Kematian adalah Peristiwa Reborn

oleh

Kupang, KOEPANG.COM – Sabtu (27/12/2014), semenjak pagi langit di kota Kupang mendung. Menjelang tengah hari, langit tak terbendung. Hujan turun cukup lebat. Sebuah pesan SMS masuk menghentak di tengah gemuruh hujan yang menabuh atap rumah.

“Berita Duka: Telah berpulang keharibaan Tuhan YME, Saudara kita: “Bapak Dr. Filemon da Lopez (Kepala Badan Diklat Provinsi Provinsi NTT)” di RS. Sanglah Denpasar Bali.”

Kabar duka kepergian sang doktor, Filemon da Lopez, seolah diikuti alam yang bermuram durja. Duka di tengah kegembiraan natal menjadi kenangan teramat getir bagi keluarga, kolega, dan handai taulan.

Sejenak terbayang rupanya yang ‘sangar’ lantaran(kadang lepas brewok) dan gelegar suaranya menebus dinding atau partisi ruang kantor. Kenangan itu melekat di memori kala ia masih menjabat Kepala Biro Kesejahteraan Rakyat Setda Provinsi Nusa Tenggara Timur.

Moat Filemon adalah sosok pemimpin yang dicintai keluarganya dan para stafnya. Penampakan fisik tidak menunjukkan pribadi yang sangar. Di balik itu, Filemon adalah figur pemimpin yang baik dan peduli dengan stafnya.

Perawakannya keras dan disiplin. Ia menegur bawahannya langsung di depan. Bagi sebagian orang yang tidak terbiasa berhadapan dengan gayanya, mukanya akan merah padam. Tetapi, lambat laun mereka akan semakin memahami dan mencintai sosok yang tidak berjiwa pendendam ini.

“Beliau sosok yang baik, disiplin, dan keras. Tetapi ia sangat peduli dengan staf.”

Akui Isa Saleh, staf pada Biro Kesra Setda Provinsi NTT. Senada dengan Isa, beberapa staf yang pernah bekerja sama pun mengamini.

Filemon mengawali karier sebagai dosen pada Fakultas Ilmu Politik Universitas Katolik Widya Mandira (Unwira) Kupang. Dari Unwira, Filemon beralih profesi sebagai PNS pada lingkup Pemerintah Provinsi NTT dan diangkat menjadi CPNS pada tahun 1998.

Memulai karir kepemimpinan sebagai kepala seksi (salah satu sub) di Bappeda Provinsi NTT (2000). Kemudian ia diangkat menjadi Kepala Bidang Manajemen Pemerintah di Badan Diklat Provinsi NTT (2005). Karirnya terus menanjak. Tahun 2011, Filemon diangkat oleh Gubernur menjadi Pjs. Kepala Biro Kesejshteraan Sosial Setda Provinsi NTT. Masih pada jenjang eselonering yang sama, Filemon dimutasi dan dipercayakan menjadi Sekretaris pada Sekreatariat DPRD Provinsi NTT (2011). Oleh Gubernur NTT, Frans Lebu Raya, Filemon diangkat menjadi Kepala Badan Pendidikan dan Pelatihan Provinsi NTT (2014). Di sinilah karier PNS berakhir hingga ia menutup usia pada tanggal 27 Desember 2014 di RSU Sanglah Bali. Setelah ia berjuang melawan serangan stoke. Ia dimakamkan pada tanggal 29 Desember 2014.

Filemon da Lopez, lahir di Sikka, 4 April 1959. Ia menyelesaikan pendidikan SD (1971) dan SMP (1974) di kampung halamannya. Usai tamat ia melanjutkan ke SMA St. Gabriel Maumere dan tamat tahun 1977.

Dari Maumere, Filomen remaja melanjutkan studi Administrasi Negara (Diploma) pada Universitas Parahyangan Bandung (tamat tahun 1984). Usai Diploma, ia melanjutkan pendidikan ke jenjang S1 pada universitas yang sama (selesai tahun 1985). Setelah meraih gelar sarjana, ia melakoni profesi sebagai dosen di Fakultas Ilmu Politik Unwira Kupang. Tuntutan dunia akademik, ia menempuh dan menyelesaikan pendidikan master (1990) dan doktor (1995) dengan disiplin ilmu yang sama, Sosiologi, di Universitas Padjajaran Bandung.

Filemon meninggalkan seorang istri, R . R. Ambarsari, dan dua orang putra, Victorianus Mahendra da Lopez dan Herman Mahendra da Lopez.

Hingga akhir hayatnya, Filemon tetap sosok seorang manusia. Ia tidak selalu sempurna di mata kita. Kesempurnaan adalah milik Tuhan. Kita dapat belajar dari kebajikan-kebajikannya baik ketika ia menjadi dosen, staff, dan pemimpin di Lingkup Pemerintah Provinsi NTT.

Kepergiannya adalah duka yang dalam bagi orang-orang yang menintainya. Istri dan anak-anak. Suasana suka cita berubah menjadi duka yang menyayat.

Kepergiaannya di tengah suasana natal menjadi kado natal yang teramat pedih bagi keluarga. Natal yang ceriah menjelma menjadi natal yang kelabu. Tetapi, sebagai insan beriman, kita percaya bahwa kematian ayah dua orang putra ini sebagai peristiwa ‘natal’ juga. Peristiwa kelahiran baru (reborn) jiwanya untuk menghadap Sang Khalik. Dari manusia lama menjadi manusia baru. Bukankah kematian itu adalah awal dari kehidupan baru? Selamat jalan, Bapak Filemon da Lopez. Bano epan-epan (jalan balik-baik, Red). Epang gawan (terimakasih, Red) atas jasa-jasamu. Rest in Peace ***

Tentang Penulis: Giorgio Babo Moggi

Gambar Gravatar
Menulis adalah cara untuk mengekspresikan pendapat atau pikiran tanpa terbelenggu.