Ooz dan Harapannya, Kajuwulu Menjadi Salah Satu Destinasi Wisata Unggulan Sikka, NTT

oleh
Ooz Gobang (Foto: Facebook.Com/OozGobang)
Ooz Gobang (Foto: Facebook.Com/OozGobang)

| KOEPANG.COM | Ooz dan Harapannya, Kajuwulu Menjadi Salah Satu Destinasi Wisata Unggulan Sikka, NTT. Kajuwulu, tanjung di jalur pantai utara Sikka, kira-kira 25 km ke arah barat kota Maumere atau 25 menit perjalanan dari Maumere. Di era 1980-an, tanjung ini biasa-biasa saja, ditumbuhi semak belukar, pohon gamal (pohon reo, red) dan kesambi. Ya, seperti adanya sekarang, tetapi Kajuwulu tidak setenar sekarang.

Selain tanjung Kajuwulu, ada tanjung lain di sebelah barat. Kedua tanjung ini adalah rute terberat menuju Magepanda, Ndete, Koro, Kotabaru dan wilayah lain sebelah barat atau sebaliknya dari barat menuju Kolisia, Nangarasong, Waturia dan Maumere.

Para sopir diuji nyalinya. Dua kemungkinan yang dapat terjadi. Sang sopir mampu melewati bukit itu atau kendaraannya terguling ke tepi jurang yang curam. Jaman itu, siapapun yang mengendarai kendaraan roda empat di Kajuwulu ibarat menantang maut.

Kini, Kajuwulu telah berubah. Menjadi perbincangan di media sosial. Diminati wisatawan dan fotografer karena tempat ini sangat strategis untuk menghantar matahari ke peraduan (sunset) atau menyongsong matahari pagi (sunrise).

Tidak ada hal yang luar biasa di atas tanjung ini. Hanya padang sabana. Salib dan sederetan tangga. Tapi tanjung ini menjadi titik lookout (tempat meninjau). Menikmati view mangrove Magepanda, hamparan biru Laut Flores, view Pulau Besar serta landscape di sekitarnya.

Koepang.Com menjumpai seorang pencinta alam, Karmadina Oswanty Gobang. Gadis yang biasa disapa Ooz ini memiliki kenangan istimewa dengan tempat ini ketika ia berada di punggung Tanjung Kajuwulu.

“Empat perasaan yang selalu ada saat berada di alam. Syukur, damai, bangga, dan bahagia. Hehehe.” Tutur gadis berprofesi apoteker ini.

“Pertama, perasaan bersyukur atas karya Tuhan yang bisa ia rasakan dan kagumi. Kedua, perasaan damai. Ooz tidak memungkiri bahwa ia menemukan kedamaian ketika berada di alam Kajuwulu. Ketiga, perasaan bangga karena ia bisa berada di sini. Terakhir, perasaan bahagia karena ia bisa menikmati semua pemandangan tanpa ada gangguan dan jauh dari keramaian orang.” Terang Ooz.

Ooz berharap pemerintah Sikka lebih serius mengelola Kajuwulu secara profesional sehingga tempat tersebut menjadi salah satu destinasi pariwisata unggulan. Segala potensi di sekitarnya harus dioptimalkan. Bila perlu pemerintah dapat memadukan wisata alam dan rohani.

“Pemerintah harus melengkapi sarana seperti plang penunjuk jalan atau informasi. Tangga menunjuk salib dibuat hingga bibir jalan sehingga pengunjung tidak bersusah payah melewatinya. Pemerintah harus memasang cermin atau kaca seperti di jalan menuju Danau Kelimutu. Kaca ini penting untuk menghindari kemungkinan terjadinya kecelakaan. Karena kawasan ini sangat rawan kecelakaan.” Imbuh gadis lajang ini.

“Kajuwulu, dibiarkan sebagaimana ia diciptakan. Tetep sebagai alam yg indah, tetep sebagai tempat wisata rohani. Intinya tetep terjaga kenaturalannya. Jangan merusak apapun dari alamnya.” Ooz mengungkapkan mimpinya.

Ooz berpesan kepada pengunjung, “Jangan mengambil apapun kecuali gambar. Jangan meninggalkan apapun kecuali jejak kaki. Jangan membuang atau membunuh apapun kecuali waktu.”

Ia sangat menyayangkan perilaku pengunjung yang membuang sampah sembarang.

“Kemaren pas mau turun sempat mungutin sampah-sampah di situ. Yang paling banyak yah sampah bekas makanan dan minuman sama bungkus rokok. Ada batu yang ditumpuk. Tapi saya belum tahu apakah batu itu diambil dari bukit tersebut dengan tujuan nanti dijual atau tujuan yang lain.” Tutur wanita alumni Universitas 17 Agustus Sunter Jakarta Utara ini dengan nada geram.

“Kajungwulu harus memiliki fasilitas seperti toilet umum, area parkir, dan lopo.” Imbuhnya.

Kepada Koepang.Com, Ooz optimis, Kajuwulu bakal selalu dikunjungi wisatawan. Karena keindahan tersaji sepanjang waktu. Tidak sebatas senja menghantar matahari ke peraduan ataupun pagi menyonsong sang mentari menyembul dari batas kaki ufuk. ***

Tentang Penulis: Giorgio Babo Moggi

Gambar Gravatar
Menulis adalah cara untuk mengekspresikan pendapat atau pikiran tanpa terbelenggu.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *