Kecupan Terakhir di Kening Loretta

oleh
Ilustrasi (Kamera123.com)
Ilustrasi (Kamera123.com)

Medio Oktober. Flores panas membara. Sesuai siklus musim yang aku pelajari di bangku sekolah, Flores seharusnya telah memasuki musim hujan. Ini salah satu akibat dari efek pemanasan global, siklus musim pun  bergeser.

Kala itu aku menemani Loretta, gadis Italia yang kukenal pada kegiatan World Youth Day di Sidney. Aku adalah salah satu utusan yang mewakili pemuda katolik Indonesia hadir dalam kegiatan itu, sementara Loretta sebagai perwakilan dari Italia, tepatnya dari kota kelahirannya, Firenze.

Ketika aku memperkenalkan diri berasal Flores, wajahnya sumringah. Kegembiraan mengguncang jiwanya. Flores bukanlah nama yang asing baginya. Nama itu sangat familiar. Ia bahkan pernah berangan-angan akan mengunjungi Flores pada suatu ketika. Impian ini diceritakan Loretta  kepadaku di pelataran Opera House kala itu.

Pasca kegiatan World Youth Day, aku dan Loretta mengunjungi Opera House, bangunan iconic kebanggaan masyarakat Australia. Kami membuat janji untuk  bertemu di Memorial Museum. Kami dapat menggali banyak  informasi sejarah Australia pada Perang Dunia II dari dalam museum ini. Setelah dari Memorial Museum, kami berjalan ke taman yang memisahkan Memorial Museum dengan gereja Katedral. Aku dan Loretta duduk di sebuah bangku sambil memandang air mancur. Kami bercerita.  Sejenak kemudian kami berjalan ke arah Gereja Katedral. Salah satu spot wisata di kota Sidney. Selain niat berwisata, kami meluang waktu untuk berdoa di katedral.

“Aku tahu Flores ketika aku berusia 10 tahun.”

“Tahu darimana?” Tanyaku ingin tahu.

“Aku membaca dari koran di negaraku.”

“Kok, bisa?”

“Pemberitaan tentang mendiang Paus Johannes Paulus II ang akan berkunjung ke Indonesia pada waktu diliputi berbagai media di negaraku.”

“Apa hubungannya dengan Flores?”

“Flores dibahas karena menjadi salah satu tujuan kunjungan Pope John. Flores  dibahas secara khusus.”

“Mengapa demikian?”

“Flores, pulau kecil dengan populasi penduduk mayoritas beragama katolik menjadi tuan rumah kunjungan Paus ke Indonesia.”

“Ada ulasan lain?”

“Disebutkan Flores sebagai penyumpang misionaris, rohaniwan, biarawan-biarawati terbanyak.”

“Ada hal yang lain?”

“Tidak.”

Dialog kami terhenti saat kami hendak memasuki pintu masuk katedral. Aku dan Loretta memasukan kamera ke dalam tas. Pengunjung dilarang mengambil gambar di dalam gereja. Petugas keamanan siap siaga dari setiap sudut gereja. Mata mereka terus mengawasi setiap gerak-gerik pengunjung.

Selepas doa, kami mengamati setiap sudut katedral. Gedung ini bergaya aristektur seperti gereja-gereja Eropa pada umumnya. Unik. Usianya pun menjangkau ratusan tahun. Sehingga gereja ini menjadi bagian dari sejarah kota Sidney. Meskipun sebagai salah satu obyek wisata, gereja ini tetap aktif. Perayaan ekaristi dilaksanakan pada setiap hari minggu.

Dari katedral kami berjalan kaki ke arah Opera House. Kami keluar katedral lewat pintu samping. Lalu berfoto di depan patung di sisi kiri gereja. Kami berjalan menuju pelabuhan. Sepanjang kiri kanan terdapat  taman-taman yang indah. Tertatah rapih. Suasananya bersih. Alamnya asri. Kapal-kapal besar bersandar.  Laut jernih tanpa polusi sampah.

“Kamu mengenal Flores tidak lebih dari itu?”

“Ya. Um…masih ada lagi.”

“Apa itu?”

“Alamnya.”

“Darimana kamu tahu?”

