Jokowi Menggugat Nasionalisme Media Televisi

oleh
Presiden Jokowi (Foto: Tribunnews.Com)
Presiden Jokowi (Foto: Tribunnews.Com)

| KOEPANG.COM | Jokowi Menggugat Nasionalisme Media Televisi.  Sebuah pemandangan menarik saat menonton siaran langsung final sepak bola Piala Gubernur Kaltim (13/3/15). Pada saat menyanyikan lagu Indonesia Raya, tidak semua pemain berkebangsaan Indonesia menyanyikan Indonesia Raya. Dua kemungkinan saja. Mereka dengan sengaja tidak mau menyanyikannya dengan berbagai alasan atau pemain yang bersangkutan tidak tahu syair apalagi menyanyikannya?

Kemungkinan yang kedua, mengingatkan kita dengan kritikan Jokowi kepada media televisi yang memutarkan lagu kebangsaan di tengah malam. Dengan gaya Jokowi yang dingin, sebenarnya, kritikannya tajam dan menggugah kesadaran kita semua; media televisi, lembaga pendidikan, orang tua, dan pemerintah.

Lagu-lagu kebangsaan hanya menjadi pengiring tidur. Menutup rangkaian acara televisi dalam sehari. Pertanyaanya, siapakah yang mendengar? Orang mungkin menonton bahkan hanya menjadi ‘soundtrack’ aktivitas tengah malam. Anak-anak dan remaja pun sudah lelap dalam tidurnya.

Jokowi sadar, media televisi sangat berpengaruh terhadap perkembangan dan pertumbuhan anak-anak masa kini. Memperkuat pendapat Jokowi kita dapat menengok di lingkungan terdekat kita. Anak-anak berusia 5 tahun dapat melantunkan lagu-lagu cinta dengan sempurna. Atau, bagaimana mungkin seorang remaja kampung dapat bicara dengan dialek Jakarta karena mereka sering menonton sinetron. Dua contoh yang nyata. Fakta bahwa media televisi memiliki pengaruh yang luas.

Mengapa anak-anak dan remaja mudah menyerap pengaruh media televisi? ANAK-ANAK DAN REMAJA SEPERTI SEBUAH GELAS KOSONG. BELUM TERISI AIR. KALAUPUN TERISI, SETENGAH GELAS PUN BELUM SAMPAI. SEHINGGA APAPUN YANG MASUK KEDALAM OTAKNYA DENGAN MUDAH TERTAMPUNG. DIDUKUNG PULA DENGAN DAYA INGAT YANG KUAT. LAIN HAL ORANG DEWASA – MEMORINYA SEMAKIN JENUH KARENA USIA.

Himbauan Jokowi kepada pemilik media TV memutarkan lagu-lagu kebangsaan pada segmen prime time adalah langkah yang paling bijak. PERTAMA, media televisi memiliki tanggung jawab untuk menggelorakan nasionalisme.

KEDUA, Jokowi sangat paham, media TV memiliki jangkauan dan pengaruh yang luas. Maka media TV dapat menjadi sarana membangun nasionalisme. Anak-anak dan remaja begitu gampang meniru tayangan-tayangan murahan TV, bagaimana mungkin mereka tidak bisa meniru lagu-lagu kebangsaan jika lagu-lagu dibuka atau disiarkan di TV?

TERAKHIR, media sangat berperan dalam sejarah perjalanan bangsa Indonesia. Media (radio) misalnya membakar semangat nasionalisme ke seluruh pelosok tanah air. Kita ingat peristiwa Sepuluh November di Surabaya, Bung Tomo mengelorakan perlawanan kepada Belanda. Nah, sekarang kita hidupkan lagi peran media tersebut.

Himbauan Jokowi harus di-follow up oleh media. Soal nasionalisme tidak bisa ditawar. Kemerdekaan sudah diraih. Tugas kita melestarikan karya para pahlawan yang diperoleh melalui cucuran keringat dan darah tersebut. Lantas, menyanyi lagu kebangsaan saja kita tidak bisa?***

Tentang Penulis: Giorgio Babo Moggi

Gambar Gravatar
Menulis adalah cara untuk mengekspresikan pendapat atau pikiran tanpa terbelenggu.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *