Keriting Itu Cantik, Keriting Itu Unik

oleh
Ilustrasi (Foto: Infospesial.Net)
Ilustrasi (Foto: Infospesial.Net)
Ilustrasi (Foto: Infospesial.Net)

| KOEPANG.COM | – Keriting Itu Cantik, Keriting Itu Unik. Tuhan itu Maha Sempurna. Ia menciptakan segala ciptaannya dengan berbagai rupa. Lantas perbedaan itu tidak dijadikan sarana untuk menjelek satu sama lain. Karena Tuhan menciptakannya mulia dan baik adanya.

Fakta, dalam kehidupan sehari-hari, manusia sering menjadikan perbedaan itu sebagai senjata untuk menyerang orang lain. Ejekan berbau rasis kerap menghiasi berbagai halaman media.

Warna kulit, rambut, bentuk tubuh dan sebagainya sebagai sering menjadi alasan untuk mendiskreditkan ciptaan Tuhan yang lain. Karena itu orang cenderung kurang percaya diri dan berupaya dengan berbagai cara untuk tampil sempurna – kadang harus berkorban secara materil dan bahkan harus melawan kodratnya seperti beda plastik dan mencat rambutnya.

Lagu Mogi, ciptaan Ivan Nestorman, merupakan gambaran baik tersirat maupun tersurat tentang perjuangan emansipasi. Meskipun awal penciptaanya untuk kekasih hatinya, Katarina Mogi, di balik syair-syair ia mematahkan pandangan negatif tentang wanita berambut keriting.

Gambaran utuh tentang spirit tersebut terdapat pada keseluruhan syair lagu berikut.

gula anafai ngaza mogi

(Lihatlah gadis itu namanya Mogi)

adu tangia modhe tau ate nga’o

mona noa se’a pu’u lau lego

(Dia sangat cantik yang membuatku jatuh cinta..Dia berasal dari Lego)

lovely anafai is nona mogi from nagekeo

(Aku cinta nona Mogi dari Nagekeo)

dancing tea iku she is so beautiful

(Dia penari TEA EKU)

oooo..mogi e

o mogi e come and dance with me tonight

(O Mogi datang dan menarilah bersamaku malam ini)

mogi e mogi fu kugu

(Mogi e Mogi Rambut Keriting)

mogi e..mogi e 

dheo keze walo dheo keze walo

(Jangan pulang dulu..Jangan pulang dulu)

mogi e e

Fu kugu (rambut keriting) merupakan mayoritas ciri orang NTT – baik laki-laki maupun perempuan. Anggapan di masyarakat rambut keriting identik dengan tampilan yang tidak cantik atau tidak tampan.  Karena fu kugu dengan segala sematan negatif, gadis-gadis di NTT cenderung meluruskan rambutnya dengan cara dicatok dan diseterika. Cara ini sebagai upaya tampil beda dari aslinya.

Lagu Mogi  memang  kado cinta Ivan kepada Rin. Di balik ungkapan cinta tersebut, lagu ini juga telah mengangkat spirit dan dukungan moral kepada kaum hawa NTT, bahwa keriting itu cantik. Keriting itu bikin jatuh cinta.

Melalui lagu ini, Ivan  membungkam anggapan fu kugu itu jelek. Ia membalikkan anggapan negatif tentang fu kugu  menjadi sesuatu yang cantik, menawan dan mempesona.  Lebih dari itu,  Ivan membangunkan kesadaran dan menumbuhkan kepercayaan wanita fu kugu.

Sehingga tidak benar saudara Cornelis Dhae (2016) mengomentari di thread tulisan saya “Polemik Lagu yang Fenomenal “Mogi”;

“Mogi Fu kugu. Menjadi pangilan ejekan untuk wanita rambut kriting.”

Komentarnya langsung dijawab oleh Ivan dan Rin, sang istri.

“Sayang sekali….padahal maksudnya kebanggaan,” tulis Ivan Nestorman.

Kemudian, Rin, sang istri turut memberi komentar untuk menanggapi Cornelis Dhae.

“Malam Pak Cornelis..itu pandangan yg salah.Justru dengan lagu “MOGI FU KUGU” semua wanita yg mempunyai rambut Keriting makin percaya diri dan tetap mempertahankan ciri khas rambutnya karena kugu itu cantik tidak harus di luruskan…terima kasih,”tulis Rin Mogi.

Sementara itu, Mertin Ngao Due, gadis berambut ikal/keriting asal Ngada, memberikan testimoni kepada Koepang.Com.

“Saya, satu orang yang sangat mempertahankan rambut kriting, sebab itu selama 8 tahun saya di Jakarta, rambut saya tetap keriting. Rambut keriting itu cantik. Apalagi disini kita mau tarik rambut lurus juga, tetap kalah saingan dengan orang Sunda, Jawa, yang rambut sudah lurus macam air, makanya saya tetap mempertahankan rambut kriting, karena rambut keriting itu unik.”

Pandangan Cornelis Dhae bertolak belakang dengan testimoni Mertin Ngao Due. Pandangan semacam ini merupakan salah kaprah yang berlangsung lama di kalangan masyarakat.

Fu Kugu memang berarti berambut keriting, tidak berarti untuk melakukan penghakiman terhadap orang lain. Jika kita mengikuti arus berpikir Cornelis berarti kita melakukan pembenaran bahwa fu kugu itu jelek dan sebuah ejekan.

Namun demikian, fu kugu bisa menjadi pencapan negatif kepada orang kain jika situasi dan kondisi tertentu, misalnya  jika kata itu dialamatkan kepada orang yang kita tidak kenal. Itu bisa bermakna ejekan. Misalnya, dengan kata yang lain, rimpet (bahasa Manggarai) dan nggeme (bahasa Lio) yang berarti pesek bisa menjadi pencapan yang negatif terhadap individu tertentu.

Sebaliknya, kata- kata tersebut menjadi ungkapan cinta atau perasaan kasih sayang jika diucapkan oleh seseorang dan kepada orang yang tepat, misalnya pacar atau sahabat.

Bertolak dari lagu Mogi, maka frasa fu kugu bukan pelabelan yang negatif, tapi ungkapan kebanggaan dan kasih sayang (Ivan & Rin: 2016).

Jadi, makna sebuah kata/frase sangat ditentukan oleh konteks dan subyek yang mengucapkan dan obyek yang menerima kata/frase tersebut. ***(gbm)

Tentang Penulis: Giorgio Babo Moggi

Gambar Gravatar
Menulis adalah cara untuk mengekspresikan pendapat atau pikiran tanpa terbelenggu.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *