lela (Foto: Google.Com)

| KOEPANG.COM | Kesakralan Sanctuarium Wisung Fatima Lela, Sikka, Flores, NTT.  Flores dengan mayoritas penduduknya beragama Katolik mempunyai beragam devosi penghormatan kepada Bunda Maria. Maria, mendapat porsi istimewa dalam gereja Katolik. Untuk menghormati Maria Bunda Yesus, gereja Katolik mempersembahkan bulan Mei dan bulan Oktober sebagai bulan khusus untuk devosi lebih dekat kepada Bunda Maria. Pesan Bunda Maria di Fatima, Portugal untuk selalu mengenangnya dalam untaian doa Rosario selalu diingat dalam hati umat Katolik di seluruh dunia, dan di Lela khususnya.

Salah satu tempat di Flores yang mengkhususkan dirinya sebagai tempat istimewa bagi Maria adalah desa Lela, sebelah selatan Kabupaten Sikka, Maumere. Kurang lebih 24 km dari kota Maumere, dan bisa ditempuh dengan sepeda motor dalam waktu 35 menit.

Kerinduan saya akan devosi kepada Bunda Maria menuntun saya untuk mengunjungi tempat ziarah yang bernama Sanctuarium Wisung Fatima Lela. Tempat ini dikukuhkan menjadi Sanctuarium pada 13 Oktober 2010. Sanctuarium (Latin) yang berarti tempat yang dikuduskan untuk memohon ujud-ujud khusus. Sementara Wisung dalam bahasa Sikka berarti lingkungan atau tempat tinggal. Fatima adalah sebuah tempat di Portugal, di mana Bunda Maria menampakan dirinya kepada ketiga anak yaitu Lucia, Yasinta dan Fransesco pada tahun  1917.

Gapura depan jalan yang bertuliskan “Per Mariam Ad Jesum” menandakan bahwa kita sudah memasuki lokasi kudus untuk berdoa. Sekitar 10 meter dari gapura, ada pintu gerbang yang berbentuk hati dengan sebelah kiri terbentang tulisan Sanctuarium (Wisung) Fatima Lela Keuskupan Maumere.

Tempat kudus ini begitu indah dihiasi oleh bunga-bunga di taman. Tidak berhenti sampai di situ. Kita akan melangkah memasuki gerbang malaikat, yaitu gerbang pertama setelah pintu gerbang berbentuk hati. Di atas gerbang malaikat ada tangga menuju tahta patung Maria dari Fatima. Di atas tempat tinggi ini, ada altar yang dilengkapi dengan tempat duduk bagi umat. Dihiasi oleh patung-patung malaikat yang meniupkan sangkakala menambah keagungan tempat ini. Mari kita simak terlebih dahulu sejarah berdirinya wisung Fatima Lela ini.

Peristiwa penampakan Maria pada 13 Juli 1917 di Fatima, Portugal sungguh-sungguh dijawabi gereja Katolik, pada tahun 1942, ditengah carut marut perang dunia, Paus Pius XII menyerahkan Dunia kepada Hati Maria.

Pesan Maria dalam penampakanNya di Fatima juga menggema di desa Lela yang pada waktu itu sistem pemerintahan berbentuk kerajaan yaitu Kerajaan Sikka.  Dalam perayaan liturgi meriah pada 5 Oktober 1947 yang dipimpin Pater H. Boscher SVD, tidak kurang dari 2000 rangkain bunga dipersembahkan umat kepada Bunda Maria Fatima.

Untuk mewujudkan devosi ini, pada 20 April 1949, Patung Maria Fatima yang dibawa oleh Pater Van Es, SVD tiba di pelabuhan Alok (sekarang pelabuhan L. Say – Maumere). Selanjutnya  pada 10 Juni 1949 dibangun pentaktaan Patung Maria Fatima tepat di kaki bukit, di pinggir barat kampung Lela.

Dahulunya, area ini adalah tempat tinggal beberapa keluarga yang kemudian mempersembahkannya untuk pembangunan pentaktaan Patung Maria Fatima. Tempat ini kemudian diberkati oleh Mgr. Hendrik Leven, SVD pada 16 Agustus 1949, yang sebelum pemberkatan diawali dengan pemberian Sakramen Krishma kepada 1.161 umat katolik.

Sejarah juga mencatat, pada 26 Oktober 1949 digelar Liturgi Meriah dalam rangka upacara penyerahan umat sekerajaan Sikka kepada perlindungan Bunda Maria Fatima. Sebanyak 12.000 orang dari 15 paroki hadir pada saat itu. Pada moment yang tidak terlupakan ini, Pater Deken dan Raja Moang Ratu Don Thomas Ximenes da Silva didaulat mengucapkan doa penyerahan kepada Bunda Maria.

Sejak saat itu, doa Rosario, devosi kepada Bunda Maria semakin kuat mengakar dari waktu ke waktu. Dibangunlah jalan Kelima Belas misteri Rosario, yang diberkati oleh Mgr. Anton Thijssen, SVD pada 22 Agustus. Diikuti pembangunan kalvari yang terletak diatas bukit. Salib Tuhan Yesus berdiri kokoh dibukit kalvari, dibawahnya, bagian kanan dan kiri Patung Bunda Maria dan Rasul Yohanes. Pada 13 Mei 1957, bukit Kalvari ini diberkati oleh P. Deken Hoeijmakers, SVD. Ditahun 1958 dibangunlah stasi jalan salib.

Berada di wisung ini, kita seakan-akan dibawa dalam permenungan manik-manik Rosario dan Jalan Salib Tuhan Yesus. Berawal dari sebuah kerinduan akan kehadiran seorang Bunda Tuhan, lalu kemudian menjadi devosi. Melewati peristiwa-peristiwa yang terangkum dalam Rosario, menapaki jalan-jalan Salib Tuhan, yang kemudian menghantar kita menemukan Sang Ilahi yang rela menderita hingga wafat di kayu salib yang berada di atas bukit.

Saya kagum akan pemandangan yang disuguhkan dari atas bukit kalvari ini. Dentuman ombak terdengar jelas di atas bukit ini. Pemandangan yang indah ini tak bisa saya biarkan begitu saja. Kuabadikan untuk menyiarkan kepada dunia bahwa Lela punya segalanya. Lela punya hati untuk Tuhan Yesus dan Bunda Maria. Lela juga punya pemandangan yang indah baik laut maupun pegunungannya. Sungguh terberkatilah setiap pribadi yang datang ke tempat ini dengan kerinduan untuk semakin dekat dalam pelukan lembut Sang Bunda Gereja, Bunda Maria.  Selamat berziarah. ***(Ooz Gobang)

Tentang Penulis: Giorgio Babo Moggi

Gambar Gravatar
Menulis adalah cara untuk mengekspresikan pendapat atau pikiran tanpa terbelenggu.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *