Katakan Dengan Buku

oleh

Oleh : Yohanes Don Bosco Lobo

Tulisan ini diinspirasi oleh oleh cita-cita yang kuat untuk memanfaatkan buku sebagai simbol penghargaan dan keakraban dengan sesama.Buku menjadi obyek yang begitu dekat dengan kita,bahkan symbol pengikat emosi antara satu dengan yang lainnya.

Melalui buku mengalirlah kreativitas dan dinamika intelektual yang merangsang cara berpikir untuk melakukan perubahan.Sejarah dunia adalah sejarah buku karena berbagai perubahan yang terjadi dengan segala akibatnya berasal dari buku.Secara tegas dapat dikatakan bahwa buku merupakan salah satu indicator kemajuan dan jendela peradaban sebuah bangsa.Karena buku peradaban sebuah Negara menjadi maju dan karena buku jualah sebuah peradaban tak memberi makna yang berarti ketika buku teralienasi dari kehidupan masyarakatnya

Interaksi dengan buku yang mendalam seharusnya bisa melahirkan tradisi membaca.Tradisi membaca telah diwariskan oleh para pendiri bangsa ini.Mereka besar bukan karena pergerakan politik semata, tetapi mereka dikenal karena kualitas intelektualnya yang dibangun melalui membaca buku, sebut saja Soekarno, Sjahrir, Agus Salim dll.Sangat disayangkan jika tradisi membaca itu tidak terwariskan secara baik oleh para pemimpin dan pejabat kita masa kini.

Gemerlap pembangunan yang dicanangkan oleh pemerintah telah mengeliminasi tradisi membaca yang seharusnya menjadi landasan pembangunan itu sendiri.Hal ini juga yang menyebabkan Negara ini ibarat bangunan tanpa akar.Gemerlap pembangunan fisik telah menyeret masyarakat pada budaya konsumerisme.Inilah konsep pembangunan yang mengesampingkan manusia sebagai insan yang berbudaya.Pada titik ini bisa dikatakan bahwa pembangunan telah mengalami kegagalan, tidak sepenuhnya sesuai dengan harapan, atau bahkan berpotensi menimbulkan masalah baru.Pembangunan kerap kali di dominasi oleh aspek ekonomi dan teknologi.Kedua aspek ini memang perlu namun sayangnya aspek manusia dan budaya jangan terabaikan.Seharusnya manusia itu yang menjadi subyek dari pembangunan lantaran pembangunan itu sendiri hakikatnya untuk kesejahteraan manusia.

Membangun budaya baca bukan sekedar menyediakan buku atau ruang baca, tetapi juga membangun pemikiran, perilaku dan budaya dari generasi yang tidak suka membaca menjadi generasi yang gemar membaca.Dari generasi yang asing dengan buku menjadi generasi yang mencintai buku.Dari generasi yang alergi dengan buku menjadi generasi yang intim dengan buku.Dari sanalah kreativitas dan transfer pengetahuan bisa berlangsung dan berkembang secara intensif.

Walaupun harus diakui bahwa perkembangan teknologi informasi yang begitu pesat, buku tetap menjadi media yang tak terkalahkan.Kemajuan sebuah peradaban bukan berasal dari melihat, menonton atau mendengarkan tetapi dari membaca catatan-catatan, literature, dan berkas-berkas tertulis.Kita tahu bahwa membaca buku atau tulisan dapat membangkitkan imajinasi-imajinasi yang lebih menggugah kreativitas yang tidak didapatkan dari proses menonton atau mendengarkan.

Karena begitu pentingnya budaya membaca sudah saatnya semua pihak, baik pemerintah, agamawan, tokoh masyarakat, LSM, maupun dunia perbukuan memberikan kepedulian yang lebih bagi tumbuh kembangnya budaya membaca.Ada beberapa solusi yang menjadi pertimbangan kita untuk mengajak generasi berikutnya supaya tidak mengalami kegagalan dalam berinteraksi dengan buku, antara lain ; pertama pendirian taman-taman bacaan di berbagai tempat, kedua penerjemahan buku-buku asing yang berkualitas ketiga penyediaan buku-buku yang murah dan terjangkau serta keteladanan dari tokoh masyarakat atau pejabat dalam membaca dan menulis buku.Ini adalah langkah strategis bagi pemberdayaan budaya baca masyarakat.

Kalau selama ini masyarakat sangat familiar dengan ungkapan “katakan dengan bunga” sebagai symbol keakraban dan kasih sayang, apakah kita mau menggantikannya dengan ungkapan “katakan dengan buku” sebagai momentum untuk menggugah kesadaran agar selalu membaca dan menelurkan karya-karya agung dalam sebuah peradaban? ***

Yohanes Donbosco Lobo, Guru SMAN 3 Kediri, Jawa Timur

Tentang Penulis: Giorgio Babo Moggi

Gambar Gravatar
Menulis adalah cara untuk mengekspresikan pendapat atau pikiran tanpa terbelenggu.