“Dari internet. Tapi lebih banyak aku mendapatkan informasi dari seorang seorang misionaris di kotaku.”

“Bagaimana kisahnya?”

“Namanya Pastor Lusianus. Sejak pekernalan itu, saya menjadi akrab dengannya. Darinyalah saya dapatkan cerita tentang Flores.”

“Darimana asal pastor tersebut?”

“Ia lahir dan besar di kota Ende. Katanya kota kelahirannya sangat bersejarah. Presiden anda yang pertama pernah ditahan di kota tersebut.”

“Tepat sekali.”

“Selain itu, pastor cerita apa saja?”

“Tentu banyak sekali. Tentang alam, budaya dan masyarakatnya.”

“Apa yang paling menarik bagimu?”

“Semuanya. Tapi aku teringat dengan ceritanya misteri Danau Kelimutu.”

Aha…it sounds good.”

“Katanya danau ini memiliki kawah yang warna berbeda-beda. Apakah benar demikian?”

“Kamu tidak percaya dengan perkataan pastor itu?”

“Percaya dong. Saya hanya mau pasti kebenaran itu melalui kamu.”

“Kamu penasaran dengan danau itu.”

Of course. Suatu waktu aku akan ke sana.

Karena keasyikan bercerita kami melupakan lelah yang mendera setelah menempuh perjalanan kaki  dari katedral ke Opera House. Setiba di pelataran depan, kami menaiki  tangga menuju pelataran teratas. Loretta berfoto dari berbagai sudut dan latar belakang.

Sidney Harbour nan teduh. Kapal pesiar berukuran raksasa berlabuh. Sementara kapal kecil atau perahu motor hilir mudik. Pengunjung datang dan pergi. Lebih banyak pengunjung melewatkan di food court lantai dasar sembari menunggu sunset beberapa jam lagi. Aku dan Loretta beristirahat di bangku di pelataran belakang Opera House dan memandang jembatan Sidney Harbour yang ada di kejauhan. Sesekali kami berdiri dan menyandarkan tubuh pada pagar pembatas, bercerita dan bercanda.

Tak terasa langit Sidney belahan-lahan gelap. Matahari pelan-pelan hilang dari peredarannya. Sapuan cahaya di sekitar Opera House memantulkan cahaya kuning keemasan. Kami bersepekat untuk menjambangi sebuah restoran di CBD Sidney sebelum kami berpisah.

Kedatangannya ke Flores adalah janjinya yang diutarakannya di Sidney. Ketika kami berpisah di restoran Asia di pusat kota Sidney. Aku masih teringat dengan kata-katanya.

“One time I will be there.”

 Bukan semua mimpi belaka kala Loretta memijakan kaki di Flores. Bukan sebuah kebetulan. Tapi sebuah impian yang berproses menjadi sebuah kenyataan dalam hidupnya. Loretta mungkin tidak sadari bahwa setiap capaian dalam hidup ini adalah cita-cita masa kecil. Cita-cita itu tumbuh seiring dengan apa yang ia lihat, baca dan dengar. Tiga hal ini berkontribusi besar terhadap impiannya. Inilah yang disebut dengan visualisasi impian.

Aku sendiri tak menyadari kalau Loretta dapat memijakan kakinya di Flores. Kegembiraan menyeruak saat menyongsong Loretta di bandara Aroeboesman. Pesawat Wings Air dari Denpasar baru tiba sekitar pukul 16.00 sore. Aku tidak sulit mengenali Loretta. Rambutnya ikal pirang seperti kebanyakan rambut wanita bule. Tapi aku menyiapkan sebuah papan bertuliskan “Welcome Loretta” dan berdiri lurus dengan pintu kedatangan. Sirene berbunyi panjang pertanda sesaat lagi pesawat akan mendarat. Perasaanku campur aduk. Gembira. Haru.

Aku tak sabaran menunggu. Aku berlari ke sisi kiri gedung bandara. Dari tempat ini aku dapat memantau Loretta dari balik pagar kawat. Loretta turun dengan langkah yang sangat mantap. Aku yakin itu dia. Tak banyak berubah darinya. Loretta masih seperti tiga tahun yang lalu aku jumpai di Sidney. Aku kembali ke pintu keluar kedatangan. Aku meletakan papan nama bertuliskan “Welcome Loretta” di depan dadaku dan siku kedua tanganku bertumpuh pada pembatas.

