Jokowi, Kosa Kata Baru dalam Kepemimpinan Nasional

oleh
jokowi-kosa-kata-baru-dalam-kepemimpinan-nasional

KOEPANG.COM – Bahasa adalah media atau sarana orang berkomunikasi. Bayangkan jika tidak ada bahasa, bagaimana komunikator bisa menyampaikan pesan kepada komunikan?

Tentu kita bisa menggunakan bahasa isyarat, tetapi hasilnya belum tentu maksimal. Tidak semua pesan terkirim atau tersampaikan kepada lawan bicara. Lagipula, bahasa isyarat tidak dipahami semua orang.

Kita pasti kagum pada orang-orang yang memiliki kemampuan berbicara berbagai bahasa – bahasa daerah dan asing. Dalam hati kecil, kita pasti bilang “wow”. Kata sanjungan dan pujian mengalir kepadanya. Kita terkesima. Takjub.

Kepiawaian berbahasa asing menjadi kebanggaan setiap orang. Dalam panggung politik Indonesia, kemampuan bahasa inggris menjadi topik yang pernah diperdebatkan. Seorang calon presiden harus bisa berbicara Bahasa Inggris.

[irp]

Contoh yang paling nyata pada Pilpres tahun 2014. Jokowi ‘dinyinyir’ lantaran tidak bisa berbahasa Inggris secara aktif. Di lain pihak, orang mengagumi Prabowo yang mahir bertutur kata dalam Bahasa Inggris.

Alasan orang benar. Bahwa Bahasa Inggris penting dalam membangun diplomasi. Seorang presiden harus memiliki English skills – menulis, membaca, mendengar, dan berbicara. Karena Indonesia tidak hidup dalam ruang sepi. Di luar dirinya, masih banyak negara-negara lain. Nah, bagaimana seorang kepala negara berinteraksi, kalau bukan bahasa inggris sebagai bahasa penghubung? Tapi, alasan ini tidak benar adanya. Karena mendiang Soeharto, selama beberapa dekade, memimpin Indonesia mampu membina hubungan diplomasi dengan bangsa lain tanpa kemampuan Bahasa Inggris secara pasif – apalagi secara aktif.

Bahasa Inggris bagi seorang presiden penting, tapi tidak selalu penting. Relatif dalam situasi dan kondisi tertentu. Lebih tidak penting lagi ketika seorang presiden berada di antara masyarakat yang ‘buta’ bahasa inggris (mayoritas masyarakat Indonesia). Misalnya, Jokowi menemui kepala suku Anak Dalam di Sumatera. Pertanyaan menyeruak di benak saya; Jokowi menggunakan bahasa apa, ya? Tentu bukan Bahasa Inggris, khan?

Bukan hal baru Jokowi berada di kerumunan orang-orang kecil. Para petani, nelayan, pedagang, dan terbaru dengan suku asli di pedalaman Sumatera. Pertemuan tersebut tidak menggunakan bahasa inggris. Melainkan bahasa petani, bahasa nelayan, bahasa orang-orang kecil, dan (mungkin) bahasa isyarat.

[irp]

Pemandangan ini, seolah-olah Jokowi mengajarkan kita. Menjadi diri sendiri. Berdiri dalam kemandirian. Berbicara dengan bahasa sendiri. Kita tidak perlu bicara bahasa tingkat tinggi. Sementara mayoritas masyarakat kita tidak berpendidikan tinggi. Jokowi seolah mengajarkan kita bahwa kemampuan bahasa asing hanya menjadi simbol ego dan keagungan diri. Mempertegas jarak antara mereka yang cerdas pandai (bisa Bahasa Inggris) dengan mereka yang tidak terdidik atau berpendidikan rendah (tidak bisa berbahasa Inggris).

Jokowi telah menghadirkan dimensi baru tentang bahasa. Bahasa tidak sekedar susunan kata. Tidak sekadar kata tersusun dari alfabet. Bahasa itu tidak sekedar gerak tangan, bibir, mata, atau badan. Bahasa itu adalah tanda kehadiran kita – tanpa kata dan gerak sekalipun. Itu sulit dilakukan orang lain; saya dan anda. Keberadaan Jokowi di antara suku Anak Dalam dan di tengah pekatnya kabut asap adalah bahasa. Lebih dari sekedar kata dan aksi. Bahasa pembungkaman terhadap politisi yang penuh retoris. Mulut mereka berbusa ketika bicara kabut asap, tapi mereka tidak pernah rasakan pekatnya asap. Mereka membungkus mulut dengan masker sebagai bentuk protes dan keprihatinan, tetapi mereka tidak pernah hadir di tengah masyarakat yang menderita karena asap.

[irp]

Jokowi hadir. Bukan saja sebagai tanda ia ada untuk rakyat. Itu adalah simbol atau isyarat bagi kita semua. Kehadiran kita di tengah mereka yang menderita jauh lebih penting daripada retorika di panggung politik atau mimbar agama. Jokowi adalah presiden. Sosok pemimpin. Ia berkata dan bertindak. Jiwa dan raganya telah menjelmakan dirinya sebagai simbol. Lebih dari itu, ia adalah bahasa. Bahasa kesederhanaan, bahasa kepeduliaan, bahasa kemanusiaan, bahasa kecerdasan, dan seterusnya.

Jokowi adalah nama, pula adalah kosa kata baru dalam kepemimpinan nasional bahkan internasional, yang bermakna “peretas batas atau jarak dan status sosial” – antara pemimpin dan rakyatnya.

Kehadirannya di tengah gempuran kabut asap dan kumpulan masyarakat kecil lebih bermakna daripada seribu kata-kata kepeduliaan yang menggema dari podium di ruang ber-AC Senayan.*** (Sumber : www.kompasiana.com/babomoggi, Foto Feature: JawaPos.Com)

 

Tentang Penulis: Giorgio Babo Moggi

Gambar Gravatar
Menulis adalah cara untuk mengekspresikan pendapat atau pikiran tanpa terbelenggu.