Penumpang berdatangan. Beberapa penumpang langsung keluar ruang kedatangan, lainnya masih menunggu bagasi. Loretta histeris kala melihat papan yang bertuliskan namanya. Letupan kegembiraan menambah kegaduhan ruang kedatangan. Ia lari keluar ruang. Kami berpelukan. Aku mendekapnya lama dengan segenap perasaan yang dalam. Hampir sedetik pelukan baru terlerai. Ia masuk kembali ke ruang dan mengambil bagasinya.

Hari itu juga kami berangkat ke Moni. Melewatkan malam di sebuah resort di kampung persawahan sebelum menuju ke kawah Kelimutu. Pagi-pagi buta, ayam masih berkokok, sebuah truck kayu menghantar kami ke puncak Kelimutu.

Hari masih gelap. Kami tidak dapat melihat pemandangan sepanjang jalan. Tiba di pintu masuk Kelimutu, kabut masih seliputi kawasan danau. Kami harus menempuh puncak dengan berjalan kaki. Loretta tampak bahagia. Sumringah. Turun dari truck dan berlari di pelataran parkir serta berteriak sukacita.

Aku menyusul di Loretta. Langkah kakinya lincah. Menyusuri jalan berbatu. Kami menggapi puncak setelah melewati ratusan anak tangga. Langit mulai terang. Tapi matahari enggan menyunggingkan senyumnya karena tertutup gumpalan awan.

Waktu penantian tiba. Wisatawan berbaris sepanjang pagar pembatas. Lainnya duduk di tangga tugu. Matahari mengendap-endap dari balik segerombolan awan tebal. Memancarkan sinar keemasan. Membiaskan cahaya kemilau pada diding kawah. Pesona alam yang luar biasa. Keindahan sesaat tapi meninggalkan jejak abadi di hati Loretta.

Loretta tampak bahagia. Ia meraih tanganku lalu memelukku untuk kali keduanya setelah pertemuan di bandara Aroeboesman. Aku larut dalam keheningan alam. Aku mendekapnya. Biarkan nafasnya bergema menghempas dadaku yang merindunya. Itu pula yang aku rindukan. Terwujud di puncak Kelimutu ini. Loretta mengangkat kepala lalu menatap Tiwu Nuwa Muri Koo Fai  dan Tiwu Ata Mbupu. Kemudian ia bergerak mundur dan memandang Tiwu Ata Polo. Kemudian kembali ke posisi semula dimana aku sedang menantinya.

Aku tak mampu menjelaskan banyak hal tentang Kelimutu. Mitos dan kepercayaan masyarakat setempat. Aku terbantu oleh sebuah informasi yang tertera pada sebuah prasasti. Setidaknya prasasti itu dapat menyelamatkan aku di hadapan Loretta. Aku sama sekali tak siap menyambut kedatangan Loretta dengan menyiapkan informasi sebanyak mungkin tentang Danau Kelimutu.

Kedatangannya seperti mimpi di siang hari bagiku. Aku tak pernah dikabarkan sebelumnya. Aku hanya teringat dengan kata-katanya kala kami bersua di Sidney.

“One time I will be there.”

Ternyata Loretta memiliki persepsi yang berbeda tentang Kelimutu. Ia berusaha merangkai filosofi Danau Kelimutu. Saat itu itulah terkuak misteri siapa sosok Loretta. Mungkin karena kehidupan di negara yang lebih mengedepankan rasionalitas dan jauh dari hal-hal mistis tapi sangat religi.

“Tuhan adalah sosok yang misterius. Ia menciptakan danau yang menakjubkan.”

“Tentu saja. HE is the Greatest.”

“Tuhan menggerakannya melalui peristiwa alam.”

“Aku tak dapat membayangkan letusan gunung berapi dapat membentuk tiga danau ini.”

“Unik lagi, antara kawah yang satu dengan kawah yang lain berbeda warna.”

“Aku percaya ini bagian dari misteri Tuhan.”

“Maksud Loretta?”

“Tiga kawah ini merepresentasi alam semesta ini.”

“Anda dapat menjelaskannya lebih dalam?”

“Tiga kawah ini merepresentasi hubungan vertikal Tuhan dengan sesama dan hubungan horisontal antar sesama.”

“Karena itu salah satu kawah terpisah jauh dengan kawah yang lain?”

Absolutely right, Gerry.”

Explain me more, please.”

Sebelum Loretta menjawab, aku menarik tangannya. Kami berjalan ke arah tangga tunggu di sebelah timur menghadap Tiwu Ata Polo.

 “Kawah yang berada di depan kita merepresentasikan Sang Pencipta.  Karena itu jaraknya jauh dari dua kawah lain. Ini menggambarkan ada jarak bahwa Tuhan itu ada di tempat yang tertinggi.”

“Apa yang merepresentasikan kedudukan Tuhan?”

“Jarak itu.”

Akh, kamu ada-ada saja.”

“Saya tidak bermaksud mengingkari mitos danau Kelimutu yang telah diyakini masyarakat di sini. Boleh khan aku dengan cara pandangku sendiri.”

“Kamu benar, Loretta. Setiap wisatawan yang datang ke sini sama artinya mereka bermeditasi di alam. Mereka bebas merefleksikan pengalaman keberadaan di tempat ini. Sama seperti yang kamu lakukan.”

“Artinya aku tidak salah khan?”

“Ya. Kamu tidak salah. Lalu bagaimana dengan dua kawah yang terletak berdampingan?”

“Itu menggambarkan tentang manusia. Manusia dengan segala rupanya. Pelbagai perbedaan yang melekat pada dirinya yang menjadikan berbeda dengan yang lainnya tapi sesungguhnya mereka dapat hidup berdampingan. Keberagaman itu tidak dimaksudkan untuk menciptakan jarak.”

“Benar kamu, Loretta. Itu menggambarkan pribadi manusia sebagai individu sekaligus makhluk sosial.”

“Kadang dalam praktek hidup kadang kita dekat secara fisik sesungguh jiwa kita sangat jauh.”

“Kita melihat sesuatu dari properti yang kita miliki.”

“Benar. Mereka tidak melihat hakekat manusia sebagai sesuatu yang universal. Sama.”

“Itu sulit sekali di negeriku, Loretta. Kami terjebak dalam sekat karena perbedaan itu.”

“Tak mengejutkan jika dalam catatan sejarah bangsamu bahwa ideologi bangsa lahir di sini.”

“Kamu tahu juga tentang itu?”

“Sedikit. Bukankah proklamator bangsamu pernah buang di bumi Flores?”

“Ya, benar.”

“Danau ini mencerminkan keberagaman bangsamu?”

“Dari aspek mana kamu melihat itu?”

“Tiga danau memiliki warna yang berbeda, tetapi satu nama Danau Kelimutu khan? Begitu pula bangsamu.”

Aku tertegun. Diam-diam aku mengagumi Loretta. Ia bukan ibarat sebuah gelas kosong. Pengetahuannya tentang sejarah bangsaku cukup memadai. Mungkin juga sangat memadai karena aku belum mengorek semua darinya.

“Apakah karena ia mencari tahu sebelum kedatangannya ke sini?” Aku bertanya pada diriku sendiri.

“Soerkarno pernah ke tempat ini?”

“Ya. Ia bahkan menuliskan naskah drama dengan tajuk Misteri Kelimutu.”

“Aku membaca banyak tentang Soekarno. Ia adalah pemimpin hebat, selain ia  seorang seniman sejati. Sosok serba bisa.”Kagum Loretta.

Kami belum beranjak dari tangga. Matahari terus berarak naik. Tapi hawa di puncak Kelimutu terasa sejuk karena angin terus menghembus kencang menimbulkan gemuruh bak lebah yang sedang beterbangan. Aku mengajak Loretta menuruni ratusan anak tangga. Kami jalan beriringan dan aku sambil memegang tangannya.

Kami pindah ke Tiwu Nuwa Muri Koo Fai  dan Tiwu Ata Mbupu. Kedua danau ini berwarna biru tua, satu berwarna biru terang. Warna teduh dan kontras dengan tebing danau. Gemuruh dedaunan tertiup angin pegunungan masuk ketingkap jendela telinga. Nafas Loretta tersengal-sengal saat mencapai bibir Tiwu Nuwa Muri Koo Fai  dan Tiwu Ata Mbupu.

Puas memandang danau Kelimutu, kami pulang. Loretta memintaku untuk duduk di sebuah bangku di bawah barisan pinus nan kokoh. Angin pegunungan terasa sejuk. Menyegarkan tubuh yang gerah. Aku meraih sebotol air mineral dari tas. Meneguk berlahan sambil menatap Loretta tanpa sepengetahuannya. Menyeruak perasaan jatuh cinta. Tapi mulut ini terlalu berat. Keraguan liputi benak. Hatiku jadi kakuh. Loretta duduk di tebing sisi seberang dari bangku yang aku duduk. Ia memungut batu lalu melemparkan ke badan jalan. Tingkahnya seperti anak kecil. Aku melihat dan tertawa dalam hati.

Let’s go.” Aku mengajaknya pulang.

Come on.” Loretta gegas berdiri.

Kami menuruni jalan yang masih berbatu. Tiba di pelataran parkiran, pikiran Loretta berubah.

“Ger, bagaimana kita berjalan kaki hingga Moni?”

Aku berat menolak ajakannya. Kali ini kedatangannya pertama kali di Flores. Meskipun lelah tapi terbersit di hasratku. Pikiranku terbayang lembaran romantika yang akan ditenun sepanjang jalan Kelimutu-Moni. Aku menyanggupi ajakannya. Perjalanan pun dimulai.

Rasa lelah tak tampak di wajahnya. Jiwa tualangnya gelorakan raganya. Loretta kagum dengan alam yang masih alamiah. Kadang ia menepi lalu memegang dedaunan yang unik menurutnya. Banyak pertanyaanya tapi aku tak sanggung menjawab semuanya. Di tikungan terdapat sebuah pancuran yang terbuat dari bambu. Kami berhenti sejenak. Loretta membasuh wajahnya. Akupun demikian. Aku memetik sekuntum bunga entah apa namanya lalu kuselipikan di telinganya. Loretta menghindar. Berlari kecil. Aku mengejar dan meraih tangannya. Loretta luluh. Aku meletakan sekuntum bunga itu di telinga dan memotretnya.

Kami beranjak dan meninggalkan pancuran. Menyusuri jalan menurun menuju Moni. Sesampai di kampung Waturaka, mata kami disaji hamparan sawah yang padinya sedang menguning. Pemandangan yang memukau hati Loretta. Ia memintaku untuk melewati hamparan persawahan ini. Aku menyanggupinya. Aku menuruti agar membahagiakan Loretta. Toh, ini pengalaman pertamanya. Tersembunyi di sudut hati kecilku, aku pula menginginkan itu agar kedekatan dengan Loretta tak cepat berakhir.

Aku berjalan di depan Loretta. Kadang gantian aku menuntunnya. Pula aku harus memegang tangannya kala berpindah dari satu pematang sawah ke pematang sawah yang lain. Anak-anak kampung Waturaka berteriak seperti kebanyakan anak-anak Flores pada umumnya kala mereka melihat turis asing.

“Miste, miste.”

Mereka tak peduli siapa itu turis asing. Laki atau perempuan? Bagi mereka sama saja sapaanya, Miste (dialek Lio, huruf “r” tidak diucapkan). Aku tersenyum, pula Loretta. Kedengarannya ganjal, tapi Loretta memakluminya.

Kami mampir di sebuah gubuk di tengah sawah. Sebuah keluarga kecil sedang menunggu. Kami menyapa dan disambut oleh mereka dengan ramah.

“Mau kemana, Nak?”

“Moni, Mama.”

“Turis ini orang mana?”

“Italia.”

“Saya tidak tahu.”

“Kalau kamu tidak tahu, kamu jangan tanya sembarang.” Sela suaminya. Kami tertawa lepas.

Iwa apa-apa bapa.” Tuturkun untuk menenangkan suasana dalam bahasa Lio.

Mereka menawarkan kami makan jagung goreng. Tanpa basah basih, aku mengambilnya segenggam saja. Terasa renyah di mulut. Loretta masih ragu-ragu. Karena ia tidak biasa makan jagung goreng. Aku memaksanya untuk menghargainya. Ia mengambil sejumput jemarinya lalu memasukan ke dalam mulutnya. Wajahnya berubah. Aku diam saja. Segenap penghuni gubuk tertawa melihat aura wajahnya. Makanan sederhana ala petani, tapi canda tawa bak penghuni rumah mewah. Mereka bahagia sekali.

Kami pamit pada pemilik gubuk ini. Kami menuruni medan yang curam. Aku menuntun Loretta. Aku tak mau sesuatu yang buruk terjadi padanya. Cedera misalnya. Di depan kami melintang sebuah kali kecil. Aroma belerang menyengat. Semakin dekat semakin menyengat aromanya. Aku menuruni kali kecil itu. Loretta ragu-ragu menyeberangi kali. Aku sandarkan tubuhku pada tebing kali lalu meminta Loretta duduk di bahuku. Mulanya Loretta malu-malu. Aku meyakinnya untuk menerima tawaranku. Aku butuh sedikit perjuangan untuk menyeberangkan Loretta. Meski aku lelah tapi bahagia. Warga yang tak jauh dari situ hanya tersenyum tingkah kami. Sesampai di seberang Loretta membasuh muka di sumber air panas yang menyembulkan aroma belerang itu. Ia  memercik air ke wajahnya. Usilnya pun muncul, aku dikejutkan cipratan air di wajahku.  Aku lari menghindarinya. Kami pun berbalas-balasan. Pecah tawa kami menghilangkan kepenatan siang itu.

Aku tak sanggup lagi melewati hamparan sawah. Aku meminta Loretta kembali ke jalan utama. Berharap ada kendaraan yang lewat dan sopir atau pengendara memberikan kami tumpangan ke Moni. Tak satupun kendaraan yang datang searah dengan kami. Kami terus berjalan. Sepanjang jalan Loretta mengungkapkan kekagumannya pada peristiwa di gubuk tadi.

“Aku heran dengan orang di sini. Mereka sangat bahagia. Mereka bisa tertawa meskipun hidup di gubuk dan menikmati makanan seadanya.”

“Apakah kebahagiaan itu diukur oleh tawa? Bukan materi?” Aku menggugatnya.

“Tentu tidak, Ger. Tapi paling tidak itu mencerminkan kebahagiaan itu sendiri. Mereka dapat tersenyum. Tertawa. Bertolak belakang dengan keadaan di negaraku. Kami memiliki segala-galanya tapi kami jarang tersenyum. Kami menjadi individualistis. Senyum pun menjadi sesuatu yang mahal.”

Argumentasi Loretta mengarak benakku ke sebuah negara di bawah kaki Himalaya. Buthan namanya. Negeri ini memiliki konstitusi yang berbunyi “If the government cannot create happiness for its people, then there is no purpose for government to exist.” Bagi negara ini,  Gross National Happiness (GNH) lebih penting dari Gross National Product (GNP). Kata-kata Loretta membuat aku terenyuh. Negeriku mungkin masih jauh soal ini. Sejauh ini, fakta, susah atau senang, aku masih lihat masyarakat masih dapat tertawa.

Kami pun tiba di penginapan. Kami menginap satu malam lagi. Kami kembali ke Ende besok paginya. Siangnya aku menghantar Loretta ke bandara Aroeboesman. Loretta melanjutkan liburan di Bali. Kami berpelukan sebelum Loretta masuk ruang tunggu. Aku mendaratkan sebuah kecupan di keningnya, tanganku kembali memeluknya erat-erat.

Kami berpisah tanpa mengucapkan kata-kata cinta. Bukankah setiap tindakan itu adalah kumpulan aksara-aksara yang menenun kata cinta itu sendiri.  Gracia, Loretta.

Tentang Penulis: Giorgio Babo Moggi

Gambar Gravatar
Menulis adalah cara untuk mengekspresikan pendapat atau pikiran tanpa terbelenggu.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *